Daily Archives: October 22, 2012

cerita seks sex Bonus Mandi Di Sumur Tua

cerita seks sex Bonus Mandi Di Sumur Tua

Saya Aidit kembali akan lanjutkan cerita saya sebelumnya yang berjudul “Bonus Belajar Bersama”, karena banyaknya teman-teman yang tertarik dan menanyakan mengenai kelanjutan hubungan saya dengan si “Sari”.

Berhubung Karena banyaknya teman-teman yang penasaran ingin mengetahui hubungan saya dengan Sari lebih jauh setelah peristiwa di di atas selembar papan pada malam itu, maka demi mengobati rasa penasaran teman-teman, tak ada salahnya saya ceritakan, sebab memang hubungan saya dengan Sari tidak berakhir sampai di situ, melainkan justru meningkat. Entah berapa kali saya berusaha untuk melakukan hubungan badan dengan Sari, namun selalu gagal.

Saya dan si Sari sudah saling memahami dan satu rahasia. Karenanya, selaku manusia normal yang masih muda tentu saja tidak aneh jika kami memiliki keinginan untuk mengulangi peristiwa dahsyat yang luar biasa kenikmatannya itu. Kecenderungan seperti itu adalah fitrah bagi setiap manusai, di mana selalu ingin merasakan kembali suatu kenikmatan yang telah dialaminya, meskipun kesannya tentu jauh berbeda dengan yang pertama kali.

*****

Singkat cerita, sekitar 4 hari dari kejadian yang pertama itu, kami kembali sepakat sewaktu berjalan bersama pada saat kami pulang dari sekolah untuk bangun lebih pagi lagi dan kami sepakat ketemu di sumur jam 4.00 wita. Namun, Sari nampaknya tepat waktu, ia tiba di sumur tua di tengah-tengah sawah yang pernah saya sebutkan dalam episod cerita saya yang lalu, sementara saya tiba di sumur itu jam 4.30 subuh hari itu karena agak terlambat bangunnya. Maklum saya tidur larut malam setelah tukar pikiran di pos ronda bersama para tukan ronda di kampung saya malam itu.

Awalnya Sari memang agak kesal menunggu lama, bahkan ia telah selesai mandi, namun masih mencuci beberapa lembar pakaiannya yang sebenarnya belum terlalu kotor dan tidak direncanakan akan dicuci, tapi hanya sekedar alasan kalau-kalau ada warga yang kebetulan mendapatinya sedang menunggu di sumur itu. Tentu saja sebelum ia mengeluarkan kata-kata kesalnya, saya segera mengucapkan permintaan maaf atas keterlambatan saya.

“Mengucapkan maaf itu memang mudah, tapi saya ini selain kedinginan juga malu kalau-kalau ada orang lain melihat saya sendirian di sumur pada subuh hari,” katanya setelah saya minta maaf padanya.

Untuk mengobati kekesalannya Sari itu, tanpa aba-aba saya langsung memeluknya dan mengecup sedikit pipinya, dalam hati saya biar ia merasa lebih hangat. Saya tentu lebih berani melakukan hal itu, karena saya sudah yakin ia pasti senang dan tidak bakal menolak sebab kami telah melakukan di rumahnya lebih dari sekedar memeluk tubuhnya yang langsing itu. Ia pun pasrah tanpa reaksi apa-apa merasakan hangatnya pelukan saya itu, mungkin dia masih agak malu-malu membalas pelukanku, maklum sikap seperti itu sudah merupakan fitrah bagi setiap wanita, apalagi dia masih gadis. Pelukan saya itu tidak berlangsung lama karena dia nampaknya agak minder, sehingga tidak berani memberikan reaksi yang sama.

Setelah saya lepaskan pelukan itu, dia pun beranjak duduk di pebukitan pinggir sumur dan saya segera menuju sumur buat mandi dan langsung melepas semua pakaian saya tanpa selembarpun tersisa di badan saya, lalu menyiramkan air ke seluruh tubuh saya tanpa peduli bahwa secara diam-diam si Sari terus memperhatikanku. Sikap Sari itu sebenarnya saya sadari, tapi saya pura-pura tidak memperhatikannya dan membiarkan saja menikmati pemandangan yang ada pada tubuhku, lagi pula kan kami sudah saling mencintai dan tidak mustahil juga dia merindukan untuk kembali menikmati peristiwa di atas selembar papan di rumahnya itu.

Ketika saya sedang mandi, nampaknya diam-diam ia memperhatikanku, maka saya sengaja menggocok-gocok penis saya dengan sabun agak lama tanpa menoleh sedikitpun padanya, biar ia puas memandanginya tanpa perasaan malu dari saya. Saking asiknya dia memandangi alat vitalku yang saya gocok terus itu, sehingga tanpa kami sadari ternyata di belakang Sari ada wanita setengah baya berdiri memperhatikan sikap kami berdua sejak tadi, bahkan ikut menyaksikan dan menikmati tontonan menarik yang saya peragakan di tepi sumur itu. Ternyata yang berdiri itu adalah Mamanya Sari (tak perlu saya sebutkan namanya) yang menyusul anak pertamanya itu ke sumur karena takut terjadi apa-apa pada diri Sari. Apalagi baru kali ini Sari terlalu pagi ke sumur dan agak kelamaan pulangnya, sehingga tentu saja sebagai orang tua yang menyayangi anaknya ia segera saja menyusulnya.

Belakangan baru saya ketahui bahwa Mamanya Sari itu belum pernah menyaksikan secara jelas sebelumnya pemandangan seperti yang saya peragakan di pinggir sumur itu, bukan hanya aksi saya tapi juga barang berharga yang tergantung di selangkangan saya, sebab ternyata setiap ia bersetubuh dengan suaminya selalu dalam keadaan tertutup pakaian tanpa ada rangsangan pendahuluan, dan itupun dilakukannya rata-rata pada tengah malam setelah anak-anaknya diyakini pada tidur nyenyak semua.

Ketika saya sadar bahwa Mamanya Sari sejak tadi berdiri menyaksikan sikap kami, saya segera meraih sarung yang letaknya tidak jauh dari tempat saya berdiri, lalu segera membalutkan ke tubuh saya yang bugil itu, dan berusaha secepatnya pergi meninggalkan Sari yang berdiri bersama Mamanya sekitar 2 meter dari pinggir sumur itu. Saya sama sekali tidak mampu mengeluarkan suara sedikitpun, mulut saya tiba-tiba seolah terkunci dan demikian pula halnya si Sari yang hanya berdiri agak gemetaran di samping Mamanya itu.. Ia tak mampu melangkahkan kaki, apalagi berbicara.

Ketika saya bergegas pulang dan melangkah sekitar 7 m dari tempat Sari dan Mamanya berdiri, tiba-tiba.

“Aidit.., koe jolo iko..! (sini dulu kamu..!)” demikian bentakan Mama si Sari pada saya dalam bahasa daerah kami.

Suaranya lantang, keras dan runcing sekali membuatku tersentak dan takut sekali jika ia marah dan melaporkan kejadian ini pada suaminya, orang tuaku, warga kampung dan.. Pokoknya rasa takutku luar biasa pada waktu itu melebihi rasa takutku pada orang tuaku sendiri ketika beliau marah padaku. Suaranya keras bagaikan petir dan seteron yang menyengat sekujur tubuhku. Mukanya merah kehitaman seperti orang habis dipukul dan ingin balas dendam.

Tanpa suara sedikitpun, saya pelan-pelan mendekatinya dan pasrah menerima segala hukuman yang akan dijatuhkan atas sikap kami berdua tadi, yang kurang senono menurut pandangan masyarakat di kampungku.

“Tongentongeng pada ikotu massifa olok-oloko, asu..! (Kalian ini betul-betul bersifat binatang, anjing..!)”.

Kata ibunya Sari lebih lanjut setelah saya berada sekitar 2 m di depannya sambil menunjuk muka saya.
“Addampengakka puang, tappasalaka kasi, (maafkan kami bu, kami khilaf)”.

Begitulah kata-kata saya di depannya dengan bahasa daerah yang sama sambil sedikit berbungkuk sebagai tanda kesopanan dan penghargaan saya padanya.

“Maupe’ko tu ia bawang mitako, tania tahu laingnge, magani kira-kira nakko engka tahu lain mitako atau missengngi gaunu nye, apalagi bafa’nu, naulle kafang nauno manekko” peringatannya lebih lanjut seolah menasehatiku.
Maksudnya bahwa “Untung hanya saya yang melihatmu atau mengetahuimu, tidak ada orang lain, kira-kira apa jadinya jika ada orang lain yang melihat dan mengetahuimu, apalagi bapakmu, mungkin ia membunuh kalian”.

Suara dan warna mukanya mulai sedikit normal. Setelah itu, saya disuruh pulang dengan cepat agar saya tidak terlambat ke sekolah, apalagi sudah mulai berdatangan warga untuk ambil air di sumur itu yang menunjukkan bahwa hari sudah mulai siang, nampak pula matahari di ufuk Timur memancarkan sinarnya. Saya sedikit lega karena kemarahan Mamanya Sari agak menurun, bahkan nampaknya ia dapat merahasiakannya dan tidak memberi ancaman hukuman apa-apa pada kami. Sayapun segera berlari pulang hingga sampai di rumah, sedang Sari berjalan bersama Mamanya.

“Dit.., kenapa kamu terlambat pulang dari sumur nak, cepat-cepatlah, nanti kamu terlambat di sekolah, sehingga kamu dimarahi oleh gurumu)”.

Hanya itulah kata-kata Mamaku dari dapur setelah saya tiba di rumah dengan menggunakan bahasa daerah.

“Terlalu banyak orang mau ambil air di sumur, sehingga terpaksa kita antri” hanya itu jawaban saya pada Mamaku sedikit berbohong.

Lalu tanpa sempat sarapan pagi, saya langsung meraih buku pelajaranku dan segera pamit meninggalkan rumah sambil sedikit berlari tanpa menunggu lagi Sari, agar aku tidak terlalu ketinggalan mengikuti materi pelajaran jam pertama di sekolah.

Sesampai di sekolah, sayapun langsung masuk ke kelasku dan duduk di tempat yang biasanya saya duduki karena memang sedang kosong.

“Kenapa kamu terlambat, dari pasar lagi yeah?” tanya ketua kelasku yang kebetulan duduk berdampingan denganku.
Mendengar pertanyaan temanku itu, saya lalu menjawab dengan sedikit berbohong, “Yah, tapi kan belum juga kita belajar”.

Kebetulan saya dengan ketua kelasku sangat akrab, sehingga ia tak tega melaporkan hal ini pada guru, apalagi dia pun juga sering terlambat jika hari pasar. Kebetulan jarak antara sekolah kami dengan pasar kecamatan hanya sekitar 100 m. Mendengar ucapan saya itu, spontan terdengar suara tawa dari beberapa teman yang duduk di sekitarku. Ternyata saya yang ditertawakan karena baru saya tahu kalau pelajaran pertama hari itu baru saja selesai sekitar 3 m yang lalu setelah ketua kelasku menunjukkan jam tangan yang dikenakannya, ternyata sudah jam 9.00. Mereka semua pada menunggu guru yang akan mengajar pada jam kedua.

Untung keterlambatanku tidak ada yang berani melaporkannya pada kepala sekolah atau pada guru lainnya, apalagi antara saya dengan ketua kelas sudah saling pengertian, boleh dikata satu rahasia. Walaupun saya dengan tenang mengikuti materi-materi pelajaran pada hari itu hingga akhir pelajaran, namun pikiran saya tak pernah terkonsentrasi pada materi, melainkan pikiran saya selalu tertuju pada peristiwa di sumur tadi pagi. Yang selalu menghantui saya adalah apakah perbuatan saya dengan Sari tadi tidak akan diketahui orang lain kecuali Mamanya si Sari saja? akankah hal ini tidak sampai dilaporkan dan diketahui bapaknya Sari? dan apakah Sari masih mau dan masih dibiarkan jalan bersama dengan saya seperti pada hari-hari sebelumnya? Hanya itulah yang selalu membayangi pikiranku dalam perjalanan pulang dari sekolah.

Hari itu saya berjalan sendirian pulang dan tidak berusaha menunggu si Sari dari sekolahnya seperti pada hari-hari sebelumnya, sebab mungkin ia malu ketemu saya setelah ia dimarahi oleh Mamanya di depan saya ketika di sumur itu atau dilarang oleh Mamanya pergi ke sekolah, apalagi ketemu dan berjalan bersama dengan saya, serta berbagai macam dugaan pertanyaan yang muncul di pikiran saya mengenai keadaan Sari setelah kejadian tadi subuh itu di sumur. Hingga saya tiba di rumah, pikiran saya tidak pernah konsentrasi pada pelajaran di sekolah, keadaan di perjalanan dan makanan yang ada di rumah, bahkan selera makanku tiba-tiba berkurang setelah sebelumnya saya selalu makan dengan nikmat sekali akibat jauhnya perjalanan yang saya tempuh pulang balik antara rumah dan sekolah saya.

Sudah 3 hari setelah kejadian itu saya tidak ketemu Sari, hingga pada hari keempat dari kejadian itu, saya penasaran ingin ketemu Sari untuk menanyakan keadaan dirinya yang sebenarnya setelah kejadian itu, sehingga saya coba bangun agak lebih awal dari biasanya agar bisa saya ketemu di sumur seperti biasanya siapa tahu dia selalu ke sumur lebih pagi. Pagi itu, saya tiba di sumur itu kurang 3 m jam 4.00 subuh menunggu kedatangan Sari. Tapi hingga jam 4.15 m ia belum juga datang. Dalam hati saya mungkin ia selalu datang ke sumur agak terlambat dari biasanya. Karena itu, walaupun saya selesai mandi, namun saya berniat mencoba menunggunya sampai jam 4.30, jika ia tidak datang juga, saya harus pulang biar besoknya lagi saya coba ke sumur agak terlambat lagi, siapa tahu bisa ketemu.

Baru saja saya mau duduk di pebukitan di sekitar sumur itu untuk menunggu datangnya Sari, tiba-tiba terdengar suara tidak jauh dari belakangku.

“Kamu Aidit, apa yang kamu tunggu di situ, kamu tunggu lagi Sari yah, kamu mau peraktekkan lagi, betul-betul kamu tidak kapok yah”.

Kagetnya aku bukan main setelah mendengar suara itu dengan bahasa daerah tulen, ternyata datangnya dari Mamanya Sari. Belum saya sempat bicara dan menjawab pertanyaan Mamanya Sari itu, tiba-tiba ia memegang bahu kiriku dan menyatakan (semua kata-kata yang diucapkan Mamanya Sari selalu dengan bahasa daerah Bugis, tapi saya tak perlu mengutip semuanya dalam cerita ini).

“Sejak saya ketahui perbuatanmu dengan Sari waktu itu, saya melarang lagi Sari bertemu denganmu, apalagi bergaul/bersamamu, jadi sabar saja sebab terlanjut kuketahui perbuatanmu, untung saja saya tidak lapor sama bapaknya”.

Itulah kata-kata yang disampaikan Mamanya Sari pada saya ketika ketemu di sumur itu. Hati kecilku berkata ternyata betul dugaanku, Sari dilarang lagi oleh Mamanya bergaul dan jalan bersama denganku. Bahkan baru kali itu saya tahu dari Mamanya Sari jika Sari (anaknya) tidak pernah masuk sekolah dan tak pernah lagi ke sumur itu, karena Mamanya melarangnya kecuali ditemani oleh Mamanya atau adiknya. Mungkin karena rasa malu atau jengkel sama Mamanya sehingga Sari mandi dan mencuci di sumur lain yang tidak terlalu jauh dari rumahnya, meskipun airnya kurang bagus dan sering kering. Si Sari menurut Mamanya selalu murung dan lebih banyak dalam kamar dengan alasan sakit, sehingga ia dan suaminya tidak mau memaksa anaknya itu ke sekolah, meskipun Mamanya sendiri tahu jika hal itu hanya alasan semata, tapi tetap ia memaklumi perasaannya.

Setelah Mamanya Sari mengutarakan keadaan Sari pada saya dengan suara agak lembut dari sebelumnya, iapun lalu berkata.

“Sebenarnya saya tidak melarang kamu dit, bermain-main seperti yang kamu lakukan tempo hari di sumur ini, tapi jangan di depan anak saya Sari, sebab ia masih anak gadis yang tidak tahu apa-apa, nanti urusan sekolahnya terganggu. Jika kamu benar-benar mau begitu, kan banyak perempuan lain yang menyukai hal seperti itu. Saya sendiri sudah tua, tapi masih senang dengan hal seperti itu. Suamiku tidak pernah memperlihatkan penisnya pada saya seperti yang pernah kamu perlihatkan pada anakku Sari di sumur ini. Padahal sudah lama saya ingin sekali melihat secara jelas, tapi tak pernah ia mau dan saya pun tak pernah meminta ia telanjang bulat sebab saya malu dan takut meminta atau menyuruh ia lakukan di depanku. Nanti ia menyangka aku ini macam-macam atau hiper sex”.

Alangkah bahagianya dan mengherankan saya ketika mendengar kata-kata polos dari Mamanya Sari itu. Apalagi ketika ia berterus terang pada saya bahwa,
“Saya pun sebenarnya tidak pernah berani dan diminta oleh suami saya untuk telanjang bulat di depannya sekalipun kami sudah mau kerjakan perbuatan itu yakni bersetubuh atau bersenggama. Kalau suamiku mau menggauliku, ia tak pernah banyak bicara, banyak tingkah dan tak pernah meremas-remas tetekku atau vaginaku. Ia langsung saja bangun, lalu duduk, lalu mengangkat sedikit sarungku, lalu ia tarik kebawah rok dan celanaku. Pada saat seperti itu, saya sudah ngerti maunya, lalu saya renggangkan sedikit kedua pahaku, kutarik sedikit kedua bibir kemaluanku, lalu ia masukkan penisnya, sebab sebelum bangun biasanya penisnya sudah berdiri lalu bangun langsung mengangkangiku. Kedua tangannya ditellakkan di samping kiri kanan sebagai penyanggah, lalu ia dorong bolak balik penisnya hingga amblas seluruhnya.”

Mamanya Sari cerita panjang lebar padaku, katanya, “Ketika suami saya sudah masukkan penisnya ke dalam vagina saya, saya hanya membantu menggerak-gerakkan pinggul saya supaya amblas seluruhnya, jika perlu dengan biji plernya sekalian biar lebih nikmat rasanya ha.. Ha. Saya rasanya bahkan takut dan malu mengajak lebih dulu senggama meskipun sebenarnya saya sudah ingin sekali. Apalagi telanjang bulat tanpa permintaannya. Jadi hingga keluar sperma dari penisnya, tak pernah sama sekali merobah posisi atau gerakannya. Tak pernah ia mencium susu, pipi, bibir, kemaluan atau kelentitku seperti yang sering saya dengar dalam cerita orang-orang yang biasa nonton film porno dari vCD”. Cerita Mamanya Sari pada saya dekat sumur yang merangsang saya.

Cerita terus terang dan panjang lebar itu, mungkin disengaja oleh Mamanya Sari karena ada maksud lainnya pada saya, tapi yang jelas ia kelihatannya agak kesal atas kepasifan suaminya dalam bersetubuh, sehingga ia seolah-olah ingin menikmati lebih daripada itu, misalnya dirangsang lebih dahulu atau diperlihatkan segala alat vital suaminya, seperti yang ia lihat pada saya tempo hari. Ia nampanya ada keinginan praktekkan cerita porno yang sering ia dengar dari teman pergaulannya, sebab ia sendiri belum pernah menyaksikan langsung adegan sex dalam film atau membaca cerita porno. Ia hanya dengar dari orang lain bahwa banyak posisi dan model gerakan sex yang dapat dilakukan dan rasanya lebih nikmat dari pada posisi biasa yang ia kenal dan sering lakukan.

Setelah membeberkan pengalamannya dengan suaminya, Mamanya Saripun berbegas ke sumur untuk mandi sambil berkata,
“Tunggu saya dulu yah, nanti kita sama-sama pulang” ucapannya sambil berjalan ke pinggir sumur.
Spontan saja belum sampai di tempat cucian pinggir sumur, ia sudah buka sarung dan bajunya, sehingga dari belakang saya sempat melihat kait BH-nya dan CDnya yang warna kuning.
“Dasar perempuan penasaran” (dalam kati saya).
Sesaat setelah itu, ia sudah bugil, sebab memang ia tidak pakai rok dan baju dalam, namun kali ini baru terlihat dari belakang. Tapi berselang beberapa detik saja, ia sudah menyiram seluruh tubuhnya yang polos itu dengan air. Saya sempat terperangah dan tersentak sejenak ketika ia berbalik ke arah saya, apalagi saya berdiri tak jauh dari tempatnya mandi, sehingga susu dan putingnya yang menantang serta gundukan yang ada di selengkangannya terlihat dengan jelas sekali.

Jantung saya berdebar ingin menyaksikan pemandangan itu lebih lama, bahkan memegangnya sekalian, tapi ada rasa malu dan takut dalam hati saya, sehingga saya mencoba untuk terus terpaku di situ. Susu dan putingnya yang tidak jauh beda dengan milik Sari, mungkin karena baru dua anaknya yang pernah mengisap dan itupun sudah lama sekali, sementara bapaknya memegangpun jarang, apalagi menjilatinya, sehingga wajar jika masih indah, montok dan menantang. Hanya yang kurang wajar bagi saya adalah gundukan yang ada di selangkangannya, ternyata bersih, agak mengkilap seolah belum pernah melahirkan, bahkan tak satupun bulu-bulu yang tumbuh di atasnya. Padahal menurut perkiraan saya usianya sudah di atas 40 th. Umumnya orang mengatakan bahwa rata-rata kemaluan orangtua setengah baya ditumbuhi bulu yang agak lebat, sedang kemaluan Mamanya Sari justru gundul dan tidak ada bekas dicukur.

Keadaan alat sensitif Mamanya Sari saya ketahui setelah ia tiba-tiba memanggilku, “Dit, ke sini dulu, bantu saya gosokkan dengan sabun pada bokong saya sebab tangan saya tak sampai.”

Dia memanggilku sambil sedikit melambaikan tangannya ke arah saya. Tentu saja walaupun diselingi rasa takut bercampur malu, tapi sebagai pria normal yang pernah dan ingin menikmati keindahan tubuh wanita, saya harus lebih memberanikan diri dan membuang jauh-jauh rasa takut dan malu agar kesempatan emas ini dapat saya nikmati. Segera saja saya lebih dekat dan meraih sabun dari tangannya, lalu pelan tapi pasti saya coba sentuh bokongnya dan menggosoknya dengan sabun sampai bersih. Dalam hati kecil saya sudah yakin jika Mamanya Sari justru mau menikmati barang saya yang telah disaksikan tempo hari, apalagi setelah saya kaitkan dengan ceritanya tadi dengan suaminya yang seolah kurang puas bersetubuh dengannya, maka tidak ada lagi rencana lain kecuali ingin menjadikan aku sebagai pemuas nafsunya.

Setelah beberapa menit saya gosok-gosokkan tangan saya di daerah belakan, kini tiba-tiba ia berbalik menghadap ke arah saya sehingga tanpa sengaja tangan saya bersentuhan sedikit dengan payudaranya. Iapun kelihatannya merinding dan merasa nikmat atas sentuhan tangan saya, dan saya langsung.

“Maafkan saya bu, saya tak sengaja” kata saya pada Mamanya Sari saat menyentuh susunya tanpa sengaja.
“Mmm.., Tak apa-apa, jika perlu kamu boleh pegang, remas, cium dan isap putingnya” itulah yang sempat diucapkannya sambil menarik tangan saya ke arah teteknya, sehingga tanpa perintah sayapun memegang dan meremasnya sedikit.

Bahkan kali ini ia telanjangi aku dengan menarik sarung saya ke atas hingga keluar lewat kepalaku, selanjutnya ia tarik celana dalam saya ke bawah hingga lepas, sehingga saya dalam keadaan bugil seperti dirinya. Sungguh luar biasa kenikmatan dan kebahagiaan di subuh hari ini, ternyata impian saya untuk menikmati tubuh Sari jatuh pada tubuh Mamanya yang tak jauh beda bentuk dan segalanya.

Mula-mula berjalan agak pelan dan lembut remasan tangan saya atas kedua payudaranya, namun karena terdengar bisikannya

“Cepat-cepatlah dit.. Nanti ada orang ke sumur ini dan ia mendapati kita, pasti ia bunuh kita, isaplah cepat puting susuku” begitulah kata-katanya sambil menarik kepala saya lebih rapat lagi ke teteknya, bahkan tangannya juga sudah mulai berani memegang dan mengocok penis saya sehingga sayapun merasa kenikmatan.
Napas kami saling buruh, hingga “sstt.. Aaahh.. Mmm.. Nnn.. Ohh.. ” itulah suara yang terdengar dari mulutnya di kesunyian subuh itu menambah indahnya untaian burunhg di atas pohon yang sudah mulai ramai kedengaran karena memang sudah menjelang pagi.

Saya merasa tak lama lagi para warga akan berdatangan mengambil air di sumur itu, sehingga kami tambah mempercepat aksinya. Tanpa ia minta dan perintahkan, saya segera menurunkan kepala ke selangkangannya ingin juga rasanya menikmati vaginanya yang bersih, indah, gundul dan montok itu lewat mulut saya.

Sesaat setelah itu, maka saya dengan cepatnya pun menjulurkan lidah saya ke lubangnya setelah saya sedikit membuka kedua bibir kemaluannya dengan kedua tangan saya setelah merenggangkan kedua pahanya karena ia masih dalam keadaan berdiri. Setelah terasa lidahku masuk ke lubang vaginanya, maka saya gerak-gerakkan biar dia menikmatinya dan tidak penasaran lagi seperti ceritanya tadi. Ternyata tindakanku itu tidak sia-sia sebab nampak dari rintihannya, ia sungguh menikmati gesekan kiri kanan atas bawah maju mundur lidah saya. Mungkin karena saking nikmatnya, maka ia tak tahan berdiri, ia segera jongkok, lalu mencari tempat duduk di atas batu yang ada dibibir sumur, sehingga saya lebih leluasa menjilati vagina dan kelentitnya, kadang saya gigit-gigit kecil sehingga pinggulnya maju mundur tanpa disengaja.

Setelah saya puas menjilati vagina dan kelentitnya serta saya yakin ia betul-betul puas menikmatinya, saya pun coba angkat pantatnya dan menurunkannya ke lantai tempat cucian sumur karena sejak tadi saya ingin sekali menembus vaginanya dengan penis saya. Baru saya berlutut di antara kedua pahanya yang berdiri, ia tiba-tiba jongkok sehingga kelihatan warna lubang vaginanya yang agak kemerahan yang di tengahnya tertancap suatu daging menumpang kecil dan bulat.

Ia segera meraih penis saya, lalu dikulumnya secara keras dan cepat seolah ingin memuaskan aku lebih cepat, apalagi kicauan burung sudah lebih ramai kedengaran sebagai tanda bahwa hari sudah menjelang pagi. Tak lama lagi warga akan berdatangan ke sumur itu, maka tak lama kemudian iapun segera mengakhiri kulumannya pada penis saya, lalu berbaring di lantai cucian dan menyanggah kepalanya dengan batu yang ada di pinggir sumur, lalu merenggangkan sedikit kedua pahanya, sebagai isyarat saya harus cepat-cepat memasukkan penis saya ke vaginanya yang dari tadi

Sesudah itu, sayapun segera berlutut di antara kedua pahanya, lalu sedikit demi sedikit mendorong penis saya kedepan hingga ujungnya terasa tertancap pada salah satu lubang yang menang menganga dan menunggu kehadirannya. Pada mulanya terasa agak sulit masuknya, sehingga sejenak ujungnya bertahan pada lubang bagian luar vaginanya, namun setelah berkali-kali saya gerakkan, ke kiri, ke kanan, maju, mundur, akhirnya amblas juga. Mulailah aku maju mundur dan gerakkan dengan cepat penis saya, sehingga kedengaran bunyi.

“Blak.. Blakk.. Decak.. Decik.. ” seirama dengan kicauan burung di atas pohon.

Mamanya Sari hanya bisa mendesis seperti seekor ular yang mau mematuk, “sstt, ahh, mm.. Eeenakknya, ceepat dit” begitulah suaranya yang bisa keluar dari mulutnya hingga saya membalikkan tubuhnya dan saya tinggal di bawah. Iapun mengerti apa keinginan saya, dan langsung saja ia naik turunkan pinggulnya seperti orang naik motor di atas jalanan yang penuh dengan batu besar.

Kami secara bersamaan mengeluarkan suara-suara yang tidak pernah berobah, “Aaahh.. Mmm.. Ssstt.. Aduuhh.. Ennaakk” begitulah berkali-kali suara kami.

Akhirnya tanpa aba-aba dan komentar, terasa ia mengejang-ngejang dan kepalanya kelihatan mulai kekiri dan kekanan, hingga ia menindis aku lebih keras dan menggigit bibirku agak keras serta merangkulku sebagai tanda ia telah mencapai puncak kenikmatan atau orgasme. Sedang saya baru terasa mulai berjalan keujung penis saya, sehingga saya harus tetap menarik dan mendorong pinggulnya agar penis saya tetap amblas dalam vaginanya. Bahkan ketika terasa cairan hangan mulai memaksa keluar, saya kembali merangkul erat, dan mengisap bibir serta menggigitnya juga, sehingga sperma saya keluar dalam keadaan penis saya tertancap di vaginanya atau memuntahkan dalam vaginanya. Dalam hati saya tidak ada masalah, sebab ia sudah muncrat duluan, sehingga pembuahan atau kehamilan kemungkiannya kecil, karena tidak bersamaan.

Mamanya Sari betul-betul menikmati permainan saya ini, karena saya dapat merasakan isyarat dari eratnya rangkulannya seolah tidak membiarkan aku menarik penisku keluar dan nampaknya ia ingin sekali menikmati puncaknya persetubuhan denganku. Karena itu, aku tidak tega memaksakan kehendak menarik penis saya keluar tanpa seizinnya, sehingga kami tetap berpelukan beberapa menit walaupun kami sama-sama telah mencapai puncaknya.

Setelah beberapa menit kami sama-sama merasakan puncak kenikmatan, tanpa banyak basa basi dan menunggu terlalu lama lagi, kamipun segera bangkit dan sama-sama mandi kembali tanpa harus pakai sabun lagi. Lalu kamipun meninggalkan sumur itu, setelah kedengaran dari jauh mulai ada suara manusia yang makin lama makin dekat. Mungkin suara warga yang akan mengambil air di sumur itu. Tentu saja kami tidak jalan bareng, sebab takut orang yang melihat kami salah sangka, meskipun sangkaan mereka benar adanya. Yach dasar akal busuk manusia yang telah melakukan pelanggaran. Kami memilih jalanan yang berbeda dan menghindar berpapasan dengan orang yang datang ke sumur itu.

Sebelum kami betul-betul terpisah, saya sempat berkata, “Terima kasih Bu atas pertolongannya padaku, baru kali ini saya merasakan kenikmatan yang sebenarnya”.
Mendengar ucapan terima kasihku itu, iapun bergegas berkata, “Terimah kasihku lebih besar lagi, karena walaupun saya sudah beberapa kali melakukan senggama dengan suamiku, tapi belum pernah saya rasakan kenikmatan sepertri ini, maukah kamu membantuku lagi atau memuaskanku lagi? Kalau perlu kita harus selalu pagi-pagi ke sumur siapa tahu kita dapat kesempatan melakukannya lagi, nikmat sekali khan, mau khan Aidit?”. Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan Mamanya Sari padaku di pagi itu sebelum kami berpisah.

Tentu saja kami saling senang dan meng-iyakan bahkan saling mencium pipi sebagai tanda kasih sayang, apalagi kami telah saling memberikan kepuasakan yang luar biasa, yang tidak berbeda nikmatnya sewaktu saya bersetubuh dengan Sari anaknya sendiri di bawa meja, hanya kesannya yang berbeda. Sebab satu dilakukan di bawah meja dan satu lagi dilakukan di lantai cucian sumur. Betul-betul kenikmtana di balik lantau cucian sumur tua.

*****

Kisah saya bersama Mamanya Sari ini masih terus berlanjut, bukan sampai di situ, tapi selain di Lantai Cucian sumur tua di tengah sawah itu, juga kami beberapa kali melakukannya di rumahnya ketika suaminya tidak ada di rumah, bahkan pernah kami lakukan di depan ranjang tempat tidurnya ketika suaminya dalam keadaan tidur nyenyak di atas ranjangnya, sehingga mudah-mudahan di kesempatan lain, saya dapat menyambung lagi kisah nyata ini dengan peristiwa kami yang lebih seru, berkesan dan dapat merangsang teman-teman Ok…

cerita seks sex Wanita Hamil Penggoda

cerita seks sex Wanita Hamil Penggoda

Saya adalah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di selatan Jakarta. Salam kenal untuk warga situs 17tahun. Awal cerita saya dimulai saat saya menghadiri sebuah acara pemberian penghargaan, di sana saya datang bersama teman saya, sebut saja Hamdan. Saya diperkenalkan oleh teman saya kepada salah satu tamu yang hadir di acara tersebut, dan ternyata setelah dipertegas, nama tamu tersebut adalah DB. Yang belakangan saya ketahui dia adalah salah satu artis Indonesia. Singkat cerita, malam itu berlalu begitu saja.

Seminggu setelah perkenalan tersebut, saya ditawari untuk menggarap proyek perayaan Hari Ulang Tahun oleh teman yang mengenalkan saya dengan DB, memang bidang saya adalah entertaiment. Teman saya yang mengenalkan saya namanya Shebi. Singkat kata, saya terima proyek yang diberikan oleh Shebi. Dan ternyata yang punya kerjaan itu adalah DB, untuk perayaan ulang tahunnya yang ke 34.

Saya pun dipertemukan oleh Shebi dengan DB di rumah DB yang terlihat cukup megah. Saya dan Shebi menunggu DB yang sedang mandi di ruang keluarga. Di sana saya ngobrol cukup banyak dengan Shebi (yang perlu pembaca ketahui, Shebi sedang hamil 7 bulan). Obrolan berlangsung santai dan sampai menyerempet ke masalah kehidupan seks Shebi, ternyata Shebi yang memiliki tinggi 170 cm, ukuran BH 38, dan m size ini memiliki libido seks yang cukup tinggi. Shebi pun mulai merapatkan posisi duduknya mendekati saya (karena kami duduk di atas sofa yang sama/sofa panjang).

“Dra.. coba kamu pegang perutku, sepertinya jabang bayiku ini ingin berkenalan denganmu deh..!” kata Shebi.
“Ah kamu bisa saja Sheb..!” kata saya yang belum tahu arti sinyal dari Shebi itu.
“Kalau nggak percaya, coba saja kamu pegang perutku ini..!” ujar Shebi yang kali ini memaksa tangan saya untuk memegang perutnya yang sudah terlihat buncit.
Dan benar, sepertinya ada yang bergerak-gerak dari dalam perutnya.
“Dra.. kamu pernah ngerasain begituan dengan orang hamil..?” ujar Shebi yang membuat saya kaget.
“Mmm.. mm, belum tuh Sheb..””Memangnya enak apa rasanya..?” tanya saya keheranan.
“Wah endang loh rasanya..”
“Itu kuketahui dari suami dan brondong-brondongku..” ujar Shebi yang membuat saya tersentak tambah kaget.
“Mmm.. begitu..” kata saya agak sedikit sok tenang, meskipun tegangan tubuh sudah agak naik.
“Kok jawabannya cuma segitu, apa kamu nggak mau nyobain..?” ucap Shebi yang sedikit kesal karena tanggapan saya hanya sebatas itu, sedang posisi kami sudah semakin dekat.

Shebi menarik sedikit ke atas long dress yang dikenakannya, dan terlihat paha mulus yang sedikit memperlihatkan timbunan lemak di sisi-sisinya dan sedikit CD hitam. Saya pun terdiam sejenak, lalu saya pegang kepala dan menatapnya serta meyakinkannya.
“Sheb.., bukannya aku tidak ingin mencoba tawaran yang spektakuler ini, tetapi kamu harus lihat kita ini dimana..? Tetapi bila kamu tawari aku di posisi yang tepat, tentulah aku tak akan menolak..!” kata saya mencoba menenangkan suasana yang semakin panas itu.

Saya sadar bahwa kami datang ke tempatnya DB dalam rangka suatu kerjaan, dan aku termasuk orang yang menjunjung tinggi profesionalisme.
“Aku tau apa yang kamu khawatirkan Dra..” balas Shebi sambil menutup bibir saya dengan jari telunjuknya.
“Kau harus tau bahwa DB itu penganut seks bebas, dan tentu doi tak akan marah kalau kita bercinta di sini, dan lagi pula di sini tidak ada orang lain selain DB..” kata Shebi mencoba meyakinkan saya sambil perlahan mengangkat kaos yang saya pakai ke atas, dan jarinya bermain di atas puting saya sambil memainkan lidahnya sendiri membasahi bibirnya yang sudah basah.

Mendengar perkataannya yang meyakinkan dan juga ditambah dengan perlakuannya yang mencoba merangsang birahi saya, saya semakin yakin akan situasi yang ada. Saya pun mulai berani untuk meraba dada Shebi yang besar tanpa membuka pakaian yang melekat di tubuhnya. Shebi pun bertambah liar dengan menyusupkan tangannya mencari batang kemaluan saya yang sudah menegang sejak tadi. Sambil memilin putingnya tanpa membuka pakaiannya, tangan kiri saya pun bergerak ke bawah sambil membiarkan tangan kanan saya untuk tetap berada di atas dan Shebi pun mendesah.

Sampai di tempat yang saya tuju, tangan kiri saya pun meraba dari luar CD Shebi, dan terasa ada yang basah dan lengket di sana. Lalu bibir kami pun saling mendekat dan terjadi perciuman yang cukup lama. Kami pun terlihat sudah semakin berkeringat. Kemudian tangan yang berada di daerah sensitif Shebi pun sepertinya mulai aktif melorotkan CD hitam Shebi, dan saya merasakan sentuhan bulu-bulu lebat yang sepertinya tertata rapih. Shebi pun telah sukses mengeluarkan senjata kemaluan saya dan mengocok-ngocoknya perlahan. Saya yang merasa penasaran ingin melihat kemaluan orang hamil, lalu menghentikan ciuman kami dan turun ke arah kemaluan Shebi yang duduk di sofa. Ternyata tebakan saya benar, liang kemaluan Shebi yang lebat ternyata benar-benar tertata rapih. Saya pun mulai tergiur untuk merasakan bibir kewanitaan itu dengan mulai mejilatinya secara lembut.

“Achh.., achh.. kamu pintar Dra..! Truuss.. Draa..!” Shebi pun terlihat sudah tidak dapat mengontrol ucapan dan intensitas suaranya.
Shebi meluruskan tubuhnya di atas sofa sambil mengocok senjata kemaluan saya. Mendapat perlawanan yang demikian nafsunya, saya pun merubah posisi menjadi 69. Saya di bawah dan Shebi di atas. Ternyata benar kata orang, kemaluan orang yang sedang hamil itu gurih rasanya.

15 menit berlalu dalam posisi 69.
“Dra.. please..! Masukin sekarang Say..!” pinta Shebi yang sudah tidak kuasa lagi menahan gejolak nafsunya.
Mendengar itu saya tidak langsung menuruti, tetapi saya tetap saja mengigit, menjilat, meludahi liang kewanitaannya, terutama klitoris-nya yang sudah mengkilap karena basah.
“Dra.., kamu jahat..!” teriak Shebi diikuti dengan melelehnya air kemaluan Shebi yang cukup banyak dari liang senggama Shebi, yang menandakan Shebi sudah mencapai orgasmenya. Saya jilat habis cairan kental yang keluar itu sampai tidak tersisa. Senjata kejantanan saya yang terhenti bergerak itu dikulum oleh Shebi. Karena orgasmenya, Shebi mengulum kemaluan saya hingga menjadi merah. Lalu dengan bantuan tangan, saya masukkan kembali senjata saya itu ke dalam mulut Shebi sambil menaik-turunkan di dalam mulutnya.

“Aawww..!” saya berteriak karena batang kemaluan saya tergigit Shebi, “Kamu nakal ya..?” kata saya sambil menarik batang kejantanan saya dari mulutnya, lalu mengarahkannya ke vagina Shebi.
Saya tidak langsung memasukkannya, tetapi memainkannya terlebih dulu di bibir vaginanya sampai Shebi sendiri yang memajukan pantatnya agar batang kemaluan saya dapat langsung masuk, tetapi tetap saja saya tahan agar tidak masuk.
“Dra.., kamu jahat..!” ujar Shebi kesal.
“Habis kamu duluan yang mulai..!” jawab saya.

Tanpa kami sadari, ternyata pertempuran kami dari tadi sudah ada yang mengawasi, yaitu DB yang entah dari kapan dia sudah ada di dekat kami dengan mengunakan daster tanpa BH. Pemandangan itu kami ketahui karena daster DB sudah ada di bawah kakinya. Karena saya merasa sudah tidak tahan, akhirnya saya mulai memasukkan penis saya perlahan tapi pasti ke liang senggama Shebi. Memang awalnya sulit, tetapi karena Shebi minta untuk terus dipaksa, ya akhirnya masuk juga.

“Achh.. achh..!” teriak Shebi dengan wajah memerah entah karena nafsu atau karena sakit.
Ternyata liang kemaluan orang yang sedang hamil itu lebih hangat dibandingkan kemaluan wanita normal. Karena sempit dan hangatnya liang senggama Shebi, membuat saya tidak dapat bertahan lama, meskipun goyangan Shebi tidak terlalu “hot”, tetapi tetap saja rasanya lebih asyik dari liang kemaluan wanita yang tidak hamil.
“Sheb.. aku mau keluar..!” kata saya ditengah-tengah nikmatnya persetubuhan kami.
“Aku.. keluarkan di mana Say..?” tanya saya menambahkan.
“Terserah kau saja Dra..!” jawab Shebi yang ternyata juga sudah orgasme kembali.

Akhirnya karena lebih enak, saya keluarkan cairan panas itu di dalam vaginanya, “Cret.. cret.. cret..!” mungkin sampai tujuh kali air mani saya tersembur di dalam liang senggama Shebi.
“Ohh.., ternyata kalian di sini sudah nyolong start ya..?” ujar DB yang membuka pembicaraan.
“Abis kita udah nggak tahan Mba..!” jawab Shebi.
“Trus gimana proyek ultah-ku..?” tanya DB sambil memakai dasternya kembali yang tadi dilepaskan ke bawah, karena DB dari tadi menyaksikan pergulatan kami sambil bermasturbasi.
“Kalau masalah itu tenang, di sini sudah ada ahlinya, tinggal kucuran dananya saja, konsepnya sudah Indra susun kok..!” jawab Shebi sambil menahan saya untuk mengeluarkan penis saya dari liang senggamanya.
“Ooo.., ok aku percaya..” kata DB, “Tapi biar Indra istirahat dong..! Masa kamu monopoli sendiri itu batang..!” jawab DB sambil mengambil wine yang ada di mini bar, lalu duduk di sana, memperhatikan kami yang akhirnya mengambil pakaian kami masing-masing.

“Dra.., kamu besok bisa ambil dananya di sini..” kata DB.
“Lo nggak mau nyobain punyanya Indra..?” celetuk Shebi, “Ntar nyesel..?” tambahnya.
“Jangan sekarang deh, abis tanggung, sebentar lagi Bapak mau jemput gue..” jawab DB.
“Ooo..” jawab Shebi yang sepertinya mengetahui bahwa DB kalau main itu tidak cukup kalau hanya 3 atau 4 ronde saja.

“Ya sudah, kami pamit dulu deh kalau gitu, biar besok si Indra saja yang datang ke sini sendiri..” kata Shebi.
Saya yang dari tadi diam saja hanya manggut tanda setuju untuk datang lagi esok.
“Tapi besok kamu datangnya malam saja ya..!” pinta DB.
“Ooo.., sekalian kamu cobain ya..?” pancing Shebi sambil tersenyum.
“Apa kamu mau ikutan Sheb..?” tanya DB.
“Nggak ah, abis main sama lo harus lama, gue takut kandungan gue bermasalah lagi.””Kalau dokter gue bilang nggak apa-apa sich gue ok aja, tapi kalau kebanyakan digenjot nanti bocor lagi..!” kata Shebi sambil tertawa.
“Ya udah ngga pa-pa, tapi kamu pasti datang kan Dra..?” tanya DB.
“Ya..” jawab saya singkat.
“Ya sudah kita cabut ya..?” ujar Shebi ke DB.
“Ya, ok lah..”
“Bye, Dra jangan lupa ya atau kontrak kita batal nich..!” sambil mencubit dagu saya.

Begitulah kisah saya dengan Shebi, pembaca tunggu saja kisah saya dengan DB, artis ibu kota yang terkenal sampai sekarang masih singgle di edisi selanjutnya. Terima kasih atas perhatian rekan pembaca sekalian.

cerita seks sex Desah Selingkuhmu

cerita seks sex Desah Selingkuhmu

Perkenalkan namaku Andi, kejadian ini terjadi sebelum aku menikah dan berkeluarga, dulu aku tinggal di kota P di bilangan Jakarta Pusat, di belakang rumahku tinggal keluarga M. Sebenarnya dia masih ada famili jauh, tapi hubungan saudaraku hanya dengan bapaknya yang sepupu dari ibuku, sedangkan Iis adalah anak yang dibawa dari istri Omku M karena dia menikahi janda teteh I dari daerah bogor.

Saat aku masih dibangku SMP hingga SMA aku suka main dirumahnya, dan karena pengaruh dari buku-buku porno dan juga film BF aku mulai berani memegang-megang bagian sensitif dari tubuh Iis, keluarga M tidak curiga karena aku masih mereka anggap saudara atau keponakan walau jauh. Dulu sering saat dia sedang menyapu aku peluk dari belakang dan meraba-raba payudaranya atau saat aku menginap aku meremas-remas tangan dan mengelus pahanya, Iis masih lugu saat itu dan hanya respon birahi yang dia berikan tanpa dia mengerti harus bagaimana saat itu, akupun sering beronani dan membayangkan seandainya aku bersetubuh dengannya.

3 tahun berlalu, dan kini aku bekerja diperusahaan export import, Iis pun menikah dengan W pria yang juga masih tetangganya di kota P. W adalah pria yang berpenghasilan dengan menjadi tukang ojek. Aku sudah tidak tinggal di kota P, tapi kost di daerah T yang masih dalam wilayah Jakarta juga, hal ini agar dekat dengan tempat aku bekerja. Saat itu aku sedang dinas luar, dan karena kebetulan lewat daerah P, maka aku sempatkan mampir kerumah Om M untuk sekedar beristirahat sebentar, ternyata Om M sedang kerja dan teteh I sedang menunggu warung nasinya, yang ada hanya adik Om M yang tuna rungu atau bisu. Saat itu pernikahan Iis baru 1 tahun, saat aku datang dia sedang menonton sinetron di televisi dan mengenak daster tanpa lengan.

“Hai Is.. Apa kabar?” sapaku.
“Eh Andi.. Lama ngga keliatan, ayo masuk.. Tumben, ada apa nih?” sahutnya lembut.
“Kebetulan aku lewat sini jadi sekalian mampir” jawabku.

Dia membuka lemari es dan memberikanku segelas air dingin, setengah jam kemudian dari mulutnya meluncur cerita tentang W sang suami, dulu suaminya itu tukang jajan ke tempat prostitusi dan jika berhubungan intimpun hanya sebentar.. Kadang penisnyapun tidak mau ereksi. Aku mendengarkan ceritanya dengan santai, dan akhirnya dia mengatakan soal aku dan dia dulu yang membuat jantungku berdegup keras.

“Jadi ingat dulu ya di? Saat kita masih..”

Kujentikkan jariku dimulutnya agar tidak meneruskan kalimatnya dan secara spontan kuremas jemari tangannya, dan kulumat bibirnya dengan penuh bernafsu serta kupeluk tubuhnya erat. Iis melenguh tanda birahinya juga mulai memuncak.

“Arghh.. Di.. Ohh..”

Peniskupun sudah sangat tegang seakan akan loncat dari tempatnya dibalik celana panjang kerjaku. Kini kuarahkan lidahku ke lehernya, kemudian turun kebelahan dadanya, isis makin mendesah hebat dan reflek tangannya membuka reluiting celanaku dan mencari penisku yang sudah menegang keras. Dikocoknya penisku lembut dan perlahan, rasa nikmat menjalar diseluruh tubuhku. Kubuka tali dasternya dan kini Iis hanya mengenakan bra dan celana dalamnya saja..

Sedangkan jari jemari Iis mulai melepas kemejaku, dan dengan lihai dia melepas celana panjangku, ku buka bra yang menutupi payudaranya yang masih terhitung kencang karena Iis belum mempunyai anak, kujilati dan kuremas pelan kedua bukit indahnya itu..

“Shh.. Andi.. Oh.. Andi.. Sayanng.. Enaak.. Ahh” desahannya membuat libidoku makin meninggi dan meledak-ledak.
“Ka.. Mu.. Sek.. Si iss.. Ssh..” ucapku terputus-putus karena gelegak birahi yang meletup-letup.

Rasa penasaranku pada saat aku masih duduk dibangku dibangku sekolah harus kutuntaskan, toh dia kini sudah ada yang punya, pikirku. Aku tak membuang banyak waktu, kulepaskan celana dalamnya yang berwarna putih dan kulepaskan juga celana dalamku, hingga penisku kini berdiri tegang bebas dan siap menuju lubang surgawi milik Iis..

Kuarahkan mulutku keliang vaginanya.. Lalu mulai kujilati vaginanya yang sudah basah karena dia sudah mengalami birahi yangs angat tinggi, dan sesekali kuhisap itilnya yang kemerahan.

“Uff.. Andi.. Ka.. Mu apakan me.. Mek iiss.. Akh.. Bang W tidak per.. Nah lakukan ini.. Ouh.. Ssh.. Arghh”

Iis mulai meracau, mungkin suaminya karena dulunya sering jajan diluar makanya jarang atau bahkan tidak mengerti apa itu foreplay. Kesempatan.. bathinku..

Jilatanku makin menggila dan Iis mengoyangkan pinggulnya kekiri dan kekanan pertanda dia sudah lupa diri dan lupa segala-galanya bahwa kini statusnya adalah istri W.

“Ohh.. Andii.. Iis.. Ga tahaan.. Masukiin doong.. Pleasee.. Ahh.. Masukin kontolmu di.. Ahh..”

Kulihat Iis sudah tidak sabar lagi untuk menggapai orgasme dan membuka vaginanya lebar-lebar dengan melebarkan kedua kakinya.. Kuhujamkan penisku ke memeknya yang sudah basah.. Lebih mudah bagi penisku dan langsung masuk kedalam vaginanya..

“Oughh.. Arghh.. Ohh.. Kontol Andi enak.. Ahh.. Coba da.. Ri du.. Lu ann.. Ohh”

Iis meracau tak karuan, kugenjot penisku keluar masuk liang surgawinya dan lambat laun makin cepat dan cepat, sehingga menimbulakn suara “Plokk.. Plok..” diseluruh ruangan..30menit berlalu kuhujamkan penisku kedalam liang surgawinya, tiba-tiba.. Memeknya menjepit keras penisku dan dia memmeluk erat serta menggigit putingku.. Rupanya dia sebentar lagi akan orgasme.. Kupacu penisku lebih cepat dan tubuhnya menggelepar-gelepar karena nikmat.

“Andii.. Iis ke.. Lu.. Arr..”
“Iya.. Sayang.. Aku juga.. Sebeenn.. Tar lagii” ucapku menderu..

Karena penisku juga sudah mengeras dan berdenyut-denyut siap memuntahkan laharnya..

“Iiss.. Ohh.. Aku.. Juga.. Ke.. Luarr..”.

Tubuhku ambruk didadanya, dengan tubuh berkeringat kuelus payudaranya dan kucium bibirnya..

“Is.. Barang kamu enak..”..
“Barang kamu juga di.. Ahh..” sahut Iis lemas tak berdaya.

Tanpa kami sadari ada sepasang mata mengawasi dari tadi, bahkan mungkin dari awal, kulirik ruangan sebelah yang hanya tertutup tirai, kulihat disebelahku Iis sudah tertidur pulas karena kelelahan, kuhampiri orang yang mengintipku sejak tadi, ternyata dia adalah adik omku M yang bisu, tanpa sehelai benangpun kuhampiri dia, adik omku ini bertubuh agak gemuk dan kulitnya agak kecoklatan, dia hanya menatap penisku yang kini sudah mulai kembali tegang. Kutunjuk dengan jari kearah penisku dengan maksud apakah dia menginginkan ini juga seeprti yang dilihatnya tadi.

Kuraih tangannya untuk memegang penisku, tangannya gemetar karena aku tahu pasti dia belum pernah disentuh laki-laki apalagi diraba, aku takut ada orang lain lagi yang datang dan ada mata lain yang menangkap basah perbuatanku ini, maka segera kubuka bajunya dan seluruh pakaian dalamnya, kusedot dan kuhisap payudaranya dan kumasukkan jariku ke dalam vaginannya..

“Uhh.. Mphh.. Shh” Mbak M mulai keenakan karena mungkin dia sudah horny dari tadi melihat adeganku dengan Iis, kuhujamkan penisku agak keras kelubangnya yang masih virgin alias perawan, kututup mulutnya agar tidak berteriak atau mengeluarkan suara keras, hingga membangunkan Iis atau terdengar oleh yang lain.

Kugenjot makin cepat dan cepat, Mbak M kusuruh menungging dan tangannya berpegangan pada bibir ranjang, kugenjot penisku keluar masuk, tiba-tiba dia berbalik lalu denga ganasnya memegang penisku untuk dimasukkannya ke memeknya dari depan lalu mengajakku jatuh keranjangnya, kugenjot lagi dia dengan posisi normal seperti yang dia inginkan..

“Mph.. Argh.. Uhh.. Ah.. Akhh” karena bisu dia tidak bsia mengatakan akan orgasme atau keluar, maka dia memeluk erat dan menggigit leherku lalu terkulai lemas dengan mata terpejam, aku harus orgasme juga dengannya, pikirku..

Tidak perduli dia sudah terkulai lemas dan memejamkan mata, kugenjot dia cepat dan penisku mulai berdenyut-denyut agak lama kini aku mengalami orgasme, karena sepengetahuanku, jika pada permainan kedua laki-laki akan mempunyai daya tahan yang agak lama. Nafasku mulai membur dan sambil kugenjot memek Mbak M yang sudah basah itu kucumbui bibirnya walaupun Mbak M tidak merespon atau mungkin tidak tahu bagaimana cara berciuman.

“ssh.. Mbak.. Aku mau munn.. Cratt.. Arghh” kutumpahkan spermaku didalam liang vaginanya yang hangat..

Ahh.. Nikmat sekali istirahatku siang ini.. Kukenakan pakaianku dan kubangunkan Iis untuk berpamitan, sambil kubisikkan padanya.

“Lain kali kita ketemu diluar ya?” Iis hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman.

Setelah kejadian itu aku dan Iis beberapa kali bertemu di hotel dan mengulang serta mereguk dahaga akan seks diantara kami berdua, sampai akhirnya setahun aku tidak bertemu dengannya lagi. Kudengar kini Iis sudah mempunyai seorang anak dari pernikahannya dengan W.

Entah kenapa sejak pagi ini aku terus memikirkan Iis, rasa rindu untuk bersetubuh lagi dengannya begitu kuat dan menggebu, hingga akhirnya kuberanikan diri kembali untuk datang ke rumahnya siang ini disela waktu kerjaku. Kuketuk pintu beberapa kali, seperti biasa rumah itu terlihat lengang dan sepi. Agak lama aku menunggu di muka pintu sampai akhirnya pintu terbuka dan yang membukakannya adalah Imah adik Iis, perlu juga aku ceritakan bahwa Omku MJ menikah dengan seorang wanita ynag sudah menjanda 2 kali yaitu teteh I dan dia membawa 2 orang anak yaitu Iis dan Imah dan keduanya berlainan bapak.

“Eh Kak andi, sudah lama nggak ketemu.. Masuk Kak,” ucap Imah seraya membuka pintu.

Suasana rumah persis seperti dulu aku datang lenggang dan sepi.

“Pada ke mana Mah?” ucapku basa-basi.
“Mama jaga warung, Papa kerja..” jawab Imah, “Engg.. Kalo Kak Iis?” tanyaku lagi cepat.
“Kak Iis sudah nggak tinggal disini, dia ngontrak dengan Om W di kota T,” lanjutnya.

Ada rasa kecewa dihatiku karena segala hasrat dan pikiran kotorku sejak pagi ini tidak kesampaian. Imah adalah gadis yang beranjak dewasa, tubuhnya ramping dan agak kecil. Tapi kulitnya benar-benar putih mulus dan bibirnya merah merekah yang membuat lelaki manapun akan gemas melihatnya. Saat itu Imah hanya mengenakan kaos you can see/kaos tanpa lengan dan celana pendek olahraga yang sangat pendek dan minim. Sempat aku menelan ludah melihat pahanya yang mulus dan menantang itu, tapi aku berusahan sebisa mungkin menahan gejolak nafsu yang sejak pagi ini begitu menggebu.

“Imah masih sekolah ya?” tanyaku untuk menghilangkan kegalauan.
“Ihh.. Enak aja, makanya Kak Andi sering-sering main dong ke sini, sekarang Imah sudah kerja tauu..” ucapnya dengan gaya manja.
“Oh ya? Wah nona Imah yang cantik ini sudah besar rupanya ya?” lanjutku.

Kulihat Imah tersipu malu, terlihat dari wajah putihnya yang merona merah. Entah keberanian dari mana, tiba-tiba kata-kata ini meluncur dari mulutku, “Imah.. Sekarang kamu bener-bener cantik dan sexy deh..” ucapku sambil menelan ludah.
“Ihh.. Kak Andi gombal ah..” balasnya seraya tertawa renyah dan mencubit pahaku.
“Ehh… Berani nyubit Kak Andi ya? Sakit tau..” jawabku sambil pura-pura menunjukkan rona muka kesakitan.

Kukejar dia yang mencoba menghindar dan berlari kecil dariku. Tiba-tiba Imah terjatuh di karpet ruang tamu karena tersandung pinggiran sofa, akupun tidak kehabisan akal, kuikuti dia dan ikut pula pura-pura terjatuh dan menindih tubuhnya yang telentang di karpet ruang tamu. Tubuhku merapat dengan tubuhnya, dadanya yang tidak terlalu besar tapi sexy itu naik turun seakan menahan gejolak, bagi gadis remaja yang mulai beranjak dewasa itu.

Kupandangi mata dan bibirnya yang merakah itu, spontan saja kubelai lembut rambut dan keningnya, tidak ada gerakan penolakan darinya.. Bahkan ketika kucium bibirnya dan melumatnya dengan penuh bernafsu.. Imah tidak menolak, bahkan melayani pagutan demipagutan bibirku. Lidah kami slaing mnejelajah dan nafas kami berdua mulai tak teratur, dan terdengar menderu terpacu birahi. Tanganku bergerilya dibalik kaosnya, dengan lihai kubuka ikatan tali bra miliknya yang menutupi kedua buah dadanya.

Terasa detak jantung Imah berdegup keras, mungkin dia belum pernah diperlukan seperti ini oleh lelaki ataupun pacar-pacarnya dulu. Kuangkat kaosnya sebagian keatas, hingga kini buah dadanya terlihat jelas dipelupuk mataku, sambil terus kupagut bibirnya, kuremas lembut payudaranya dari bawah sampai puncak putingnya. Imah menggelinjang hebat dan mulai mendesah hebat sambil memejamkan matanya..

“Ahh.. Kak.. Ann.. Ouhh” desahnya membuat libidoku makin meninggi.

Lalu lidahku turun kelehernya.. Kebelahan dadanya.. Dan akhirnya kujilati dan kusedot teteknya yang mulai mengeras.

“Arghh.. Kakk.. Ughh.. Mphh..” Imah mendesah penuh nimat, sambil terus kujilat dan kusedot putingnya, kubuka celana pendeknya, hingga Imah hanya mengenakan celana dalamnya saja yang berwarna biru. Kuraba permukaan vaginanya yang masih tetutup CD, kuremas-remas pelan dan kusodok-sodok dengan jari jemariku yang lihai menggerayangi mekynya.

“Uhh.. Kak.. An.. Di.. Ahh.. Aduhh.. Kak.. Kok. Gi.. Ni sih ahh.. E.. Nakk.. Ohh..” Imah sudah mulai meracau tak kuasa menahan nikmat yang menghinggapi sekujur tubuhnya. Kubuka celana panjangku dan kutuntun tangannya untuk menggengam penisku., kugerakkan tanganya agar membuat gerakan mengocok penisku yang sudah begitu snagat tegang dan tak sabar ingin meraih kenikmatan.

Kulepaskan celana dalamnya, yang tertinggal kini hanya mey-nya yang ditumbuhi bulu-bulu halus dipermukaannya. Kuarah lidahku ke liang kewanitaannya, Imah terhenyak kaget dan matanya terbelalak, karena seumur hidup dia belum pernah diperlakukan seperti ini padanya.

“Kakk.., Uhh.. Ge.. Lii.. Ahh.. Kak.. Andi.. Mphh.. Geli.. Uohh.. Enak.. Me.. Mek Imah.. Ahh..” racau Imah tidak karuan, memeknya mulai basah pertanda birahinya sudah sangat memuncak. Kuarahkan penisku keliang vaginanya, sempit dan tertahan sesuatu..

“Kakk.. Arghh.. Sa.. Kiit.. Imah.. Takut Kak..” ujarnya terputus-putus antara sakit dan nimat.
“Takut apa Mah?” ucapku masih dengan nafas menderu.
“Imah takut hamil kakak..” ujarnya lagi.
“Kalau hanya sesekali tidak akan hamil Mah..” rayuku karena nafsuku sudah begitu membludak, diotakku hanya berkata bahwa hari ini aku harus mereguk kepuasan dari gadis ramping dan mulus ini.
“Ja.. Ngan disini Kak.. Imah takt.. Nan.. Ti ada orang..” nafasnya masih tak teratur.
“Jadi Imah mau kita ke hotel? Emangnya Imah nggak kerja?” lanjutku.
Imah menggeleng, “Imah lagi off Kak..” karena dia bekerja sebagai SPG di sebuah mall makanya liburnya justru pada saat hari kerja.

Kupacu motorku kedaerah menteng, dan kucari hotel yang bertaraf sedang, tidak terlalu mewah tapi cukup untuk berdua tuntaskan hasrat, dalam hati aku tertawa, gila.. Dulu hotel ini kupakai bersama Iis, kini dengan Imah adiknya walau mereka berasal dari dua bapak yang berbeda. Kuparkir motorku dan bergegas menuju resepsionis, agak tergesa memang, karena nafsuku yang sempat membludak tadi menjadi tertunda.

Sesampai dikamar hotel kulumat rakus bibirnya dan smabil dengan posisi berdiri kami tanggalkan semua pakaian yang melekat ditubuh kami. Bagai dua orang yang sangat haus dan lapar akan seks, kami berdua saling bercumbu dan berguling diranjang hotel yang empuk, kini Imah benar-benar meluapkan nafsunya karena sudah tidak ada lagi rasa khawatir di didrinya akna ada orang yang melihat. Kujilati tetenya yang mengeras dan kusedot putingnya membuat Imah mendesah dan meracau sejadi-jadinya.

“Kakaak An.. dii ahh.. Teruuss.. Terussiin kaka.. Auhh.. Imahh enakk nihh..” Imah menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan benar-benar kewalahan akan seks dan kenikmatan yang baru direguknya.

Kujilati memeknya yang basah oleh cairan, kujelajahi liang surgawinya dengan lidahku dan sesekali menghisap dan menggigit kecil klitorisnya, tubuhnya menggelepar.. Tanganya meremas rambutku dan Imah menggigit bibirnya saking nikmatnya. 10 menit berlalu dan jilatanku pada memeknya makin liar dan menjadi-jadi. Tiba-tiba tubuhnya mengejang, tangannya mencengkram rambutku begitu kuat, setengah histeris Imahh berteriak dan mendesis..

“Ahh.. Kaa.. Imaahh.. Ke.. Luarr.. Ahh..”

Lalu semenit kemudian tubuhnya lunglai dan terkulai lemas diranjang. Kubiarkan Imah menikamti orgasmenya.. Kujilati tetenya dan sesekali kuciumi bibirnya, sampai akhirnya libidonya kembali bangkit. Kuarahkan penisku kemulutnya, Imah sempat menggelemg tidak mau melakukannya.

“Imah belum.. Pernah Kak..” ucapnya pelan.
Aku tersenyum dan berkata, “Pelan-pelan Mah.. Kak Andi ajari..”

Pertama Imah mengoral penisku terasa giginya mengenai batang penisku dan membuat ngilu, tapi 5 menit kemudian dia sudah lihai dan benar-benar pandai mengocok penisku dimulutnya.. Penisku makin mengeras dan Imah makin ketagihan dan makin cepat mengocok penisku didalam mulutnya, aku mengerang penuh nikmat..

“Arghh.. Imah.. Oh.. Ka.. Mu pintarr.. Sayaang.. Ohh.. Iya teruss.. Enaak..” racauku.

Kukeluarkan penisku dari mulutnya, lalu kuarahkan pada vagina yang sudah licin setelah orgasmenya yang pertama tadi, kini penisku setengah masuk ke memeknya..

“Ouh.. Maasih.. Sa.. Kit Kak..”. ucap Imah denga wajah meringis..

Kutarik keluar pelan-pelan.. Lalu kuhujamkan lagi lembut, makin lama penisku makin terbenam kedalam liang memeknya yang sempit.. Dan ketika kurasa tinggal sedikit lagi kutekan agak keras..

“Ahh.. Kakk.. Imah setengah menjerit”

Karena kaget ketika seluruh penisku amblas didalam liangnya. Kumaju mundurkan pantatku, dan terdengar suara decakan dari liang surgawinya, kugoyang sedikit penisku sehingga membuat memek Imah berdenyut-denyut.

“Ahh.. Kakakk.. Enaak.. Kak.. Benerr.. Dehh.. Uhh.. Teruss.. Imah.. Inginn.. Ini.. Teruss.. Ahh,” racau Imah lagi.

Kugenjot makin cepat.. Cepat dan cepat..

“Imahh.. Ohh.. Memekmu sempit mah.. Uhh.. Nikmatt” desahku ke enakan..
“Kak andi.. Ihh.. Kok ginii sihh.. Enakk bangett.. Ahh.. Imahh nggak tahaan nih.. Kakk..” Imah mendesah hebat.

Genjotan penisku di liang memeknya makin menggila dan kurasakan penisku mulai berdenyut-denyut siap memuntahkan sprema. Tubuh Imah bergetar dan mengejang hebat..

“Kakk.. Ahh.. Teruss.. Dikiit lagi.. Imahh mau.. Keluarr lagii.. Ouhh,” desah Imah panjang mengiringi orgasmenya.

Akupun ingin tuntaskan permainanku dan mencapai orgasme.. Aku menggeram hebat dan nafasku makin menderu..

“Aku.. Ju.. Ga.. Ma.. Uu.. Keluarr Mahh.. Arhh”

Tubuhku terkulai lemas diatas tubuhnya, kami bersimbah peluh dan saling tersenyum penuh nikmat. Kamipun melakukannya lagi dan benar-benar memuaskan dahaga seks kami berdua hingga siang berganti malam.

cerita seks sex Perjakaku Buat Rita

cerita seks sex Perjakaku Buat Rita

Malam minggu itu jam 21:15.. aku ketinggalan kereta di stasiun bogor, tapi aku hrs ke jakarta, ada urusan kerjaan yang harus diselesaikan malam itu juga buat senin pagi. Aku tidak bisa nginep di rumah orang tuaku malam itu. Akhirnya aku ke terminal bis dan akan naik bis ke uki baru nanti nyambung lagi taxi ke rawamangun, kostku di sana.. Dengan naik angkot sekali aku dah sampai di terminal, aku lihat bis ke uki masih ngetem.. aku naik, masih kosong.. cuma ada 2 org bapak2 di bangku depan. Aku memilih bangku deretan ketiga dari depan yang sebelah kiri bis.

lama juga menunggu tapi penumpang yang naik baru 6-7 org.. itupun duduk di bagian tengah.. penjual makanan sudah beberapa kali naik-turun, tak lama.. seorang ibu2 muda naik dan dia duduk dideretan kedua bangku sebelah kanan, pas naik sepertinya dia sempat merilirik aku lalu duduk, tukang gorengan naik lagi, dipanggilnya.. dan sambil memilih dan mengambil gorengan dia sempat melirik lagi ke aku.. hmh.. lumayan.. ga tua2 amat.. cantik dan bersih lagi.. aku senyum ! dia nawarin gorengan ke aku.. aku ngangguk pelan, malu juga tar kl ketauan penumpang lain kalau kami saling memberi kode.

Bis masih ngetem.. sesekali dia melihat ke aku, dari matanya.. sepertinya dia minta aku duduk di sampingnya.. aku cuma bisa senyumin dia, aku ga enak, malu.. aku belum pernah kenalan sama cewek di bis.. memang aku sudah 27 tahun (3 tahun yang lalu), sudah bekerja tapi untuk urusan sex aku masih hijau, aku memang sering petting dan oralsex sama mantan pacarku dulu, tapi sejak putus dengan Dian 4 bulan yang lalu aku ga pernah kencan dengan siapapun, tapi kami ga pernah lebih jauh dari itu, dan sekarang aku jomblo.
satu-satu penumpang mulai mengisi bangku kosong, dan disebelah mba itu juga dah diisi 2 org laki-laki. sesekali.. sambil pura2 melihat keluar jendela bis, mba itu meneruskan pandangannya ke aku dan matakupun tidak lepas melihat dia.. hmh.. pengen ada disebelahnya.. mana hujan mulai turun saat bis mulai berjalan dingin.. !
Dalam perjalanan dia masih sering curi2 pandang.. pikiranku mulai menerawang membayangkan sebuah cerita romantis dengannya, membuat si “dd” mulai bangun, ahh.. tak terasa bis sudah sampai pintu tol TMII, pasti sebentar lagi akan sampai di UKI.

“uki abiss… uki abiss..” teriak kenek bis. Penumpang siap2 berdiri untuk turun, mba itu juga.. sambil melirik ke arahku dan aku senyumin dia, di bawah jempatan penyeberangan uki dia berdiri, aku coba deketi. “maaf mba.. mau kemana ? naik apa ?”
“pasar minggu, metromini 64 masih ada gak yaa ?” jawabnya.. melihat seperti berharap akupun akan searah.
“waduh.. jam 10:22 lho mba.. ga tau juga yah..'”
“kalo adek mau kemana ?”
“aku mau naik taxi ke rawamangun mba..”
“tapi kalo S64 gak ada.. boleh aku anter mba ke pasar minggu ? jakarta lagi ga aman soalnya mba.. ” tambahku..
“hmh… boleh.. tapi apa ga ngerepotin adek ?” katanya sambil melihat jam tangannya
“ah gapapa mba.. lagian dah malam bgt ni.. kasian kalo mba nunggu lama disini.
“ayuk mba..” kataku sambil nyetop taxi
Kami naik..
“pasar minggu ya pak..” kataku pada sopir
beberapa ratus meter kami masih saling diam.. lalu aku menoleh ke arahnya.. dia senyum..
Ini memang pengalaman pertamaku kenal cewe di bis.. tapi nggak tau kenapa, naluri telah menuntunku untuk bisa lebih dekat dengan mba ini.
“maaf mba.. namaku nino.. aku manggil mba.. ? kataku berbisik.. sambil mendekat ke arahnya, takut ketauan sama sopir kalau kami belum saling kenal
“Rita..” bisiknya lebih dekat ke kupingku
kamipun bersalaman.. tapi sepertinya aku males melepaskan jabatan tanganku, dan dia juga kelihatannya enggan.. jadilah kami pegangan tangan.. Aku duduk lebih mendekat aku genggam tangannya dan kami saling pandang dan senyum, tangan kami saling meremas..
“mba kok sendiri ? dari mana ?”bisikku ke kupingnya, tercium bau parfumnya yg enak banget..
“dari rumah adekku di ciomas, gak taunya kemalaman pulangnya.. kalo kamu dari mana ?” jawabnya, juga berbisik.. hmh.. nafasnya enak..
“dari rumah tadi mba.. tapi ada kerjaan yang harus saya selesaikan malam ini di kost saya.. makanya balik ke jakarta ” balasku berbisik lebih dekat di kupingnya..
dia menggenggam erat tanganku.. memainkan jarinya du telapak tanganku. pikiran yang engga-engga mulai merasuki.. si “dd” tambah bangun, aku lebih mendekat, aku cium kupingnya.. bahunya diangkat, geli deh pasti.. lalu dia menatap mataku..
“kamu kok jadi nakal..?'” katanya dengan pandangan genit..
“abis.. mba yang bikin aku jadi nakal.. mba cantik.. lagian tadi sapa yg suruh liat2 ke aku di bis..” jawabku, sekarang tanganku sudah pindah ke bahu kirinya.
“kamu sih.. sapa suruh ganteng.. pasti pacar kamu cantik yah..?” balesnya berbisik di kupingku.. kali ini dia cium pipiku.. waw.. !!
“aku lagi nggak punya pacar mba” jawabku
Aku tau.. aku lumayan untuk ukuran cowo.. putih, 170/62, dan wajahku lumayan menurutku, tapi Dian mantan pacarku juga pernah bilang kalo aku ganteng.. ah.. ga tau deh..
Wah.. kami sudah hampir sampai di ps minggu.
“mba mau langsung pulang ?” tanyaku.. berharap dia akan bilang tidak
“hmh.. emang kalo engga kita kemana lagi rhin..?” dia menatap mataku
“kalo mba mau.. gimana kalo kita nonton aja ?” kami masih berbisik
“boleh tapi dimana ?”
“kalibata aja yuk !”
dia senyum mengangguk.
“maaf pak.. kita kembali ke kalibata mall saja.. maaf ya pak..” kataku pada sopir taxi. Aku sudah lupa kalau aku harus menyelesaikan pekerjaan malam itu. Taksi berbalik arah ke kalibata mall.

sampai di kalibata21 kami lihat sudah mulai antrian tiket midnite, aku ikut antri.. mba rita aku minta duduk aja nunggu aku. Sampai di depan penjual tiket, aku pilih film.. aku lihat di bangku paling belakang masih ada tempat di pojok yang belum terisi.
“A 1-2 aja mba” pilihku ke mba penjual tiket.. dia melirik, seakan tau niatku, huh.. !
sambil menunggu pintu theater 3 dibuka aku ngobrol sama mba rita.
“maaf mba.. hmh.. mba sudah berkeluarga ?”
“sudah rhin.. tapi suamiku kebetulan lagi keluar kota sejak 3hr yl, mungkin sampai minggu depan, ada urusan kantor katanya”
“oww.. ” aku cuma bengong melihat ke arah mba rita..
Diraihnya tanganku.. aku genggam.. kami saling pandang..
“jangan panggil aku mba lagi yah rhin.. panggil namaku aja.. makasih kamu dah ngajak aku nonton malam ini, soalnya kalopun aku pulang, sepi, males, aku blm punya anak soalnya, lagian ga ada siapa2 di rmh, kami tinggal berdua saja, kadang sesekali ada adikku cowok yg nemenin, tapi kl malam minggu ini, dia pasti ngapel, dan ntar pulang ke rmuah ortu.. gak tau kenapa.. padahal kami dah nikah 8 th” katanya lirih..
Aku remas jemarinya..
Aku membetulkan letak si “dd”, soalnya mulai bangun dan menggeliat, menggelinjang dan keluar jalurnya emang si “dd” nggak panjang2 amat, cuma 15cm/4, tapi setelah selama ini ternyta banyak memberi kepuasan pada wanita. Rita melihat itu.
“hayoo.. kok ada yang bangun..” katanya sambil mencubit lenganku
“iya sayang.. ga tau nih.. tau aja dia kalo aku sama cewe sexy (ups..aku manggil dia sayang ?) eehmm.. aku juga makasih dah bisa kenal sama mba.. eh rita.. kamu cantik rita..” hmh.. mulai gombalku..

Akhirnya pintu theater 3 dibuka.. setelah beli popcorn dan minuman kamipun masuk. SAmapi film main.. deretan kami cuma diisi 6 orang.. yang 2 pasang itupun di lajur kiri, jadi di kanan cuma kami berdua.. sambil ngobrol kami makan popcorn, dan minuman kaleng aku buka. Aku mulai berpikir.. malam ini akhirnya aku kencan juga dengan rita yang cantik.. putih.. dan berkulit bersih.. kami pegangan tangan.. aku peluk dia.. aku cium rambutnya, dan film pun mulai main..

Tapi kami malah asyik saling cium pipi, saling peluk, saling remas jemari, akhirnya.. aku cium bibir merahnya.. kamipun jadi makin liar.. dia isep lidahku dalam.. hmh.. tanganku mulai ke arah dadanya.. aku lepas kancing bluesnya, aku remas teteknya, mm.. gede.. kalo ga salah pasti 36c, masih kenceng bho.. ! Rita mengerang lirih, tangannya mulai mencari pegangan, kontolku.. ! diusap2nya dari luar jeansku.. akhirnya dia lepas zippernya.. dia lepas sabukku.. tangannya masuk mencari kontolku yang dah dari tadi tegak dan keras.. emang si kontolku nggak panjang2 amat, cuma 15cm/4cm, tapi setelah selama ini ternyata kuat dan banyak memberi kepuasan pada wanita, ahhh… lembutnya belaian rita.. membuat makin keras.. tak mau kalah.. aku pelorotin bra-nya rita aku jilat tetek besar itu.. aku gigit2 putingnya, aku isep dan aku sedot, tangan kananku meremas tetek kanannya dari belakang, dan tangan kiriku masuk ke dalam celana rita.. dia mengempiskan perutnya, seakan memberi jalan buat tanganku lebih masuk lagi, memang.. tanganku mulai masuk ke cd rita, dan lebih dalam, hmh.. terasa tak ada jembut, dicukur habis, jariku mulai mencari memeknya yang sudah lembab, ohh.. anget.. aku elus.. aku mainin klitorisnya.. dia melenguh sambil meremas dan mengocok kontolku lebih cepat..

“sayang.. Ahhh… aku mau dimasukin… tapi aku belum pernah” bisikku..
“Aku juga mau yang.. tapi gmn caranya..” jawabnya dengan pandangan sendu..
Aku melihat sekeliling.. pada asyik nonton semua.. lagian yg di deretan kiriku juga kelihatan pada asyik.. aku menatap mata rita.. dia kelihatannya mengerti.
“Rhino sayang.. pliss.. rita minta perjakamu sayang, rita akan lakukan apapun untukmu honey..” rita memohon di kupingku, sambil dijilatinya kuping dan leherku.
Ahh aku tak kuasa untuk menolak tapi juga ragu untuk memulai, aku sangat menginginkannya, tidak ada salahnya, toh rita cantik dan sexy..
Akhirnya aku pelorotin jeansku lalu cdku.. dia senyum.. aku tarik rita ke pangkuanku.. celana dan cdnya aku pelorotin juga.. Diraihnya kontolku yang dah berdiri keras.. ditempel ke memeknya.. dia gesek2.. ahhhhh.. rita sayang.. aku cumbu lehernya.. aku peluk dari belakang.. 2 teteknya aku remas dan aku mainin putingnya.. aku meremas dan mengelus.. dia mualai memasukkan kontolku ke memeknya yang sudah basah..
“aaarrgghhhh…rita sayang.. ennnak…” bisikku..
aku naik turunkan pantatku.. rita juga mulai memberi gerakan yang berlawanan.. ooghhh.. memek rita.. suami orang.. tapi masih saja sempit.. jepitannya membuat aku melayang.. dalam bioskop ini.. kamu saling menggenjot, tidak terlalu bersemangat, karena kami takut ada yang lihat.. gerakan kami saling mengimbangi, desahan kami saling bersahutan,, tapi lirih..dan pelan.. kupingnya aku jilat dan gigit kecil.. membuat rita semakin merintih halus.. mendesah nikmat.. saat dia menggerakkan pantatnya memutar.. kontolku berasa diremas dan dipijet.. aku sodok ke atas.. aku ikutin puteran pantat rita aku cubit2 kecil putingnya.. tangan kiriku mengelus perlahan ke perut rita.. dan terus mencari klitorisnya.. aku tekan-tekan.. aku beri cubitan kecil.. posisi kami memang memungkinkan untuk itu.. rita dipangkuanku.. menghadap kedepan.

“aahh.. rhino honey.. memek rita diapain.. kok enak banget sayang..” desahnya
Semakin liar tapi hening.. semakin bersemangat memberi jepitan dan sodokan.. hanya desahan2 kecil yang ada.. Gila.. sensasi ngentot di bioskop enak banget, takut ketahuan dan kelihatan orang menambah kenikmatan kami.. Apalagi ini penglaman pertamaku. Rita makin cepat menaik turunkan pantatnya, sesekali memutar.. aku juga semakin cepat menusuk memek rita, ahh.. keringat rita di leher aku jilat.. memang dingin di sini, tapi kami berdua basah oleh keringat birahi.
“rhino.. rita mau keluar sayang.. cepat.. kita bareng..”
“iya rita.. aku juga.. ahhhh lebih cepat.. jepit yang kuat sayang”
goyangan pantatku ke memek rita makin cepat, rita juga.. sesekali terdengar bunyi derik tempat duduk kami.. sudah kepalang basah.. kami tak menghiraukan lagi akan takut ketahuan… aku genjot.. rita menjepit.. tangan kananku meremas buah dada besar itu.. tangan rita meremas rambutku.. semakin liar.. semakin cepat..
“aahhh….. ooghhhh…. rrhhhiiiii…. nnoooooo… rriii..taaa.. kellll…rgghh..” desah suara rita tertahan..
“aarrggggggghhhhhhh…….. ouuugghhhhhhh…. ritaaaaaaaaaaaa.. “bales rintihku..
Aku keluar… spermaku muncrat tanpa sempat bertanya keluarin di dalam apa diluar.. croooott….. crroootttt.. ahhh menyemprot ruang2 vagina rita.. dan terasa memeknya membuat kedutan dan jepitan di kontolku… Kami lemas… dan kamipun kembali berciuman.. setelah membersihkan sisa cairan di masing-masing kelamin kami, lalu kami membereskan pakaian. Tak lama filmpun selesai, dan kami tidak tau sama sekali jalan ceritanya.. anda yang tau cerita kami..!

bubarnya film, kamipun keluar.. dan kami sepakat untuk menghabiskan malam itu berdua.. kami naik taxi ke sebuah hotel di daerah pramuka.
Maaf pembaca.. cerita antara saya dan rita di hotel akan saya kirimkan dalam lanjutan kisah kami, dan saya mohon maaf kalau cerita ini kurang membuat anda “bergidik” mohon koreksi dan tanggapannya lewat email saya. Sekarang saya sesekali masih mencari sex partner walaupun saya sudah menikah dan punya seorang anak yg lucu dan cantik tapi pengalaman sex yang tanpa rencana terasa lebih nikmat. Untuk Rita.. terima kasih atas pengalaman indah yang kamu ajarkan padaku.

cerita seks sex Semalam Dengan Atasan

cerita seks sex Semalam Dengan Atasan

Namaku Reni, usia 27 tahun. Kulitku kuning langsat dan rambutku sebahu dengan tinggi 165 cm dan berat 51 kg. Aku telah menikah setahun lebih. Aku berasal dari keluarga Minang yang terpandang. Sekilas wajahku mirip dengan Putri Indonesia 2002 Melani Putria. Bedanya aku telah menikah dan aku lebih tua darinya 2 tahun. Aku bekerja pada sebuah Bank pemerintah yang cukup terkenal.

Suamiku Ikhsan adalah seorang staf pengajar pada sebuah perguruan tinggi swasta di kota Padang. Di samping itu, ia juga memiliki beberapa usaha perbengkelan.

Kami menikah setelah sempat berpacaran kurang lebih 3 tahun.Perjuangan kami cukup berat dalam mempertahankan cinta dan kasih sayang. Di antaranya adalah ketidaksetujuan dari pihak orang tua kami. Sebelumnya aku telah dijodohkan oleh orang tuaku dengan seorang pengusaha.

Bagaimanapun, kami dapat juga melalui semua itu dengan keyakinan yang kuat hingga kami akhirnya bersatu. Kami memutuskan untuk menikah tapi kami sepakat untuk menunda dulu punya anak. Aku dan Bang Ikhsan cukup sibuk sehingga takut nantinya tak dapat mengurus anak.

Kehidupan kami sehari-hari cukup mapan dengan keberhasilan kami memiliki sebuah rumah yang asri di sebuah lingkungan yang elite dan juga memiliki 2 unit mobil sedan keluaran terbaru hasil usaha kami berdua. Begitu juga dalam kehidupan seks tiada masalah di antara kami. Ranjang kami cukup hangat dengan 4-5 kali seminggu kami berhubungan suami istri. Aku memutuskan untuk memakai program KB dulu agar kehamilanku dapat kuatur.

Aku pun rajin merawat kecantikan dan kebugaran tubuhku agar suamiku tidak berpaling dan kehidupan seks kami lancar.

Suatu waktu, atas loyalitas dan prestasi kerjaku yang dinilai bagus, maka pimpinan menunjukku untuk menempati kantor baru di sebuah kabupaten baru yang merupakan sebuah kepulauan. Aku merasa bingung untuk menerimanya dan tidak berani memutuskannya sendiri. Aku harus merundingkannya dulu dengan suamiku. Bagiku naik atau tidaknya statusku sama saja, yang penting bagiku adalah keluarga dan perkawinanku.

Tanpa aku duga, Suamiku ternyata sangat mendorongku agar tidak melepaskan kesempatan ini. Inilah saatnya bagiku untuk meningkatkan kinerjaku yang biasa-biasa saja selama ini, katanya. Aku bahagia sekali. Rupanya suamiku orangnya amat bijaksana dan pengertian. Sayang orang tuaku kurang suka dengan keputusan itu. Begitu juga mertuaku. Bagaimanapun, kegundahan mereka akhirnya dapat diatasi oleh suamiku dengan baik. Bahkan akhirnya mereka pun mendorongku agar maju dan tegar. Suamiku hanya minta agar aku setiap minggu pulang ke Padang agar kami dapat berkumpul. Aku pun setuju dan berterima kasih padanya.

Aku pun pindah ke pulau yang jika ditempuh dengan naik kapal motor dari Padang akan memerlukan waktu selama 5 jam saat cuacanya bagus. Suamiku turut serta mengantarku. Ia menyediakan waktu untuk bersamaku di pulau selama seminggu.

Di pulau itu aku disediakan sebuah rumah dinas lengkap dengan prasarananya kecuali kendaraan. Jarak antara kantor dan rumahku hanya dapat ditempuh dengan naik ojek karena belum adanya angkutan di sana.

Hari pertama kerja aku diantar oleh suamiku dan sorenya dijemput. Suamiku ingin agar aku betah dan dapat secepatnya menyesuaikan diri di pulau ini. Memang prasarananya belum lengkap. Rumah-rumah dinas yang lainnya pun masih banyak yang kosong.

Selama di pulau itu pun suamiku tidak lupa memberiku nafkah batin karena nantinya kami akan bertemu seminggu sekali. Aku pun menyadarinya dan kami pun mereguk kenikmatan badaniah sepuas-puasnya selama suamiku di pulau ini.

Suamiku dalam tempo yang singkat telah dapat berkenalan dengan beberapa tetangga yang jaraknya lumayan jauh. Ia juga mengenal beberapa tukang ojek hingga tanpa kusadari suatu hari ia menjemputku pakai sepeda motor. Rupanya ia meminjamnya dari tukang ojek itu.

Salah satu tukang ojek yang dikenal suamiku adalah Pak Sitorus. Pak Sitorus ini adalah laki-laki berusia 50 tahun. Ia tinggal sendirian dipulau itu sejak istrinya meninggal dan kedua anaknya pergi mencari kerja ke Jakarta.

Laki-laki asal tanah Batak itu harus memenuhi sendiri hidupnya di pulau itu dengan kerja sebagai tukang ojek. Pak Sitorus, yang biasa dipanggil Pak Sitor, orangnya sekilas terlihat kasar dan keras namun jika telah kenal ia cukup baik. Menurut suamiku, yang sempat bicara panjang lebar dengan Pak Sitor, dulunya ia pernah tinggal di Padang yaitu di Muara Padang sebagai buruh pelabuhan. Suatu saat ia ingin mengubah nasibnya dengan berdagang namun bangkrut. Untunglah ia masih punya sepeda motor hingga menjadi tukang ojek.

Hampir tiap akhir pekan aku pulang ke Padang untuk berkumpul dengan suamiku. Yang namanya pasangan muda tentu saja kami tidak melewatkan saat kebersamaan di ranjang. Saat aku pulang, aku menitipkan rumah dinasku pada Pak Sitor karena suamiku bilang ia dapat dipercaya. Akupun mengikuti kata-kata suamiku.

Kadang-kadang aku diberi kabar oleh suamiku bahwa aku tidak usah pulang karena ia yang akan ke pulau. Sering kali suamiku bolak-balik ke pulau hanya karena kangen padaku. Sering kali pula ia memakai sepeda motor Pak Sitor dan memberinya uang lebih.

Suamiku telah menganggap Pak Sitor sebagai sahabatnya karena sesekali saat ia ke pulau, Pak Sitor diajaknya makan ke rumah. Sebaliknya, Pak Sitor pun sering mengajak suamiku jalan-jalan di pantai yang cukup indah itu.

Suamiku sering memberi Pak Sitor uang lebih karena ia akan menjagaku dan rumahku jika aku ditinggal. Sejak saat itu aku pun rutin di antar jemput Pak Sitor jika ke kantor. Tidak jarang ia membawakanku penganan asli pulau itu. Aku pun menerimanya dengan senang hati dan berterima kasih. Kadang aku pun membawakannya oleh-oleh jika aku baru pulang dari Padang.

Setelah beberapa bulan aku tugas di pulau itu dan melalui rutinitas seperti biasanya, suamiku datang dan memberiku kabar bahwa ia akan disekolahkan ke Australia selama 1,5 tahun. Ini merupakan beasiswa untuk menambah pengetahuannya. Aku tahu bea siswa ini merupakan obsesinya sejak lama. Aku menerimanya. Aku pikir demi masa depan dan kebahagiaan kami juga nantinya sehingga tidak masalah bagiku.

Suamiku sebelum berangkat sempat berpesan agar aku jangan segan minta tolong kepada Pak Sitor sebab suamiku telah meninggalkan pesan pada Pak Sitor untuk menjagaku. Suamiku pun menitipkan uang yang harus aku serahkan pada Pak Sitor.

Sejak suamiku di luar negeri, kami sering telpon-teleponan dan kadang aku bermasturbasi bersama suamiku lewat telepon. Itu sering kami lakukan untuk memenuhi libido kami berdua. Akibatnya, tagihan telepon pun meningkat. Bagaimanapun, aku tidak memperdulikannya. Selagi melakukannya dengan suamiku, aku mengkhayalkan suamiku ada dekatku. Tidak masalah jarak kami berjauhan.

Aku mulai jarang pulang ke Padang karena suamiku tidak ada. Paling aku pulang sebulan sekali. Itu pun aku cuma ke rumah orang tuaku. Rumahku di Padang aku titipkan pada saudaraku.

Aku melewatkan hari-hariku di pulau dengan kesibukan seperti biasanya. Begitu juga Pak Sitor rutin mengantar jemputku. Suatu saat ketika aku pulang, Pak Sitor mengajakku untuk jalan-jalan keliling pantai namun aku menolaknya dengan halus. Aku merasa tidak enak. Apa nanti kata teman kantorku jika melihatnya. Kebetulan saat itu pun aku sedang tidak mood sehingga aku merasa lebih tenang di rumah saja. Di rumah aku beres-beres dan berbenah pekerjaan kantor.

Akhir-akhir ini, aku merasakan bahwa Pak Sitor amat memperhatikanku. Tidak jarang ia sore datang sekedar memastikan aku tidak apa-apa sebab di pulau itu ia amat disegani dan berpengaruh.

Aku sadari kadang dalam berboncengan tanpa sengaja dadaku terdorong ke punggung Pak Sitor saat ia menghindari lubang dan saat ia mengerem. Aku maklum, itulah resikonya jika aku berboncengan sepeda motor. Semakin lama, hal seperti itu semakin sering terjadi sehingga akhirnya aku jadi terbiasa. Sesekali aku juga merangkul pinggangnya jika aku duduknya belum pas di atas jok motornya. Aku rasa Pak Sitor pun sempat merasakan kelembutan payudaraku yang bernomer 34b ini. Aku menerima saja kondisi ini sebab di pulau ini mana ada angkutan. Jadi aku harus bisa membiasakan diri dan menjalaninya. Tak bisa membandingkannya dengan di Padang di mana aku terbiasa menyetir sendiri kalau pergi ke kantor.

Pada suatu Jumat sore sehabis jam kerja, Pak Sitor datang kerumahku. Seperti biasanya, ia dengan ramah menyapaku dan menanyakan keadaanku. Ia pun aku persilakan masuk dan duduk di ruang tamu.

Sore itu aku telah selesai mandi dan sedang menonton televisi. Kembali Pak Sitor mengajakku jalan ke pantai. Aku keberatan sebab aku masih agak capai. Lagipula aku agak kesal dengan kesibukan suamiku saat kutelepon tadi. Ia tidak bisa terlalu lama di telpon.

“Kalau gitu, kita main catur saja, Bu… Gimana?” Pak Sitor mencoba mencari alternatif. Kebetulan selama ini ia sering main catur dengan suamiku. Akupun setuju karena aku lagi suntuk. Lumayanlah, untuk menghilangkan kekecewaanku saat ini. Aku pun lalu main catur dengan laki-laki itu. Beberapa kali pula aku mengalahkannya. Taruhannya adalah sebuah botol yang diikat tali lalu dikalungkan ke leher.

Seumur hidupku, baru kali ini aku mau bicara bebas dengan laki-laki selain suamiku dan atasanku. Tidak semua orang dapat bebas berbicara denganku. Aku termasuk tipe orang yang memilih dalam mencari lawan bicara sehingga tidak heran jika aku dicap sombong oleh sebagian orang yang kurang aku kenal. Bagaimanapun, dengan Pak Sitor aku bicara apa adanya, ceplas ceplos. Mungkin karena kami telah saling mengenal dan juga aku merasa membutuhkan tenaganya di pulau ini.

Tanpa terasa, telah lama kami bermain catur hingga jam menunjukan pukul 10 malam. Di luar rupanya telah turun hujan deras diiringi petir yang bersahut-sahutan. Kami pun mengakhiri permainan catur kami. Aku lalu membersihkan mukaku ke belakang.

“Pak, kita ngopi dulu, yuk..? Biar nggak bosan dan ngantuk,” kataku menawarinya.

Di pulau saat itu penduduknya telah pada tidur dan yang terdengar hanya suara hujan dan petir. Setelah menghabiskan kopinya, Pak Sitor minta izin pulang karena hari telah larut. Aku tidak sampai hati sebab cuaca tidak memungkinkan ia pulang. Rumahnya pun cukup jauh. Lagi pula aku kuatir jika nanti ia tersambar petir .

Lalu aku tawarkan agar ia tidur di ruang tamuku saja. Akhirnya ia menerima tawaranku. Aku memberinya sebuah bantal dan selimut karena cuaca sangat dingin saat itu.

Tiba-tiba, lampu mati. Aku sempat kaget, untunglah Pak Sitor punya korek api dan membantuku mencari lampu minyak di ruang tengah. Lampu kami hidupkan. Satu untuk kamarku dan yang satu lagi untuk ruang tamu tempat Pak Sitor tidur.

Aku lalu minta diri untuk lebih dulu tidur sebab aku merasa capai. Aku lalu tidur di kamar sementara di luar hujan turun dengan derasnya seolah pulau ini akan tenggelam.

Aku berusaha untuk tidur namun ternyata tidak bisa. Ada rasa khawatir yang tidak aku ketahui sebab petir berbunyi begitu kerasnya hingga akhirnya aku putuskan ke ruang tamu saja. Hitung-hitung memancing kantuk dengan ngobrol bareng Pak Sitor. Rasa khawatirku jadi berkurang sebab aku merasa ada yang melindungi.

Sesampainya di ruang tamu, aku lihat Pak Sitor masih berbaring namun matanya belum tidur. Ia kaget, disangkanya aku telah tidur. Aku lalu duduk di depannya dan bilang nggak bisa tidur. Ia cuma tersenyum dan bilang mungkin aku ingat suamiku. Padahal saat itu aku masih sebal dengan kelakuan suamiku. Tanpa sengaja kucurahkan kekesalanku. Aku tahu, mestinya aku tidak boleh bilang suasana hatiku saat itu pada Pak Sitor namun entah mengapa kata-kata itu meluncur begitu saja.

Dengan cara bijaksana dan kebapakan ia nasehati aku yang belum merasakan asam garam perkawinan. Dalam suasana temaram cahaya lampu saat itu aku tidak menyadari kapan Pak Sitor pindah duduk kesampingku. Aku kurang tahu kenapa aku membiarkannya meraih jemariku yang masih melingkar cincin berlian perkawinanku dan merebahkan kepalaku didadanya. Aku merasa terlindungi dan merasa ada yang menampung beban pikiranku selama ini.

Pak Sitor pun membelai rambutku seolah aku adalah istrinya. Bibirnya terus bergerak ke balik telingaku dan menghembuskan nafasnya yang hangat. Aku terlena dan membiarkannya berbuat seperti itu. Perlahan ia mulai menciumi telingaku. Aku mulai terangsang ketika ia terus melakukannya dengan lembut. Bibirnya pun terus bergeser sedikit demi sedikit ke bibirku. Saat kedua bibir kami bertemu, seperti ada aliran listrik yang mengaliri sekujur tubuhku.

Aku seperti terhipnotis. Aku seperti tak peduli bahwa yang mencumbuku saat itu adalah orang lain. Mungkin aku telah salah langkah dan salah menilai orang. Jelas bahwa Pak Sitor sama sekali tak merasa sungkan memperlakukanku seperti itu. Seolah-olah ia telah menyimpan hasrat yang mendalam terhadap diriku selama ini. Malam ini adalah kesempatan yang telah ditunggu-tunggunya… Anehnya, aku seperti tak kuasa menahan sepak terjangnya. Padahal yang pantas berbuat itu terhadapku hanyalah suamiku tercinta. Sepertinya telah tertutup mata hatiku oleh nafsu dan gairahku yang juga menuntut pelampiasan.

Pak Sitor pun mengulum bibirku beberapa saat. Aku pun membalasnya sambil menutup kedua mataku menikmatinya. Tangannya juga tidak mau tinggal diam dengan terus merabai buah dadaku yang terbungkus BH dan kaos tidur itu.

Aku lalu dibimbingnya ke kamar tidur dan direbahkannya di ranjang yang biasa aku gunakan untuk bercinta dengan suamiku, namun kini yang berada di sini, di sampingku bukanlah suamiku melainkan seorang laki-laki tukang ojek sepantaran ayahku yang notabene tidak pantas untukku.

Aku telah terlarut dalam gairah yang menghentak. Aku tahu akan terjadi sesuatu yang terlarang di antara kami berdua. Itulah yang menyihirku dan, entah bagaimana caranya, membuat aku memasrahkan diriku pada laki-laki ini. Pak Sitor menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Sedang lampu di luar telah ia matikan tadi.

Aku diam saja menanti apa yang akan diperbuatnya padaku. Padahal selama ini aku tidak sekali pun memberi hati jika ada laki-laki lain yang iseng merabaku dan mencolekku. Aku termasuk wanita yang menjunjung tinggi kesucian dan kehormatan sesuai dengan yang selalu diajarkan orang tua dan agamaku.

Sekarang semua itu musnah oleh keangkuhanku sendiri. Aku terbaring tak berdaya. Pak Sitor mulai melepaskan pakaianku satu persatu, mulai dari kaosku lalu celana panjang dan akhirnya bra dan celana dalam kremku terlempar ke bawah lantai.

Aku hanya memejamkan mataku. Aku pun semakin buta oleh nafsuku yang mulai menggebu-gebu merasuki jiwa dan tubuhku. Bahkan sepertinya aku tak sabar menanti tindakan Pak Sitor selanjutnya.

Selesai menelanjangi aku, ia pun melepaskan pakaiannya hingga lapis terakhir. Aku berdebar-debar karena kini kami sudah sama-sama bugil. Kuperhatikan tubuhnya yang hitam. Meskipun sudah tua namun ototnya masih ada. Ada gambar tattoo tengkorak di lengannya. Aku rasa dia adalah laki-laki yang keras dan jarang ada kelembutan. Itu aku ketahui saat ia mulai merabaiku dan menelanjangiku.

Aku tersentak ketika Ia mulai memelukku dan menciumiku dari leher hingga belahan dadaku dengan kasar. Rabaan tangannya yang kasar membuatku tak hanya kesakitan, melainkan juga terangsang. Suamiku jika merabaiku cukup hati-hati. Nyata perbedaannya dengan Pak Sitor yang keras wataknya. Tampaknya ia sudah lama tidak berhubungan badan dengan wanita, maka akulah yang menjadi sarana pelampiasan nafsunya. Aku merasa tak kuasa apa pun atas tindakannya.

Spontan air mataku terasa menetes karena tersirat penyesalan telah menodai perkawinanku, namun percuma saja. Sekarang semuanya sudah terlambat. Pak Sitor semakin asyik dengan tindakannya. Tiap jengkal tubuhku dijamahnya tanpa terlewatkan seinci pun. Kekuatan Pak Sitor telah menguasai diriku. Aku membiarkan saja ia terus merangsangi diriku. Tubuhku pun berkeringat tidak tahan dan geli bercampur gairah.

Lalu mulutnya turun ke selangkanganku. Ia sibakkan kedua kakiku yang putih bersih itu. Di situ lidahnya bermain menjilati klitorisku. Kepalaku miring ke kiri dan ke kanan menahan gejolak yang melandaku. Peganganku hanya kain sprei yang aku tarik karena desakan itu. Kedua kakiku pun menerjang dan menghentak tidak tahan atas gairah yang melandaku.

Beberapa menit kemudian aku orgasme dan mulutnya menelan air orgasmeku itu. Badanku lemas tak bertenaga. Mataku pun terpejam.

Lalu aku kembali dibangkitkan oleh Pak Sitor dengan meciumi balik telingaku hingga liang kehormatanku. Di sana jarinya ia masukkan dan mulai mengacak-acak liang kewanitaanku lalu mempermainkan celahnya.

Aku semakin sadar jika Pak Sitor telah lama merencanakan ini. Bisa jadi telah lama ia berobsesi untuk meniduriku karena sama sekali tak nampak keraguan dalam seluruh tindakannya mencabuliku. Berarti ia memang telah berencana melanggar amanat suamiku dan menguasaiku.

Akupun akhirnya orgasme untuk yang kedua kalinya oleh tangan Pak Sitor. Badanku telah basah oleh keringat kami berdua. Aku benar-benar merasa lemas.

Pak Sitor lalu minta izin padaku untuk memasukkan penisnya ke lubang kehormatanku. Aku menggeleng tidak setuju sebab aku tahu konsekuensinya. Liang kehormatanku akan tercemar oleh cairan laki-laki lain. Aku merasa terlalu jauh berkhianat pada suamiku. Bagiku cukuplah tindakannya tadi dan tidak usah diteruskan lagi hingga penetrasi.

Ia pun mau menerima pendapatku. Akan tetapi, aku bisa melihat ada rasa kecewa di matanya. Aku bisa bayangkan dirinya yang telah terobsesi untuk menyenggamaiku. Aku lihat penisnya telah siap memasuki diriku jika aku izinkan. Panjangnya melebihi milik suamiku dan agak bengkok dengan diameter yang melebar.

Pak Sitor minta aku untuk membantunya klimaks dengan mengulum penisnya. Aku kembali menggeleng karena aku dan suamiku selama ini tidak pernah melakukan oral sex baik suami kepadaku dan juga sebaliknya meskipun kami selalu menjaga kebersihan wilayah sensitif kami. Pak Sitor terus memohon sebab ia merasa tersiksa karena belum klimaks.

Lama-kelamaan aku merasa kasihan juga. Tidak adil rasanya bagiku yang telah dibantunya sampai dua kali orgasme untuk membiarkannya seperti itu.

Akhirnya aku beranikan diri mengulumnya. Dengan sedikit jijik aku buka mulutku, namun tidak muat seluruhnya dan hanya sampai batangnya saja. Mulutku serasa mau robek karena besarnya penis Pak Sitor. Baru beberapa kali kulum aku serasa mual dan mau muntah oleh aroma kelamin Pak Sitor itu. Aku maklum saja karena ia kurang bersih dan seperti kebiasaan laki-laki Batak, penisnya tidak ia sunat hingga membuatnya agak kotor. Mungkin juga disebabkan oleh makanan yang tidak beraturan.

Satu menit, dua menit… lima menit berlalu…. Entah berapa lama lagi setelah itu aku mengulumi penis Pak Sitor sampai basah dan bersih oleh air liurku… Aku lalu menyerah dan melepaskan penis Pak Sitor dari mulutku. Aku heran Pak Sitor ini sampai sekian lama kok tidak juga klimaks. Aku salut akan staminanya. Aku juga salut atas sikapnya yang menghargai wanita dengan tidak memaksakan kehendak. Padahal dalam keadaan seperti ini, aku bisa saja dipaksanya namun tidak ia lakukan.

Aku merasa bersalah pada diriku dan ingin membantunya saat itu juga. Di dalam pikiranku berperang antara birahi dan moral. Akhirnya, kupikir sudah terlanjur basah. Di samping itu, aku tidak ingin menambah masalah antara aku dan Pak Sitor. Jika aku larang terus nantinya Pak Sitor bisa saja memperkosaku. Seorang laki-laki yang telah berbirahi di ubun-ubun sering bertindak nekad dan lagi pula aku sendirian.

Akhirnya, dengan pertimbangan demi kebaikan kami berdua, maka aku izinkan dia melakukan penetrasi ke dalam rahimku.

“Hmmm… Pak Sitor…. Begini deh… Kalau Bapak memang benar-benar mau mencampuri saya… Boleh, Pak….”

Pak Sitor pun tampaknya gembira sekali. Padahal tadi sempat kulihat wajahnya tegang sekali.

“Ibu benar-benar ikhlas…?” tanya Pak Sitor menatap dalam-dalam mataku dengan penuh birahi. Tangannya membelai rambutku. Aku membalas tatapannya sambil tersenyum, lalu mengangguk dengan pasti.

Pak Sitor mencium dan mengulum bibirku dalam-dalam… Seolah menyatakan rasa terima kasihnya atas kesediaanku. Setelah dilepaskannya pagutannya dari mulutku, kami pun berpandangan dan saling tersenyum…

Aku lalu berbaring dan membuka kedua pahaku memberinya jalan memasuki rahimku. Tubuh kami berdua saat itu telah sama-sama berkeringat dan rambutku telah kusut. Dari temaran lampu dinding aku lihat Pak Sitor bersiap-siap mengarahkan penisnya. Posisinya pas diatas tubuhku. Tubuhnya telah basah oleh keringat hingga membuat badannya hitam berkilat. Tampaknya ia masih berusaha menahan untuk ejakulasi. Di luar saat ini hujan pun seakan tidak mau kalah oleh gelombang nafsu kami berdua.

Pak Sitor dengan hati-hati menempelkan kepala penisnya. Ia tahu jika tergesa-gesa akan membuatku kesakitan sebab punyaku masih kecil dan belum pernah melahirkan.

Aku pun berusaha memperlebar kedua pahaku supaya mudah dimasuki kejantanan Pak Sitor sebab aku melihat kejantanannya panjang dan agak bengkok jadi aku bersiap-siap agar aku jangan kesakitan.

“Pelan-pelan ya, Pak…” Aku sempat bilang kepadanya untuk jangan cepat-cepat.

Dengan bertahap, ia mulai memasukan penisnya. Aku memejamkan mata dan merasakan sentuhan pertemuan kemaluan kami.

Untuk melancarkan jalannya, kakiku ia angkat hingga melilit badannya, lalu langsung penisnya masuk ke rahimku dengan lambat. Aku terkejut dan merasakan ngilu di bibir rahimku.

“Auuch… ooh.. auuch…” Aku meracau kesakitan. Pak Sitor membungkam mulutku dengan mulutnya. Kedua tubuh bugil kami pun sepenuhnya bertemu dan menempel.

Tidak lama kemudian seluruh penisnya masuk ke rahimku dan ia mulai melakukan gerak maju mundur. Aku merasakan tulangku bagai lolos, sama seperti saat aku dan suamiku melakukan hubungan intim pertama kalinya dan kuserahkan kegadisanku padanya di malam pengantin dulu.

Tidak lama kemudian aku merasakan kenikmatan. Mulut pak Sitor pun lepas dari mulutku karena aku tidak kesakitan lagi. Aku tersengal-sengal setelah selama beberapa waktu mulutku disumpalnya. Kekuatan laki-laki ini amat membuatku salut, sampai membuat ranjangku dan badanku bergetar semua seperti kapal yang terserang badai.

Kurang lebih 15 menit kemudian Pak Sitor gerakannya bertambah cepat dan tubuhnya menegang hebat. Aku merasakan di dalam rahimku basah oleh cairan hangat.

Tubuhnya lalu rebah diatas tubuhku tanpa melepaskan penisnya dari dalam rahimku. Aku pun dari tadi telah sempat kembali orgasme. Kami pun tertidur sementara diluar hujan masih saja turun. Butiran keringat kami membuat basah sprei yang kusut di sana-sini.

Saat itu tidak ada lagi batas diantara kami, namun aku merasa telah berdosa kepada suamiku. Hingga tengah malam Pak Sitor pun kembali menggauliku sepuasnya dan akupun tidak merasa segan lagi karena kami tidak lagi merasa asing satu sama lain. Aku pun tidak merasa jijik lagi jika melakukan oral sex dengan Pak Sitor.

Bagi seorang wanita seperti diriku, sangat sulit rasanya untuk melepaskan diri dari kejadian ini. Penyesalan pun tiada gunanya. Aku yang di luarnya tampak keras, berwibawa dan kadang sombong, semuanya menjadi tiada arti lagi saat seorang laki-laki seperti Pak Sitor telah berhasil menggauliku. Kehormatan dan perkawinan yang aku junjung pun luntur sudah, namun apa lagi yang bisa kuperbuat… Pak Sitor pun kini telah merasa jadi pemenang dengan kemampuannya menaklukkanku hingga aku tidak berdaya. Aku semakin tidak berdaya jika ia telah berada di dalam kamarku, untuk bersebadan dengannya.

Aku merasa telah terperdaya oleh gelombang gairah yang dipancarkan oleh Pak Sitor. Sangat aneh bagiku jika Pak Sitor yang seusia dengan ayahku ini masih mampu mengalahkanku dan membuatku orgasme berkali-kali tidak seperti suamiku yang hanya bisa membuatku orgasme sekali saja. Begitu juga aku.

Kuakui aku mendapatkan pengalaman baru dan mengaburkan pendapatku selama ini bahwa laki-laki paro baya akan hilang keperkasaannya. Selama kami berhubungan badan aku sempat bertanya padanya bagaimana ia bisa sekuat itu.

Pak Sitor pun bercerita bahwa ia sering mengkonsumsi makanan khas Batak berupa sup anjing yang menurutnya dapat menjaga dan menambah vitalitas pria.

Aku bergidik jijik dan mau muntah mendengarnya. Aku jadi ingat, pantas saja saat bersebadan dengannya bau keringatnya lain. Juga saat aku mengulum kemaluannya terasa panas dan amis.Rupanya selama ini Pak Sitor sering memakan makanan yang di agamaku diharamkan.

Pernah suatu kali aku kurang enak badan padahal Pak Sitor ngotot ingin mengajakku untuk bersetubuh. Aku pun dibelikannya makanan berupa sate. Saat aku santap, rasanya sedikit aneh. Setelah makan beberapa tusuk, aku merasakan tubuhku panas dan badanku seakan fit kembali. Setelah sate itu aku habiskan, kami pun melakukan persetubuhan dengan amat panas dan bergairah hingga aku mengalami orgasme sampai tiga kali. Tubuhku seakan segar bugar kembali dan enak sekali.

Setelah persetubuhan, Pak Sitor bilang bahwa yang aku makan tadi adalah sate daging anjing. Aku marah dan ingin memuntahkannya karena jijik dan kotor. Hanya karena pandainya ia memberiku pengertian, ditambah sedikit rayuan, aku jadi bisa menerimanya. Bagaimanapun, aku memintanya untuk tidak mengulangi perbuatan itu lagi walaupun terus terang, aku pun mau tak mau harus mengakui khasiatnya… Ia pun berjanji untuk tidak mengulanginya lagi tanpa seizinku.

Selama aku bertugas di pulau itu hampir satu tahun, kami telah sering melakukan hubungan seks dengan sangat rapi. Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Untungnya pula, akibat perbuatan kami ini aku tidak sampai hamil. Aku memang disiplin ber-KB supaya Pak Sitor bebas menumpahkan spermanya di rahimku.

Kapanpun, kami sering melakukannya. Kadang di rumahku, kadang di rumah Pak Sitor. Kadang kalau kupikir, alangkah bodohnya aku mau saja digauli di atas dipan kayu yang cuma beralaskan tikar usang. Bagaimamanapun, yang penting bagiku hasrat terpenuhi dan Pak Sitor pun bisa memberinya.

Pernah suatu hari setelah kami bersebadan di rumahnya, Pak Sitor minta kepadaku untuk mau hidup dengannya di pulau itu. Permintaan Pak Sitor ini tentu mengejutkanku, rasanya tidak mungkin sebab aku terikat perkawinan dengan suamiku dan aku pun tidak ingin menghancurkannya. Lagi pula Pak Sitor seusia dengan ayahku. Apa jadinya jika ayahku tahu. Rupanya Pak Sitor mulai mencintaiku sejak ia dengan bebas dapat menggauliku.

Di samping itu, keyakinan kami pun berbeda karena Pak Sitor seorang Protestan. Bagiku ini masalah baru. Memang, sejak berhubungan intim dengannya, aku tak lagi menjalankan agamaku dengan taat. Kebiasaan Pak Sitor menyantap daging anjing dan babi, juga menenggak tuak, sedikit demi sedikit ikut mempengaruhiku. Kadang aku ikut pula menikmati makanan seperti itu. Sekedar menemaninya dan sebagai wujud toleransiku padanya. Lagipula, khasiat itu semua terhadap gairah seks kami telah terbukti… Apapun, perbedaan agama itu tetap saja terasa menjadi ganjalan.

Pak Sitor pun pernah menanyakan padaku kenapa aku tidak hamil padahal setiap ia menyebadaniku spermanya selalu ia tumpahkan di dalam. Aku tidak memberitahunya jika aku ber-KB karena tidak ingin mengecewakannya. Jelas ia sebenarnya menginginkan aku hamil agar memuluskan langkahnya untuk memilikiku.

Aku harus menyiasatinya agar ia tidak lagi bermimpi untuk menikahiku. Sebenarnya bagiku hubungan ini hanyalah sebagai pelarianku dari kesepian selama jauh dari suamiku. Aku pun menjelaskannya kepada Pak Sitor dengan lembut dan baik-baik saat kami usai berhubungan badan.

Aku pun bilang jika kelak aku pindah kerja, ia harus rela hubungan ini putus. Selama aku dinas di pulau ini dan suamiku tidak ada, ia kuberi kebebasan untuk memilikiku dan menggauliku. Syaratnya, asal jangan berbuat macam-macam didepan teman-teman kantorku yang kebetulan hampir semuanya penduduk asli pulau ini.

Akhirnya ia mau mengerti dan menerima alasanku. Ia berjanji akan menutup rapat rahasia kami jika aku pindah. Ia pun menerima segala persyaratanku karena rasa cintanya padaku.

Selama aku tugas di pulau ini, Pak Sitor terus memberiku kenikmatan ragawi tanpa kenal batas antara kami. Bagiku cinta hanya untuk suamiku. Pak Sitor adalah terminal persinggahan yang harus aku singgahi. Dalam hatiku, aku berjanji untuk menutup rapat rahasia ini karena masih ada penyesalan dalam diriku. Kadang aku mengganggap diriku kotor dan telah merusak kesucian pernikahan kami. Bagaimanapun, mungkin ini memang tahapan kehidupan yang harus aku lewati…

cerita seks sex Ibu Maya Yang Baik Hati

cerita seks sex Ibu Maya Yang Baik Hati

Setelah tamat dari SMU, aku mencoba merantau ke Jakarta. Aku berasal dari keluarga yang tergolong miskin. Di kampung orang tuaku bekerja sebagai buruh tani. Aku anak pertama dan memiliki dua orang adik perempuan, yang nota bene masih bersekolah.

Aku ke Jakarta hanya berbekal ijazah SMU. Dalam perjalanan ke Jakarta, aku selalu terbayang akan suatu kegagalan. Apa jadinya aku yang anak desa ini hanya berbekal Ijazah SMU mau mengadu nasib di kota buas seperti Jakarta. Selain berbekal Ijazah yang nyaris tiada artinya itu, aku memiliki keterampilan hanya sebagai supir angkot. Aku bisa menyetir mobil, karena aku di kampung, setelah pulang sekolah selalu diajak paman untuk narik angkot. Aku menjadi keneknya, paman supirnya. Tiga tahun pengalaman menjadi awak angkot, cukup membekal aku dengan keterampilan setir mobil. Paman yang melatih aku menjadi supir yang handal, baik dan benar dalam menjalankan kendaraan di jalan raya. Aku selalu memegang teguh pesan paman, bahwa : mengendarai mobil di jalan harus dengan sopan santun dan berusaha sabar dan mengalah. Pesan ini tetap kupegang teguh.

Di Jakarta aku numpang di rumah sepupu, yang kebetulan juga bekerja sebagai buruh pabrik di kawasan Pulo Gadung. Kami menempati rumah petak sangat kecil dan sangat amat sederhana. Lebih sederhana dari rumah type RSS ( Rumah Susah Selonjor). Selain niatku untuk bekerja, aku juga berniat untuk melanjutkan sekolah ke Perguruan Tinggi. Dua bulan lamanya aku menganggur di Jakrta. Lamar sana sini, jawabnya selalu klise, ” tidak ada lowongan “.

Pada suatu malam, yakni malam minggu, ketika aku sedang melamun, terdengar orang mengucap salam dari luar. Ku bukakan pintu, ternya pak RT yang datang. Pak RT minta agar aku sudi menjadi supir pribadi dari sebuah keluarga kaya. Keluarga itu adalah pemilik perusahaan dimana pak RT bekerja sebagai salah seorang staff di cabang perusahaan itu. Sepontan aku menyetujuinya. Esoknya kami berangkat kekawasan elite di Jakarta. Ketika memasuki halaman rumah yang besar seperti istana itu, hatiku berdebar tak karuan. Setelah kami dipersilahkan duduk oleh seorang pembantu muda di ruang tamu yang megah itu, tak lama kemudian muncul seorang wanita yang tampaknya muda. Kami memberi hormat pada wanita itu. Wanita itu tersenyum ramah sekali dan mempersilahkan kami duduk, karena ketika dia datang, sepontan aku dan pak RT berdiri memberi salam ” selamat pagi”. Pak RT dipersilahkan kembali ke kantor oleh wanita itu, dan diruangan yang megah itu hanya ada aku dan dia si wanita itu.

” Benar kamu mau jadi supir pribadiku ? ” tanyanya ramah seraya melontarkan senyum manisnya. ” Iya Nyonya, saya siap menjadi supir nyonya ” Jawabku. ” jangan panggil Nyonya, panggil saja saya ini Ibu, Ibu Maya ” Sergahnya halus. Aku mengangguk setuju. ” Kamu masih kuliah ?” ” Tidak nyonya eh…Bu ?!” jawabku. ” Saya baru tamat SMU, tapi saya berpengalaman menjadi supir sudah tiga ahun” sambungku.

Wanita itu menatapku dalam-dalam. Ditatapnya pula mataku hingga aku jadi slah tingkah. Diperhatikannya aku dari atas samapi kebawah. ” kamu masih muda sekali, ganteng, nampaknya sopan, kenapa mau jadi supir ?” tanyanya. ” Saya butuh uang untuk kuliah Bu ” jawabku. ” Baik, saya setuju, kamu jadi supir saya, tapi haru ready setiap saat. gimana, okey ? ” ” Saya siap Bu.” Jawabku. ” Kamu setiap pagi harus sudah ready di rumah ini pukul enam, lalu antar saya ke tempat saya Fitness, setelah itu antar saya ke salon, belanja, atau kemana saya suka. Kemudian setelah sore, kamu boleh pulang, gimana siap ? ” ” Saya siap Bu” Jawabku. ” Oh..ya, siapa namamu ? ” Tanyanya sambil mengulurkan tangannya. Sepontan aku menyambut dan memegang telapak tangannya, kami bersalaman. ” Saya Leman Bu, panggil saja saya Leman ” Jawabku. ” Nama yang bagus ya ? tau artinya Leman ? ” Tanyanya seperti bercanda. ” Tidak Bu ” Jawabku. ” Leman itu artinya Lelaki Idaman ” jawabnya sambil tersenyum dan menatap mataku. Aku tersenyum sambil tersipu. lama dia menatapku. Tak terpikir olehku jika aku bakal mendapat majikan seramah dan se santai Ibu Maya. Aku mencoba juga untuk bergurau, kuberanita diri untuk bertanya pada beliau. ” Maaf, Bu. jika nama Ibu itu Maya, apa artinya Bu ? ” ” O..ooo, itu, Maya artinya bayangan, bisa juga berarti khayalan, bisa juga sesuatu yang tak tampak, tapi ternyata ada.Seperti halnya cita-citamu yang kamu anggap mustahil ternyata suatu saat bisa kamu raih, nah,,,khayalan kamu itu berupa sesuiatu yang bersifat maya, ngerti khan ? ” Jawabnya serius. Aku hanya meng-angguk-angguk saja sok tahu, sok mengerti, sok seperti orang pintar.

Jika kuperhatikan, body Ibu Maya seksi sekali, tubuhnya tidak trlampau tinggi, tapi padat berisi, langsing, pinggulnya seperti gitar sepanyol. Ynag lebih, gila, pantatnya bahenol dan buah dadanya wah…wah…wah…puyeng aku melihatnya.

Dirumah yang sebesar itu, hanya tinggal Ibu Maya, Suaminya, dan dua putrinya, yakni Mira sebagai anak kedua, dan Yanti si bungsu yang masih duduk di kelas III SMP, putriny yang pertama sekolah mode di Perancis. Pembantunya hanya satu, yakni Bi Irah, tapi seksinya juga luar biasa, janda pula !

Ibu Maya memberi gaji bulanan sangat besar sekali, dan jika difikir-fikir, mustahil sekali. Setelah satu tahu aku bekerja, sudah dua kali dia menaikkan agjiku, Katanya dia puas atas disiplin kerjaku. Gaji pertama saja, lebih dari cukup untuk membayar uang kuliahku. Aku mengambil kuliah di petang hari hingga malam hari disebuah Universitas Swasta. Untuk satu bulan gaji saja, aku bisa untuk membayar biaya kuliah empat semster, edan tenan….sekaligus enak…tenan….!!! dasar rezeki, tak akan kemana larinya.

Masuk tahun kedua aku bekerja, keakraban dengan Ibu Maya semakin terasa. Setelah pulang Fitness, dia minta jalan-jalan dulu. Yang konyol, dia selalu duduk di depan, disebelahku, hingga terkadang aku jadi kagok menyetir, eh…lama lama biasa.

Disuatu hari sepulang dari tempat Fitnes, Ibu Maya minta diatar keluar kota. Seperti biasa dia pindah duduk ke depan. Dia tak risih duduk disebelah supir pribadinya. Ketika tengah berjalan kendaraan kami di jalan tol jagorawi, tiba-tiba Ibu maya menyusuh nemepi sebentar. Aku menepi, dan mesin mobil BMW itu kumatikan. Jantungku berdebar, jangan-jangan ada kesalahan yang aku perbuat.

” Man,?, kamu sudah punya pacar ? ” Tanyanya. ” Belum Bu ” Jawabku singkat. ” Sama sekali belum pernah pacaran ?” ” Belum BU, eh…kalau pacar cinta monyet sih pernah Bu, dulu di kampung sewaktu SMP” ” Berapa kali kamu pacaran Man ? sering atau cuma iseng ?” tanyanya lagi. Aku terdiam sejenak, kubuang jauh-jauh pandanganku kedepan. Tanganku masih memegang setir mobil. Kutarik nafas dalam-dalam. ” Saya belum pernah pacaran serius Bu, cuma sebatas cintanya anak yang sedang pancaroba” Jawabku menyusul. ” Bagus…bagus…kalau begitu, kamu anak yang baik dan jujur ” ujarnya puas sambil menepuk nepuk bahuku. Aku sempat bingung, kenapa Bu Maya pertanyaannya rada aneh ? terlalu pribadi lagi ? apakah aku mau dijodohkan dengan salah seorang putrinya ? ach….enggak mungkin rasanya, mustahil, mana mungkin dia mau punya menantu anak kampung seprti aku ini ?!

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kepuncak, bahkan sampai jalan-jalan sekedar putar-putar saja di kota Sukabumi. Aku heran bin heran, Bu Maya kok jalan-jalan hanya putar-putar kota saja di Sukabumi, dan yang lebih heran lagi, Bu Maya hanya memakai pakaian Fitness berupa celana training dan kaos olah raga. Setelah sempat makan di rumah makan kecil di puncak, hari sudah mulai gelap dan kami kembali meneruskan perjalanan ke Jakarta. Ditengah perjalanan di jalan yang gelap gulita, Bu Maya minta untu berbelok ke suatu tempat. Aku menurut saja apa perintahnya. Aku tak kenal daerah itu, yang kutahu hanya berupa perkebunan luas dan sepi serta gelap gulita. Ditengah kebun itu bu Maya minta kaku berhenti dan mematikan mesin mobil. Aku masih tak mengerti akan tingkah Bu Maya. Tiba-tiba saja tangan Bu Maya menarik lengaku. ” Coba rebahkan kepalamu di pangkuanku Man ?” Pintanya, aku menurut saja, karena masih belum mengerti. Astaga….setelah aku merebahkan kepalaku di pangkuan Bu Maya dengan keadaan kepala menghadap keatas, kaki menjulur keluar pintu, Bu Maya menarik kaosnya ketas. Wow…samar-samar kulihat buah dadanya yang besar dan montok. Buah dada itu didekatkan ke wajahku. Lalu dia berkata ” Cium Man Cium…isaplah, mainkan sayang …?” Pintanya. Baru aku mengerti, Bu Maya mengajak aku ketempat ini sekedar melampiaskan nafsunya. Sebagai laki-laki normal, karuan saja aku bereaksi, kejantananku hidup dan bergairah. Siapa nolak diajak kencan dengan wanita cantik dna seksi seperti Bu Maya.

Kupegangi tetek Bu Maya yang montok itu, kujilati putingnya dan kuisap-isap. Tampak nafas Bu Maya ter engah-engah tak karuan, menandakan nafsu biarahinya sedang naik. Aku masih mengisap dan menjilati teteknya. Lalu bu Maya minta agar aku bangun sebentar. Dia melorotkan celana trainingnya hingga kebawah kaki. Bagian bawah tubuh Bu Maya tampak bugil. Samar-samar oleh sinar bulan di kegelapan itu. ” Jilat Man jilatlah, aku nafsu sekali, jilat sayang ” Pinta Bu Maya agar aku menjilati memeknya. Oh….memek itu besar sekali, menjendol seperti kura-kura. tampaknya dia sedang birahi sekali, seperti puting teteknya yang ereksi. Aku menurut saja, seperti sudah terhipnotis. Memek Bu Maya wangi sekali, mungkin sewaktu di restauran tadi dia membersihkan kelaminnya dan memberi wewangian. Sebab dia sempat ke toilet untuk waktu yang lumayang lama. Mungkin disana dia membersihkan diri. Dia tadi ke tolilet membawa serta tas pribadinya. Dan disana pula dia mengadakan persiapan untuk menggempur aku. Kujilati liang kemaluan itu, tapi Bu Maya tak puas. Disuruhnya aku keluar mobil dan disusul olehnya. Bu Maya membuka bagasi mobil dan mengambil kain semacam karpet kecil lalu dibentangkan diatas rerumputan. Dia merebahkan tubuhnya diatas kain itu dan merentangnya kakinya. ” Ayo Man, lakukan, hanya ada kita berdua disini, jangan sia-siakan kesempatan ini Man, aku sayang kamu Man ” katanya setengah berbisik, Aku tak menjawab, aku hanya melakukan perintahnya, dan sedikit bicara banyak kerja. Ku buka semua pakaianku, lalu ku tindih tubuh Bu Maya. Dipeluknya aku, dirogohnya alat kelaminku dan dimasukkan kedalam memeknya. Kami bersetubuh ditengah kebun gelap itu dalam suasana malam yang remang-remang oleh sinar gemintang di langit. Aku menggenjot memek Bu Maya sekuat mungkin. ” jangan keluar dulua ya ? saya belum puas ” Pintanya mesra. Aku diam saja, aku masih melakukan adegan mengocok dengan gerakan penis keluar masuk lubang memek Bu Maya. Nikmat sekali memek ini, pikirku. Bu Maya pindah posisi , dia diatas, dan bukan main permainannya, goyangnyanya.

” Remas tetekku Man, remaslah….yang kencang ya ?” Pintanya. Aku meremasnya. ” Cium bibirku Man..cium ? Aku mencium bibir indah itu dan kuisap lidahnya dalam-dalam, nikmat sekali, sesekali dia mengerang kenikmatan. ” Sekarang isap tetekku, teruskan…terus…..Oh….Ohhhh…..Man…Leman…Ohhh…aku keluar Man….aku kalah” Dia mencubiti pinggulku, sesekali tawanya genit. ” kamu curang….aku kalah” ujarnya. ” Sekarang gilirang kamu Man….keluarkan sebanyak mungkin ya? ” pintanya. ” Saya sudah keluar dari tadi Bu, tapi saya tetap bertahan, takut Ibu marah nanti ” Jawabku. ” Oh Ya?…gila..kuat amat kamu ?!” balas Bu Maya sambul mencubit pipiku.

” Kenapa Ibu suka main di tempat begini gelap ?” ” Aku suka alam terbuka, di alam terbuka aku bergairah sekali. Kita akan lebih sering mencari tempat seperti alam terbuka. Minggu depan kita naik kapal pesiarku, kita main diatas kapal pesiar di tengah ombak bergulung. Atau kita main di pinggir sungai yang sepi, ah… terserah kemana kamu mau ya Man ?”

Selesai main, setelah kami membersihkan alat vital hanya dengan kertas tisue dan air yang kami ambil dari jiregen di bagasi mobil, kami istirahat. Bu Maya yang sekarang tidur di pangkuanku. Kami ngobrol panjang lebar, ngalor ngidul. Setelah sekian lama istirahat, kontolku berdiri lagi, dan dirasakan oleh kepala Bu maya yang menyentuh batang kejantananku. Tak banyak komentar celanaku dibukanya, dan aku dalam sekejap sudah bugil. Disuruhnya aku tidur dengan kaki merentang, lalu Bu Maya membuka celana trainingnya yang tanpa celana dalam itu. Bu Maya mengocok-ngocok penisku, diurutnya seperti gerakan tukang pjit mengurut tubuh pasiennya. Gerakan tangan Bu Maya mengurut naik-turun. Karuan saja penisku semakin membesar dan membesar. Diisapnya penisku yang sudah ereksi besar sekali, dimainkannya lidah Bu Maya di ujung penisku. Setelah itu, Bu Maya menempelkan buah dadanya yang besar itu di penisku. Dijepitkannya penisku kedalam tetek besar itu, lalu di goyang-goyang seperti gerakan mengocok. ” Giaman Man ? enah anggak ? ” ” Enak Bu, awas lho nanti muncrat Bu” jawabku.. ” Enggak apa, ayo keluarkan, nanti kujilati pejuhmu, aku mau kok ?!” . Bu Maya masih giat bekerja giat, dia berusaha untuk memuaskan aku. Tak lama kemudian, Bu Maya naik keposisi atas dan seperti menduduki penisku, tapi lobang memeknya dimasuki penisku. Digoyang terus…hingga aku merasakan nikat yang luar biasa. Tiba -tiba Bu Maya terdiam, berhenti bekerja, lalu berjata :” Rasakan ya Man ? pasti kamu bakal ketagihan ” Aku membisu saja. dan ternya Ohh….memek Bu Maya bisa melakukan gerakan empot-empot, menyedot-nyedot dan meng-urut-urut batang kontolku dari bagian kepala hingga ke bagian batang bawah, Oh….nikmat sekali, ini yang namanya empot ayam, luar biasa kepiawaian Bu Maya dalam bidang oleh seksual. ” Enak syang ?” tanyanya. Belum sempat aku menjawab, yah….aku keluar, air maniku berhamburan tumpah ditenga liang kemaluan Bu Maya.

” Itu yang namanya empot-empot Man, itulah gunanya senam sex, berarti aku sukses l;atihan senam sex selama ini ” Katanya bangga. ” Sekarang kamu puasin aku ya ? ” Kata Bu Maya seraya mengambil posisi nungging. Ku tancapkan lagi kontolku yang masih ereksi kedalam memek bu Maya, Ku genjot terus. ” Yang dalam man…yang dalam ya..teruskan sayang…? oh….enak sekali penismu…..oh….terus sayang ?!” Pinta Bu Maya. Aku masih memuaskan Bu Maya, aku tak mau kalah, kujilati pula lubang memeknya, duburnya dan seluruh tubuhnya. Ternyata Bu Maya orgasme setelah aku menjlati seluruh tubuhnya. ” kamu pintar sekali Man ? belajar dimana ? ” ” Tidak bu, refleks saja” Jawabku.

Sebelum kami meninggalkan tempat itu, Bu Maya masih sempat minta satu adegan lagi. Tapi kali ini hanya sedikit melorotkan celana trainingnya saja. demikian pula aku, hanya membuka bagian penis saja. Bu Maya minta aku melakukanya di dalam mobil, tapi ruangannya sempit sekali. Dengan susah payang kami melakukannya dan akhirnya toh juga mengambil posisinya berdiri dengan tubuh Bu Maya disandarkan di mobil sambil meng-angkat sedikit kaki kanannya.

Sejak saat malam pertama kami itu, aku dan Bu Maya sering bepergian keluar kota, ke pulau seribu, ke pinggir pantai, ke semak-semak di sebuah desa terpencil, yah pokoknya dia cari tempat-tempat yang aneh-aneh. Tak kusadari kalau aku sebenarnya menjadi gigolonya Bu Maya. Dan beliaupun semakin sayang padaku, uang mengalir terus ke kocekku, tanpa pernah aku meminta bayaran. Dia menyanggupi untuk membiayai kuliah hingga tamat, asal aku tetap selalu besama Bu Maya yang cantik itu.

cerita seks sex Nikmat Tak Terbayangkan

cerita seks sex Nikmat Tak Terbayangkan

Sebenarnya aku malu menceritakan kejadian yang sampai sekarang masih sering kulakukan ini. Aku adalah seorang ibu rumah tangga dan aku juga punya status sebagai janda. Kehidupan aku cukup baik, karena peninggalan deposito dari suami dan kadang2 ada bisnis jual beli perhiasan dengan teman. Anak aku ada 2 orang dan mereka semua sekolah di Jogya, karena dekat dengan kakek neneknya. Dirumah aku cuma ditemani oleh Surti (pembantu) dan Remi, anjing herder peninggalan suami juga.

Suatu hari teman jual beli perhiasan aku yang bernama Tina datang kerumah. Teman bisnis aku banyak, dengan Tina aku baru kenal kira2 1 bulan yang lalu. Usia wanita itu sama dengan aku dan punya anak satu, wajahnya cukup cantik ditambah dengan make up yang pandai, dan Tina tahu cara merawat tubuh dengan baik, aku mendengar dari teman2 bahwa dia sangat pandai dalam berbisnis perhiasan, apalagi ditambah kepandaiannya berbicara merayu pembeli. Tina datang kerumahku hari itu untuk menitipkan perhiasan yang hendak dijual, biasanya kami suka bertemu direstoran padang langganannya, tumben hari ini dia datang mengunjungiku.

“Halooo Rin…….apa khabar nih???” aku tersenyum senang sambil membalas salam Tina.
“Tumben, kok bisa nyasar kesini Tin?”
“Kangen aku tidak ketemu kamu 2 minggu”
“Ahhhh….bisa aja….ayo masuk, maaf ya rumah aku berantakan dan kecil” aku mempersilahkan Tina masuk keruang tamu.
“Ah rumah kamu bagus kok, dilingkungan elite lagi” Komentar Tina sambil duduk disofa.
“Seperti yg tadi kukatakan di telepon, aku ingin menitipkan perhiasan ini untuk kamu jualin, soalnya lusa aku akan keluar kota dengan suamiku” Kulihat Tina mengeluarkan kantong beludru hitam dari dalam tasnya.
“Lebih baik dikamar saja Tin, soalnya si Surti ada di dapur” Ajak aku. aku selalu berhati2 dalam berbisnis di bidang ini. Tina mengikuti masuk kekamar aku. Lalu kami duduk diatas ranjang dan Tina mengeluarkan semua isi kantung beludru itu. Perhiasan bertahtakan berlian terpampang diatas ranjang, berkilauan. aku kuatir juga melihat perhiasan banyak begitu, aku mengambil salah satu kalung yang paling indah.

“Waah indah sekali kalung ini” Kataku, lalu aku mencoba memasangnya dileherku.
“Sini aku bantu” Tina beranjak kebelakangku, lalu tangannya berusaha mengaitkan kunci kalung itu.
“Leher kamu bagus sekali Rin” Ujar Tina, kurasakan leherku dibelainya, bulu romaku jadi berdiri, perasaanku jadi nggak enak. Lalu tangan Tina membelai pipiku, sementara tangannya yang lain menelusuri leherku terus merayap menuju dadaku.

“Tin….jangan gitu ah…..aku jadi geli nih” Tapi Tina tidak menjawab. Tiba2 aku merasakan pipi kiriku panas, aku menoleh, belum sempat aku sadar apa yang membuat panas pipiku, bibir Tina sudah menyambar bibirku. Aku gelagapan dan aku berontak berusaha menghindar, tapi Tina seperti kesetanan, ia terus menekan mulutnya ke mulutku. Dan kurasakan buah dadaku diremas olehnya. Aku benar2 terkejut sekali dengan perlakuan seperti itu, aku mencoba mendorongnya, tapi tubuhnya sudah menindih tubuhku. Aku menendang dan Tina melepaskan pelukannya. Aku berusaha membetulkan letak buah dadaku yang tadi sampai keluar dari BH. Tina memandangku dengan mata yang redup.

“Sori Rin…..sejak kenal denganmu aku merasa kamu sangat merangsang sekali” Aku terdiam sambil menahan amarah.
“Kok kamu gitu sih? Kan kamu sudah punya suami??? Teganya kamu….” Sergahku sambil memelototinya. Tina memandangku dengan pandangan yang makin redup.
“Aku lebih bernafsu dengan wanita sepertimu, lagi pula suamiku tidak pernah bisa memuaskanku, belum apa2 sudah loyo sehingga selama perkawinan aku belum pernah merasakan kepuasan”
“Tapi dengan modal kecantikanmu kan kamu bisa cari laki2 lain utk memuaskanmu!”
“Aku tidak merasakan kenikmatan seperti kalau dengan wanita, aku ingin kamu juga mencoba merasakannya Rin” Jawab Tina sambil mendekatiku. Aku beringsut mundur kekepala ranjang.
“Tapi aku tidak pernah lesbian begitu” Hatiku berdebar2 memperhitungkan kemungkinan yang akan terjadi bila Tina menyergapku seperti tadi.
“Jangan takut Rin, aku tidak akan memaksamu, cuma aku ingin kamu mengijinkanku menciummu sekali saja, tolonglah…..” Hatiku makin tak keruan, sudah lama sekali aku tidak pernah dijamah oleh laki2 apalagi perempuan. Mendengar kata cium saja, aku sudah merasa tidak keruan. Lagi pula apa salahnya dicium Tina, apalagi mulutnya tidak bau. Aku tahu hati kecilku bersikap pasrah.
“Baiklah…..tapi sekali saja, dan jangan macam2 ya” Jawabku. Tina lalu mendekatiku lalu tangannya merangkul leherku, lalu bibirnya mencium mulutku dengan lembut, perasaanku tak keruan merasakan ciuman itu, aku memberanikan diri membalas ciumanya. Lalu kurasakan lidah Tina menjalar masuk kedalam mulutku mencari2 lidahku. Yang kurasakan kemudian adalah perasaan aneh dan gamang yang tidak dapat dilukiskan. Kurasakan hembusan napas Tina yang panas dipipiku dan lumatan mulutnya yang begitu merangsang birahi.

Hampir 3 menit kami berciuman dan aku tahu kemaluanku sudah basah karena nafsu. Sekarang aku benar2 pasrah waktu Tina menjilati leherku dengan lembut, tangannya melepaskan tali daster dipundakku, lalu dengan lembut buah dadaku yang masih tertuutp bh diremas2.
“Tiin…..jangan ah….malu Tin” Aku berusaha mencegah setengah hati. Dan Tina tahu aku tidak benar2 ingin menghentikan aktivitasnya.Aku merasakan tangan kirinya masuk kedalam celana dalamku, dan jari2nya memainkan klitorisku, kadang2 dicubit2 kecil, benar2 sensasi yang hebat sekali. Tanpa kusadari aku juga sedang meremas2 pantat Tina. Tubuhnya menindih tubuhku dan kurasakan buah dadanya yang berukuran sedang menekan buah dadaku yang memang dari dulu tergolong besar. Tiba2 aku baru sadar Tina sudah setengah telanjang, cuma memakai cd saja, sedangkan aku benar2 bugil total. Tubuh Tina berbau harum, entah parfum apa yang dipakainya, tapi wangi tubuhnya menambah getaran berahiku. Tanganku menjalar melepaskan celana dalamnya, lalu kulihat sekilas kemaluannya berkilat tanpa sehelai bulu, rupanya bulunya dicukur rutin. Jari2ku masuk kedalam lubang kemaluannya lalu kutusuk2 dengan lembut. Tina merintih keenakan, tangannya makin dalam beroperasi dilubang kemaluanku. Aku juga merintih keenakan. Aku tidak tahu ternyata wanita dengan wanita dapat saling memuaskan dalam urusan sex.

Sekarang Tina sedang menghisap puting buah dadaku, sementara tangannya yang lain terus bermain di klitorisku. Aku merasakan Tina mulai menciumi perutku, lalu memainkan lidahnya di pusarku, aku kegelian, tak lama kemudian lidahnya sudah menjilati kemaluanku.
“Tin jangan disitu ah……kan jorok” Bisikku sambil berusaha mendorong kepalanya. Tapi Tina malah makin merenggangkan pahaku dan klitorisku dhisap2 olehnya, kadang2 lidahnya masuk keluar dalam lubang kemaluanku. Aku sudah tak dapat berpikir sehat lagi, yang kurasakan cuma kenikmatan yang tiada taranya. Tahu2 didepan wajahku sudah ada kemaluan Tina, kedua lututnya ada dikiri kanan kepalaku. Tina tidak menurunkan pinggulnya, jadi aku dapat dengan jelas melihat kemaluanya yang botak. Bibir kemaluannya berwarna merah kehitaman dan kulihat klitorisnya cukup besar menonjol bertengger diatas bibir kemaluannya. Aku menyibak bibir kemaluan Tina, dan kulihat kemaluannya basah sekali oleh lendir yang bening, aku lalu menusuk2 kemaluan itu dengan telunjuk, jari tengah dan jari manisku, kadang2 dengan kelingking juga. Lubang kemaluan Tina sudah agak kendur, mungkin punyaku juga sama. Aku ragu2 mejilat kemaluannya, soalnya aku belum pernah menjilat kemaluan sesama wanita. Tina terus mengeluar masukkan lidahnya dilubang kemaluanku, aku sudah tak tahan lagi.

“Tin….aku hendak keluarrrr…..” Tubuhku bergetar hebat, kurasakan lidah Tina masuk makin dalam kedalam kemaluanku, dan aku merasakan orgasme yang hebat sekali. Sepertinya ini yang paling enak semenjak aku menikah. Tina masih terus menjilati lendirku, aku juga tak perduli lagi, kuraih pinggul Tina lalu ketarik sampai wajahku terbenam disela2 pahanya. Tercium bau yang sama dengan bau kemaluanku. Kujilat2 klitorisnya lalu kumasukkan juga lidahku kedalam lubang kemaluannya, kurasakan lendir asin masuk kedalam mulutku. Aku tidak perduli lagi. Lalu kurasakan ada yang geli di lubang pantatku.

“Aduh Tin jangan disitu dong…..jorok kan?” Kurasakan lubang pantatku berkerut ketika lidah Tina berusaha menerobos masuk. Kemudian aku tak perduli juga, karena aku merasakan kenikmatan yang sama, aku juga melakukan hal yang sama dengan Tina. Kutusuk2 lubang pantatnya dengan lidahku, lubang yang kehitam2an itu jadi becek oleh air liurku dan lendir kemaluannya. Tiba2 Tina seperti tersentak lalu beku…….mulutnya mengeluarkan jeritan kecil, lalu kurasakan ia menekan lubang memeknya makin dalam kewajahku dan menggoyang2kan pinggulnya sehingga hampir seluruh wajahku tersapu oleh kemaluannya.

“Aduuuuh riiin…..enak sekaliii….” Ia memeluk erat2 pinggulku, klitorisku digigit2 kecil olehnya. Tak lama kemudian tubuhnya melemas lalu betul2 lemas sehingga aku tidak bisa bernapas karena tekanan kemaluannya diwajahku. Keringatnya bergulir turun masuk kedalam mulutku. Aku juga benar2 puas sekali.

Kemudian Tina bangun lalu mencium mulutku, kami kembali bergelut sambil mendesah2. Tina menempelkan kemaluannya pada kemaluanku, lalu menggosok2nya. Kira2 15 menit kami berciuman sambil berpelukan erat sampai aku tak merasa kalau aku tertidur.

Entah berapa lama aku tertidur, samar2 aku seperti mendengar suara Remi. Aku membuka mataku dan……astaga!!! Kulihat Tina sedang bergelut dengan Remi dilantai kamarku yang beralaskan karpet biru. Kulihat Tina sedang menjilat2 kemaluan Remi yang sudah keluar dan berwarna merah sekali. Mulut Tina berlumuran cairan yang keluar terus dari kemaluan anjing itu, dan anjing itu bersuara kecil sepertinya keenakan kemaluannya dihisap oleh Tina. Kemaluan Remi cukup besar, mungkin karena anjing herder dan cairan seperti lendir itu terus keluar menetes netes, dan Tina mencerucup cairan itu……

“Tin!! Gila kamu……kok sama Remi sih???” Aku memberondong Tina. Tapi lagi2 Tina tidak menjawab, yang kulihat kemudian ia berusaha menuntun kemaluan Remi memasuki kemaluannya. Dan Kudengar rintihan Tina ketika kemaluan yang cukup besar itu masuk kedalam lubang kemaluannya. Kulihat Remi menggerakkan bokongnya dengan amat cepat, lalu tidak berapa lama kemudian terdengar Remi mendeking halus lalu dari sela2 kemaluan Tina kulihat cairan merembes keluar banyak sekali, seperti air kencing tapi juga seperti lendir yang encer. Kulihat Tina mengerang2 lalu tangannya meraih kemaluan Remi dan dimasuk keluarkan sendiri olehnya. Melihat pemadangan itu tubuhku kembali bergidik, ada perasaan aneh merayap kedalam jiwaku. Aku tahu bahwa aku terangsang oleh aksi Tina. Tanpa sadar aku juga turun kelantai dan kepalaku mengarah menuju selangkangan Tina. Kulihat dari dekat kemaluan Remi masih digerak2an Tina keluar masuk dalam kemaluannya, dan dari kemaluan hewan itu masih terus menetes lendir, sedangkan kemaluan Tina kulihat sudah merah sekali, juga kulihat lendir Remi memenuhi kemaluan Tina.

“Rin….dijilat Rin….tolonglah Rin” Rintihan Tina makin merangsang nafsuku. Seperti ada yang mendorong, kepalaku segera menyusup keselangkangan Tina. Pelan2 kujilat kemaluan Tina yang sangat banjir itu. Aku merasa cairan kemaluan Remi terasa asin sekali, tapi baunya tidak menyengat. Seperti kesetanan aku menghirup dan mencelucupi kemaluan Tina. Persis seperti Remi jika sedang minum air. Lidahku menguak bibir kemaluan Tina, lalu masuk menjelajahi seluruh dinding vaginanya.

“Riiiiiiinnnnnn……….” Tina merengek hebat,pinggulnya terangkat menekan mulutku. Aku tak perduli lagi. Kemudian aku berpindah menghisap kemaluan Remi, kumasukkan seluruh kemaluannya kedalam mulutku. Penis Remi terasa panas dalam mulutku dan aku mencium bau hewan itu, tapi pikiranku sudah gelap yang ada hanya nafsu yang selama ini terkubur dalam2 dan kini meledak tak terbendung.Aku tahu aku bakalan menyesali perbuatanku setelah ini.

Aku terus menjilat dan mengulum penis Remi. Anjing itu mendeking2 pelan, kadang2 berusaha menghindar, tapi Tina memegang kedua kakinya dengan erat. Tak lama kemudian dari penis Remi menyembur cairan panas kedalam mulutku. Kumasukkan seluruh penis Remi lalu kusedot2, anjing itu mencoba memberontak, entah kenikmatan atau kegelian. Tina memajukan wajahnya lalu kami saling berciuman, kukeluarkan sebagian cairan Remi kedalam mulutnya. Wajah kami sudah basah oleh cairan encer itu.

Sekarang aku berbaring dibawah Remi, kemudian Tina mulai menghisap kemaluan Remi agar nafsu Remi kembali. Setelah itu Tina mencoba memasukkan penis Remi kedalam vaginaku. Ternyata penis itu kebesaran untuk lubang vaginaku. Mungkin lubang vaginaku menciut sepeninggal suamiku yang meninggal 4 tahun yang lalu. Kepala penis Remi yang meruncing itu masuk sedikit, tiba2 Remi mendorong keras sambil menusuk2 cepat sekali. Aku merasa agak perih, tapi kemudian kurasakan kenikmatan yang tak terbayangkan, lubang vaginaku seperti ditusuk oleh mesin penggerak yang amat cepat. Aku tak tahu bagaimana melukiskannya sampai aku mencapai orgasme yang sangat hebat. Seluruh rambut ditubuhku seperti berdiri tegak membuatku merinding. Tak lama kemudian aku merasakan cairan panas menyemprot dalam vaginaku, aku berusaha mengeluarkan penis Remi, tapi hewan itu seperti tak perduli, aku pasrah membiarkan seluruh cairannya keluar dalam vaginaku. Kemudian Tina menyuruhku jongkok diatas wajahnya. Tina melumat vaginaku dengan penuh nafsu, kulihat dari vaginaku mengalir cairan Remi yang tersisa, mengalir seperti air kencing masuk dalam mulut Tina. Akupun tidak mau ketinggalan, kulumat juga vagina Tina yang sekarang sudah agak lembab dan lengket.

Hari itu aku dan Tina bersetubuh 3 kali, pagi, siang dan malam hari. Aku tak mengerti lagi apakah aku ini normal atau tidak. Yang pasti kebutuhan yang selama ini tak tersalurkan, kini menemukan muaranya. Aku sangat menyesal dengan perbuatanku yang mungkin bertentangan dengan agama yang kuanut, tapi aku terus menerus melakukannya dengan Tina. Seolah2 kami sudah tak terpisahkan. Tina selalu mempunyai ide2 yang baru dalam setiap permainan kami. Aku juga tak tahu apakah aku harus berterima kasih padanya atau mengutuknya. Dan belakangan aku Tina mengatakan bahwa hampir semua ibu2 yang kukenal pernah diajak berlesbi olehnya.

cerita seks sex Dijebak

cerita seks sex Dijebak

Sebut saja namaku Tasha. Agustus kemarin baru saja aku merayakan ulang tahunku yang ke 36. Sebuah perayaan ulang tahun yang sangat berkesan buatku.Sebagai ibu rumah tangga dengan suami yang luar biasa sibuk,aku sering merasa jenuh di rumah.Pergaulanku pun tidak terlalu luas. Aku bukan tipe wanita yang senang kumpul-kumpul,ke kafe,hura-hura dan sebagainya.Hiburanku paling hanya TV,telepon dan komputer.Aku sering chating untuk menghilangkan kejenuhanku.Dari chat itulah aku mulai mengenal yang namanya perselingkuhan.Kepulangan suamiku yang hanya empat-lima hari dalam sebulan jelas membuatku sepi akan kasih sayang.Dan tentunya sepi pelayanan.Tapi mungkin aku juga terpengaruh oleh teman-teman chatku.

Sebelum kenal chating,aku tidak begitu perduli dengan kesepian.Namun setelah banyak bergaul di chat,aku mulai merasa bahwa selama ini hasrat birahiku tak pernah terpenuhi.Ronny adalah pria pertama yang berselingkuh denganku.Usianya lima tahun lebih muda dariku dan sudah menikah. Tubuhnya cukup ideal dan aku puas setiap berkencan dengannya. Namun kami tidak bisa sering-sering karena istri Ronny bukan tipe wanita yang bisa dibohongi. Setelah Ronny aku pun semakin membuka diri dengan menggunakan nick chat yang bikin penasaran. Beberapa pria mulai sering mengisi kekosongan birahiku. Ada Ferry, manager sebuah perusahaan kontraktor berusia 30 tahun yang lihai memancing birahiku. Lalu ada Dhani yang seumuran denganku yang tidak pernah puas dengan pelayanan istrinya. Dan masih ada beberapa lagi.Aku mulai mengenal daun muda ketika berkenalan dengan Chris, mahasiswa salah satu PTS di Jakarta yang usianya lebih muda 15 tahun dariku. Waktu itu aku agak segan berkenalan dengannya karena usianya yang terpaut jauh sekali denganku. Namun Chris memberiku pengalaman lain. Suatu ketika dia datang ke rumahku saat rumahku sedang sepi. Dan dengan gairah mudanya yang menggelegak, Chris memberikan sensasi tersendiri padaku. Apalagi dengan ‘Mr. Happy’ miliknya yang king size. That was great.Aku pun jadi tertarik dengan daun-daun muda yang bertebaran di chat room. Sampai akhirnya aku mengoleksi sekitar 20 daun muda dengan usia antara 17-25 tahun yang keep contact denganku. Memang baru 4 orang dari mereka yang sempat berkencan denganku, namun yang lainnya tetap aku kontak via telepon. Hingga akhirnya menjelang ulang tahunku Agustus kemarin aku punya rencana yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Aku mengontak 8 daun muda yang kupilih untuk merayakan ulang tahun bersamaku. Pilihan pertama jatuh pada Felix, siswa kelas 3 di salah satu SMU yang cukup terkenal di Jakarta Selatan.“Halo tante..”, sapanya ceria ketika aku menghubungi HP-nya.“Ya sayang, Sabtu ini ada acara nggak?”, tanyaku tanpa basa-basi.“Ya biasa tante, paginya sekolah dulu”, jawabnya sedikit manja.“Tapi sorenya free kan, tante ada acara nih..”, tanpa kesulitan Felix menyanggupi undanganku.

Selanjutnya Arga, mahasiswa salah satu PTS di Depok. Tanpa kesulitan pula Arga menyanggupi undanganku.Kemudian Frans, salah seorang instruktur di pusat kebugaran milik seorang binaragawan ternama di negeri ini. Frans juga menyanggupi. Aku senyum-senyum sendiri membayangkan tubuh Frans yang tegap berotot dan ukuran Mr. Happynya yang.. wow! Aku pernah sekali berkencan dengannya dan aku takjub dengan Mr. Happy miliknya yang panjangnya 3 kali Nokia 8850 milikku. Selanjutnya Dodi, siswa SMU di salah satu sekolah swasta yang cukup elit di bilangan Jakarta Selatan. Lalu Stanley, mahasiswa PTS ternama di daerah Grogol dengan sepupunya Jonathan yang juga kuliah di tempat yang sama. Lantas Rhino, gitaris di salah satu kafe di daerah Selatan. Dan terakhir tentu saja Chris, daun muda pertamaku.Hari yang kunantikan pun tiba, tepatnya sehari sebelum ulang tahunku.Pagi-pagi sekali aku menitipkan Juliet, anakku yang duduk di bangku SMP, ke rumah kakakku. Aku beralasan ada reuni SMA weekend ini. Setelah itu aku mampir ke salah satu bakery di bilangan Hayam Wuruk untuk mengambil kue ulang tahun pesananku. Kemudian aku langsung check in di suite room salah satu hotel berbintang di daerah Thamrin. Di kamar aku segera re-check daun-daun mudaku untuk memastikan kehadiran mereka. Semua beres, mereka akan hadir sekitar jam 5 sore.Sekarang baru jam 11 siang. Cukup lama juga sampai jam 5 sore nanti. Sambil tiduran di ranjang aku membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Kok malah jadi horny. Aku mondar-mandir di kamar tak karuan. Untuk mengusir kejenuhan aku turun ke bawah, sekalian mencicipi makan siang di restoran hotel tersebut. Di salah satu meja, aku melihat 5 orang wanita seusiaku dan 1 orang pria yang wajahnya masih cute sekali.

Mungkin masih kuliah atau sekolah. Mereka makan sambil ngobrol dan tertawa-tawa. Sama sekali tak menyadari kehadiranku,sampai akhirnya salah seorang dari wanita-wanita itu beradu pandang denganku. Dia memberitahu yang lain, dan si cute melambai ke arahku. Aku tersenyum dan membalas lambaiannya.Selesai makan, aku mendapat selembar memo dari salah seorang pelayan. Aku membaca isi pesannya, “DANIEL, 0856885— PLZ CALL ME”. Aku tersenyum. Sampai di kamar, aku menghubungi nomor tersebut.“Halo..” terdengar ribut sekali di ujung sana.“Halo, Daniel?” tanyaku.“Ya, siapa nih?” tanya si pemilik suara itu lagi.“Aku dapet memo dari kamu..”“Ohh.. iya, nama kamu siapa?” kami berkenalan, dan ternyata Daniel adalah si cute yang aku lihat di resto bersama 5 wanita tadi. Dan aku surprise sekali setelah mengetahui bahwa Daniel juga sedang merayakan ulang tahunnya hari ini. Dia juga surprise setelah kubilang bahwa aku juga akan merayakan ulang tahun di sini. Kemudian Daniel mengundangku untuk merayakan ulang tahun di kamar yang disewanya di bawah. Kebetulan! Sambil mengisi waktu nggak ada salahnya pemanasan dulu.Family room yang disewa Daniel penuh dengan balon aneka warna. Kelima wanita yang kulihat tadi ada di situ. Salah satunya adalah adik maminya Daniel, dan yang lain teman-temannya. Rupanya Daniel ‘dipelihara’ sebagai gigolo oleh kelima wanita tersebut.Candra, adik maminya Daniel adalah wanita pertama yang mengenalkan anak itu ke dalam dunia seks. Lalu ada Shinta dan Melly, teman kerja Candra, serta Yuni dan Liana, teman aerobik Candra.

Dan hari itu mereka berlima sepakat untuk merayakan ulang tahun Daniel di kamar tersebut sejak tadi malam. Tepat jam 12 tadi malam Daniel menirima suapan kue ulang tahun dari mulut wanita-wanita itu secara bergantian, dan jam 5 pagi tadi mereka baru selesai melepas birahi bersama.Acara kali ini semacam games, dimana Daniel dalam keadaan telanjang bulat diikat dengan mata tertutup atas ranjang dengan penis yang tegak. Kemudian secara acak kelima wanita itu memasukkan penis Daniel ke dalam vagina mereka, dan saat itu Daniel harus menebak, siapa yang sedang menindihnya. Kalau benar, Daniel diperbolehkan melepaskan ikatannya dan melepas birahinya dengan wanita yang tertebak. Tapi kalau salah, wanita tersebut akan menyodorkan vaginanya ke mulut Daniel, dan anak itu harus memuaskannya dengan lidahnya.Aku menyaksikan permainan yang seru itu di salah satu kursi di situ. Ramai sekali mereka bermain. Kadang aku senyum-senyum ketika Daniel salah menebak. Anak itu lihai sekali melakukan oral sex, sudah 3 wanita yang klimaks akibat permainan lidahnya. Aku menikmati permainan itu, yang ujung-ujungnya mereka kembali berpesta sex berenam. Candra mengajakku bergabung. Sebetulnya aku agak keberatan, karena aku belum pernah melakukan hubungan seks dengan melibatkan wanita lain. Namun aku ngiler juga melihat tubuh Daniel yang cukup oke itu, apalagi dengan penisnya yang wow!Lumayan juga buat pemanasan. Aku sempat dua kali klimaks di pesta mereka. Yang pertama dengan Daniel, dan yang kedua..ehm, saat oral sex dengan Liana. Jujur saja, awalnya aku agak jengah ketika merasakan kulit tubuhku bersentuhan dengan kulit wanita-wanita itu, apalagi saat menyentuh bagian-bagian sensitif.

Namun gairah birahi yang menyala-nyala dapat membuatku melupakan semua rasa risau tersebut. Akhirnya aku sangat menikmati juga bermain dengan wanita-wanita itu.Sayangnya menjelang jam 5 aku harus selesai lebih awal, kerena sebentar lagi orang-orang yang akan merayakan ulang tahunku akan datang. Padahal aku baru saja menikmati permainan mereka. Aku pun pamit, namun sebelum kembali ke kamar aku mengundang mereka ke kamarku untuk bergabung dengan pesta ulang tahunku nanti malam. Mereka setuju, terutama kelima wanita tersebut karena mendengar ada 8 daun muda yang kuundang untuk memuaskan hasratku.Masih kurang lima menit, aku menunggu sendirian di kamar yang luas tersebut. Frans yang pertama kali datang. Pria bertubuh tegap itu langsung mencium bibirku sambil mengucap happy birthday. Dengan gaya jantannya Frans bermaksud menggendong tubuhku seperti biasa, namun aku menahannya.“Ntar Frans, tunggu yang lain..”, kataku.Wajah Frans terlihat bingung.Aku pun menjelaskan rencana ulang tahunku kepadanya. Pria itu tertawa terbahak-bahak“Gila.. tante maniak banget ya, emang kuat?”, goda Frans.Aku tersenyum. Tak lama kemudian Chris datang. Anak itu terkejut mendapati ada pria lain di kamar itu. Aku pun kembali menjelaskan rencanaku kepadanya. Chris sampai geleng-geleng. Lalu Felix dan Dodi datang secara bersamaan dengan raut wajah keduanya yang sama-sama bingung. Chris dan Frans tertawa-tawa melihat kebingungan mereka. Kemudian Stanley dan Jonathan juga datang bersamaan, namun mereka tidak terlalu kaget karena aku sering bermain bertiga dengan mereka. Lalu Arga, dan terakhir Rhino.Lengkaplah sudah. Aku mengajak mereka ke sauna untuk mandi bersama. Aku melihat beberapa dari mereka agak risih. Mungkin mereka tidak terbiasa berada dalam satu ruangan dengan sesama pria dalam keadaan telanjang. Hanya Stanley, Jonathan, Frans dan Chris yang bisa menguasai keadaan. Yang lain masih terlihat agak nervous.

Selesai bersauna,aku mengeluarkan anggur yang kubawa dari rumah tadi. Anggur itu sudah kucampur dengan obat perangsang dan obat kuat konsentrasi tinggi. Aku jamin siapa pun yang meminumnya mudah sekali terangsang dan dapat bertahan lama. Aku memberikan mereka satu persatu. Kemudian kita ngobrol-ngobrol di atas ranjang sambil minum. Oya, semenjak dari sauna tadi, tak satu pun tubuh kami yang ditutupi pakaian. Kami sudah bertelanjang bulat.Kami terus ngobrol-ngobrol sambil aku menunggu reaksi obat tersebut. Sekitar setengah jam kemudian mereka mulai menunjukkan gejala-gejala terangsang. Beberapa bahkan penisnya mulai mengeras. Aku mencoba membakar gairah mereka dengan menjamahi tubuhku sendiri. Sambil minum kuusap-usapkan tanganku ke seluruh tubuh, kumainkan payudaraku, dan kuusapi permukaan vaginaku. Aku tertawa dalam hati. Dari tingkah laku dan ekspresinya, jelas sekali kalau birahi mereka sudah naik ke kepala. Namun tak ada yang berani memulai, sampai Chris yang duduk di dekat kakiku memberanikan diri menyentuhku.Frans ikut-ikutan menjamah tubuhku, disambung Felix, dan akhirnya semua bergumul menyentuhku. Ah great! The party has just begun.Aku asyik berciuman dengan Frans dengan panuh nafsu, sementara Arga dan Dodi menjilati kedua payudaraku. Tangan kiriku asyik mengocok penis Felix sedangkan yang kanan dengan lincah memuaskan Chris. Lidah Jonathan menari lincah di perutku, memberikan sensasi kenikmatan tersendiri.

Sementara Stanley dan Rhino melengkapi kenikmatan dengan menjelajahi daerah di bawah perut dengan lidah dan jari-jari mereka. Ahh.. baru kali ini aku merasakan gejolak yang luar biasa. Setiap jengkal tubuhku rasanya dimanja dengan sentuhan mereka. Kami pun bertukar-tukar posisi.Hampir dua jam kami melakukan fore-play tersebut. Chris yang pertama berhasrat menembus lubang vaginaku. Sambil bersandar di dada Frans yang bidang, sementara Stanley dan Felix asyik mencumbui tubuhku yang terawat, aku menerima kenikmatan yang diberikan Chris. Ahh.. anak itu hebat sekali memainkan temponya. Penisnya yang memang berukuran besar terasa memenuhi vaginaku. Setelah Chris, gantian Jonathan yang menghujamkan penisnya yang bertindik mutiara itu ke dalam vaginaku.“Ahh.. ahh.. terus Jo.. aaahhh..”, aku mulai mendesah merasakan bola mutiara itu memijit-mijit dinding vaginaku.Uhh.. nikmat sekali. Daun mudaku yang satu ini memang kreatif sekali mendandani penisnya. Suatu kali saat aku berkencan dengannya, Jonathan memasang sepuluh anting-anting kecil yang terbuat dari silikon di sekeliling leher penisnya.Hasilnya..wow, aku mengalami multi orgasme hingga 17 kali berturut-turut. Saat itu hampir aku kehabisan nafas.Seperti biasa saat aku main dengan Jonathan, Stanley kumat gilanya. Penis Jonathan yang berdiameter 5 cm itu sudah hampir memenuhi vaginaku, Stanley menambahnya dengan menghujamkan penisnya yang berukuran kurang lebih sama dengan Jonathan ke dalam vaginaku. Akkhhh.. nikmatnya! Aku sampai menggigit tangan Felix yang sedang memelukku.“Ahh.. ahh.. ooohhh..”, birahiku semakin memuncak.

Saat itu Rhino langsung menyumpal mulutku dengan penisnya yang belum disunat itu. Mmm.. nikmat sekali.Aku mengulum dan memainkan ujung penis Rhino yang kenyal. I like this.. aku menggigitinya seperti permen karet. Anak itu mengerang keasyikan. Aku merasa birahiku semakin memuncak. Dan..ahhh, aku pun mencapai orgasmeku. Jonathan dan Stanley mencabut penis mereka pelan-pelan. Kemudian gantian Stanley yang memasukkan penisnya yang basah itu ke dalam mulutku.Di bawah, Frans kembali bergumul dengan vaginaku. Lidahnya lincah menari-nari membangkitkan kembali gairahku hingga birahiku kembali naik. Lantas dituntaskannya dengan penis supernya tersebut. Ahhh.. nikmatnya. Kami terus berpesta, bergumul dan berganti-ganti posisi. Tanpa terasa malam hampir mencapai pukul 12. Artinya sebentar lagi hari ulang tahunku akan tiba. Saat itu segenap kepuasan telah menyelimuti kami dari pesta sejak sore tadi. Tubuh-tubuh macho itu tergeletak melepas ketegangannya di tengah-tengah tubuhku, sambil kami bercumbu-cumbu kecil.Akhirnya alarm handphoneku yang sengaja kupasang, berbunyi. Now it’s the time!Tepat jam 12 aku mengeluarkan kue ulang tahun yang kubeli tadi siang dari dalam lemari es,kuletakkan di atas meja.

Kedelapan daun mudaku berdiri mengelilingi meja tersebut. Acara potong kue pun dimulai. Potongan pertama kuletakkan di atas cawan, kemudian kuberikan pada Chris yang berdiri di sebelahku. Kusuapkan sepotong ke mulutnya dengan mulutku. Kemudian potongan kedua kuberikan pada Frans dengan cara yang sama. Lalu berturut-turut Stanley, Jonathan, Arga, Dodi, Rhino dan terakhir Felix.Kami pun berpesta dengan kue itu dan tentunya beberapa botol anggur yang telah kuberi obat perangsang tadi. Selesai makan, atas ide Frans aku diminta berbaring di atas meja, kemudian tubuhku dibaluri sisa krim dari kue dan sedikit disirami anggur. Kemudian dengan buas, kedelapan daun mudaku melumat tubuhku dengan lidah mereka. Ahh.. nikmat sekali rasanya. Aku merasa seperti ratu yang dimanja gundik-gundiknya.Mereka tak hanya menjilati, tapi juga mencumbui seluruh permukaan kulitku. Sshh.. oohhh.. Felix memang pintar sekali menjelajahi payudaraku. Anak itu berduet dengan Arga melumat payudara dan puting susuku. Frans, Rhino dan Chris asyik berebutan mengeroyok vagina dan pantatku. Uhhh.. rasanya vaginaku ingin meleleh dibuatnya.Sudah 8 kali aku orgasme dengan permainan ini, namun mereka terus asyik melumat tubuhku tanpa henti. Gila, obat perangsang pemberian salah seorang temanku itu memang top banget.“Sshhh.. ooohhh..”, untuk yang ke-9 kalinya aku mencapai orgasme.Karena tak tahan aku pun bangkit. Tubuhku sudah basah oleh air liur mereka. Aku melirik ke jam di handphoneku. 00:57. Sebentar lagi Daniel dan tante-tantenya akan kemari.“Sebentar ya sayang..”, aku menyingkir sedikit dari daun-daun mudaku untuk mengirim SMS ke Daniel.Tak lama kemudian anak itu membalas. Yup, confirm! Mereka sedang di lift dan sebentar lagi akan tiba.“Ok sayang.. kalian semua betul-betul hebat. Tante senang sekali merayakan pesta ulang tahun seperti ini. Nah.. sebagai imbalan, tante punya surprise buat kalian semua..”, cetusku sambil senyum-senyum.

Kedelapan pria itu saling berpandangan dengan bingung.“Wah, surprise apalagi nih tante?”, tanya Chris.Aku mengecup bibir anak itu.“Liat aja bentar lagi”, jawabku.Baru saja aku meyelesaikan kalimatku, pintu kamar berbunyi. Aku segera memakai kimono dan menghampiri pintu.“Happy birthday Tasha..”Daniel dan tante-tantenya berteriak ribut mengejutkan semua pria yang ada di dalam kamarku. Aku mempersilakan masuk dan mengenalkan mereka. Melihat kedelapan daun mudaku yang tanpa busana, kelima wanita itu langsung menanggalkan pakaian mereka tanpa basa-basi.“Oke semua, this is the real party.. Enjoy it!”, seruku pada mereka.Bagai pasukan yang dikomando, mereka langsung mencari pasangan dan memilih tempat masing-masing untuk melepas birahinya. Aku menghampiri Daniel yang masih berpakaian lengkap.“Sayang.. sekarang saatnya kita berduaan. Biar saja mereka berpesta, tante ingin menikmati tubuh kamu sendirian.. mmm.. mmm..”, desahku seraya mencium bibir Daniel.Pria macho itu langsung menggendong tubuhku dan membawaku ke bathroom. Daniel mendudukkanku di atas meja wastafel, dan kami pun melanjutkan ciuman kami. Tanganku lincah melucuti kemeja yang membungkus tubuh Daniel. Anak itu juga melepas kimono yang kupakai. My God! Untuk kesekian kali aku mengagumi tubuh kekar Daniel yang putih itu. Aku mendekap tubuhnya hingga dadanya menempel ketat di payudaraku. Ssshh.. hangat sekali. Daniel menciumi leher dan bahuku habis-habisan. Gairahku kembali naik.

Dengan lembut Daniel mendorong tubuhku hingga setengah berbaring di atas wastafel tersebut. Kemudian dengan liar anak itu menjelajahi tubuhku dengan lidahnya. Ahhh.. dia pintar sekali mencumbui puting susuku. Sementara sebelah tangannya mengusap-usap permukaan kemaluanku. Kedua tanganku sampai meremas rambut Daniel untuk menahan kenikmatanku. Daniel membasahi jari-jarinya dengan lidahnya, kemudian dimasukannya jari tengahnya yang kekar itu ke dalam lubang vaginaku.“Sshhh.. ooohhh..”, aku mendesah merasakan kenikmatan itu.Daniel melirik ke wajahku yang sedang berekspresi seperti orang ketagihan. Bibir, lidah dan giginya tak henti-henti mencumbui puting susuku. Daniel memang lihai sekali memainkan tempo. Tak sampai lima belas menit, jari-jari Daniel berhasil membuatku klimaks. Aku memeluk dan mencium anak itu.Kemudian gantian aku yang turun ke bawah untuk menikmati penisnya yang aduhai itu. Gila, masih lemesnya aja segini, gimana udah tegang nanti. Penis Daniel yang tidak disunat itu terlihat lucu dengan daging lebih di ujungnya. Dengan lincah aku menjilati sekeliling penis anak itu. Daniel meremas rambutku dengan penuh nafsu. Lidahku mulai menjelajahi batang penisnya yang besar itu. Uhhh.. gila besar sekali. Sampai pegel lidahku menjilatinya. Sesekali Daniel menggesek-gesekkan batang penisnya itu ke mulutku dengan geMas. Aku semakin liar saja melumatnya. Pelan-pelan aku mulai melahap penis Daniel. Mmm.. mmm.. enak sekali. Aku mengulum ujung penis Daniel yang kenyal, dan menarik-nariknya seperti permen karet. Anak itu sempat bergidik menahan nikmat.

Sambil mengulum ujungnya, kedua tanganku memainkan batang penisnya yang sudah basah oleh air liurku itu. Lidahku semakin lincah dan liar.Akhirnya penis Daniel mencapai ukuran klimaksnya. Dan.. wow betul-betul fantastis. Aku mengukurnya dengan jariku. Gila, nyaris dua jengkal tanganku. Kayaknya tadi waktu party bareng tante-tantenya nggak segede ini. Makan apa sih ni anak. Penis Daniel sudah keras,kepalanya sudah menyembul dari balik kulitnya dan urat-urat yang perkasa mulai menghiasi sekeliling batang penisnya. Daniel mengusap-usapkan penisnya ke sekujur wajahku. Ahhh.. nikmat sekali. Sebentar lagi aku akan merasakan kejantanannya.Sambil berpegangan di wastafel, aku siap dengan posisi nungging. Perlahan-lahan Daniel menyelipkan batang penis jumbonya itu ke dalam liang vaginaku. Aahhh.. aku merasa seperti seorang perawan yang baru menikmati malam pertama. Penis Daniel terasa sulit menembus vaginaku. Pelan-pelan Daniel menusukkan semakin dalam, dan.. akhirnya penis Daniel amblas ke dalam vaginaku. Uhhh.. rasanya ketat sekali di dalam.“Shh.. tante.. lubangnya sempit banget sih.. enak banget nih..ahhh..”, Daniel mendesah ditelingaku.

Pelan-pelan Daniel mulai memaju-mundurkan penisnya. Ohh..ohhh..ooohhh.. nikmat sekali. Sementara kedua tangannya yang kekar meremas payudaraku.“Aahhh.. ahh.. Daniel.. aahhh.. enak sekali sayang.. aahhh..”, Aku merasakan tubuhku akan meledak menahan rasa nikmat yang luar biasa.Baru kali ini aku merasa seperti ini. Dan tak lama kemudian aku pun mencapai klimaks. Ahhh.. Daniel mencabut batang penisnya dari vaginaku. Gila, anak itu masih cool aja. Masih dalam posisi berdiri, aku memeluk tubuh kekarnya, sambil menciumi dadanya yang bidang.“Gila, kamu hebat sayang.. mmmhhh..”, desahku seraya melumat bibirnya.Daniel lalu menggendong tubuhku dan dia mulai melumat payudara dan puting susuku. Ahhh.. asyik sekali.“Tante.. aku mau sambil berdiri ya..”, desahnya.Aku mengangguk. Tanpa kesulitan Daniel kembali meyelipkan batang penisnya yang masih keras ke dalam vaginaku yang sudah becek. Oohhh.. kami bermain dengan posisi berdiri. Berat badanku membuat penis Daniel menancap semakin dalam. Nikmat sekali rasanya.Entah berapa kali aku dan Daniel saling melepas nafsu di kamar mandi itu. Tubuhku sampai lemas karena terlalu sering orgasme. Daniel yang masih stay cool duduk di atas toilet, sementara aku duduk di pangkuannya sambil merebahkan tubuhku di dadanya yang bidang.“Hhh.. kamu gila sayang, hebat banget sih..”, cetusku sambil mencubit hidung Daniel.Anak itu tersenyum sambil mengusap rambutku.“Tante juga hebat.. gila tadi tante party sama cowo-cowo itu ya?”, tanya Daniel sedikit takjub.Aku mengangguk manja. Anak itu sampai geleng-geleng.“Kamu juga sering kan party bareng tante-tantemu itu? Hayo ngaku..”, celetukku dengan nada bercanda.Daniel tertawa. Sambil melepas lelah aku berbagi cerita dengan Daniel. Aku sampai geleng-geleng mendengar ceritanya. Di usianya yang masih semuda itu ternyata pengalaman seksualnya jauh lebih banyak dari padaku.

Dengan segala kelebihan fisik yang dimilikinya, anak itu seringkali menyelesaikan persoalan dengan rayuan dan pesona bercintanya. Mulai dari teman sekelasnya yang rela membuatkan PR-nya dan Daniel membayarnya dengan memberi kenikmatan birahi pada si cewe itu. Kemudian tantenya yang kepergok berselingkuh di salah satu restoran, juga merelakan tubuhnya dipuaskan Daniel sebagai imbalan tutup mulut. Bahkan sampai wali kelasnya yang menurutnya memang cantik itu, rela membubuhkan nilai 9 di raport Daniel dengan imbalan pelayanan birahi yang memuaskan dari anak itu.“Tante, kita keluar yuk, kayaknya pada berisik banget deh..”, ajak Daniel tiba-tibaAku mengangguk setuju. Sejak tadi memang di luar kamar mandi tersebut berisik sekali. Suara lenguhan, desahan sampai jeritan manja sayup-sayup terdengar saat aku berpacu nafsu dengan Daniel di kamar mandi tadi.Betapa terkejutnya aku ketika keluar dari kamar mandi melihat pemandangan yang selama ini hanya dapat aku nikmati lewat blue film. Para daun mudaku tersebar di berbagai sudut asyik berbagi kenikmatan dengan tante-tantenya DanielJonathan dan Stanley yang selalu kompak asyik memuaskan Shinta di salah satu sofa. Arga, Rhino dan Dodi juga sibuk menggumuli Melly, yang paling cantik dan seksi di antara wanita-wanita itu. Sementara Candra bagai seorang ratu tergolek di atas ranjang, sementara Chris dan Felix dengan buas menggeluti tubuhnya yang memang mulus. Si macho-ku Frans rupanya yang jadi favorit sampai Yuni dan Liana berebut menikmati Mr. King-nya. Aku geleng-geleng melihatnya seraya memeluk tubuh Daniel yang ada di sebelahku. Inikah yang namanya orgy? Betul-betul gila. Aku tak menyangka kalau pesta ulang tahunku menjadi sefantastis ini.Aku dan Daniel pun bergabung dengan mereka. Entah berapa jam lamanya aku larut dalam pesta gila itu,kami berganti-ganti pasangan seenaknya.

Entah sudah berapa kali kami orgasme. Namun khasiat obat perangsang yang kubawa itu memang luar biasa. Stamina kami seperti tak ada habis-habisnya.Pesta gila itu akhirnya terhenti oleh Candra yang punya ide untuk bikin games. Wanita itu ingin membuat game seperti yang dilakukannya pada Daniel sore tadi sebagai hadiah ulang tahunku. Tentu saja aku setuju. Dengan posisi nungging, aku berlutut di atas ranjang. Kepalaku rebah di atas bantal,mataku tertutup, sementara kedua tanganku diikat. Kedua pahaku kubuka lebar-lebar. Permainan pun dimulai. Pria-pria yang ada di situ secara acak akan memasukkan batang penisnya ke dalam vaginaku. Jika aku bisa menebak siapa yang sedang beraksi,aku boleh melepas ikatanku dan melapas hasratku dengan pria tersebut. Namun jika aku salah menebak, aku harus mengulum penis pria tersebut sampai dia orgasme.Suasanya sunyi senyap. Penis pertama mulai menyusup perlahan ke dalam lubang vaginaku.Aku berharap penisnya Jonathan, karena mudah sekali mengenalinya. Perlahan penis itu terus masuk ke dalam liang vaginaku. Ups.. tidak ada aksesoris apa-apa. Berarti bukan Jonathan. Siapa ya? Aku jadi penasaran.Penis itu sudah amblas seluruhnya kedalam vaginaku. Ughh.. nikmatnya. Tapi siapa ya? Aku melakukan kegel untuk memancing desahan pria itu. Sial, nggak bersuara. Yang ada malah suara Shinta, Melly, Candra, Yuni dan Liana yang berah-uh-ah-uh mengacaukanku. Ah.. aku betul-betul bingung.“Stanley?” tebakku.Wanita-wanita itu cekikikan. Sang pria sama sekali tak bersuara.

Tiba-tiba tubuh pria tersebut menunduk hingga aku bisa merasakan dengusan nafasnya. Dibukanya tutup mataku.“Aww.. Chris!”, teriakku.Gimana aku nggak bisa ngenalin sih. Dasar. Mereka semua tertawa. Sebagai konsekuensi, aku harus mengulum penisnya sampai anak itu orgasme. Permainan terus berlanjut. Berkali-kali aku gagal. Mungkin ada sekitar 7 kali aku tidak bisa menebak. Padahal kadang salah seorang dari mereka beraksi lebih dari satu kali. Tapi aku tetap tidak mengenali. Sialnya Jonathan malah melepas aksesoris yang menjadi ciri khasnya. Huh.. Tapi aku senang. Bukan Tasha namaku kalau tidak mengenali penis si macho, Frans. Aku langsung menjerit keasyikan begitu tahu tebakanku tepat. Dengan cool Frans melepaskan ikatanku dan kami melepas birahi dengan ditonton oleh yang lain. Setelah orgasme, permainan dilanjutkan.Berikutnya ketebak lagi. Gimana nggak, siapa lagi yang penisnya bisa membuatku merasa seperti perawan. Ughhh.. nikmat sekali saat penis super besar itu amblas di dalam vaginaku. Aku yang memang sudah bisa menebak mencoba mengulur waktu sebentar. Nikmat sekali penis ini. Aku melakukan kegel berkali-kali, hingga tiba-tiba penis itu memuntahkan spermanya yang kental di dalam vaginaku. Si pemilik penis mengerang menahan nikmat. Aku bisa mendengar suara gumaman heran orang-orang yang ada di situ.“Gotcha Daniel!”, seruku sambil tersenyum penuh kemenangan.Yang lain berteriak heboh. Daniel pun langsung membuka tutup mata dan tali yang mengikatku.“Tante curang ih..”, rajuknya manja.Aku tertawa dan memeluk tubuh anak itu. Kami pun bercumbu sambil disaksikan yang lain. Tak butuh waktu lama untuk mengembalikan birahi Daniel setelah aku ‘mencuri’ spermanya tadi. Dengan gayanya yang buas, Daniel membuat kami orgasme bersama.Permainan itu berlangsung sampai menjelang pagi. Setelah semua selesai, Daniel dan tante-tantenya pamit untuk kembali ke kamarnya.

Sementara aku juga mau istirahat. Kami pun tertidur pulas sekali. Lewat jam dua belas kami baru bangun. Satu persatu daun mudaku pamit pulang, hingga akhirnya aku sendirian di kamar yang besar itu.Sambil berdiri di pintu, aku menyaksikan pemandangan kamar yang berantakan. Botol-botol minuman berserakan di mana-mana, begitu juga krim-krim bekas kue. Posisi kursi, meja dan sofa sudah nggak jelas, ranjang apalagi sudah mawut-mawutan. Tapi aku merasa puas sekali. Betul-betul pesta ulang tahun yang berkesan. Dan yang lebih berkesan lagi aku dapat daun muda baru, Daniel.Sejak kejadian itu, aku menjadi akrab dengan Daniel dan juga tante-tantenya. Aku jadi bersahabat karib dengan Candra. Dan dari mereka juga aku mulai mengenal kehidupan malam. Petualangan sex-ku pun makin beragam. Aku mulai sering ikut acara-acara gila yang diadakan Candra dan teman-temannya.Februari kemarin, aku bercerai dengan suamiku. Toh aku pikir ada atau nggak ada suami sama saja. Dia jarang sekali di rumah.Hak asuh Juliet pun kuserahkan dengan ikhlas pada suamiku. Dan kini aku semakin bebas tanpa adanya suami dan anak. Aku bisa keluar rumah sesukaku dan ikut acara-acara gilanya Candra. Bahkan tak jarang aku menjadi tuan rumah untuk acara-acara tersebut, karena rumah peninggalan suamiku ini memang besar sekali. Aku pun juga bebas mengundang daun-daun mudaku ke rumah untuk memuaskanku kapan saja aku mau.

cerita seks sex Kehidupan Yang Indah

cerita seks sex Kehidupan Yang Indah

Oh yah, anggap saja namaku Alvi, pria 27 tahun. Hmm, bagaimana aku harus menjelaskan diriku yah? Hmm, kalian tahukan, untuk buang angin yang tidak kelihatan saja, aku malu untuk sombong ke orang lain, apalagi untuk identitas aku yang kelihatan. Jadi maaf yah, aku sembunyikan detail-detail khusus. Jadi jangan berusaha menebak-nebak yah, walaupun ini kejadian nyata. Dan kalau berharap untuk kisah Superman bermain seks, sepertinya lebih bijak untuk click ke cerita yang lain. Ini cuma kisah nyata sederhana yang diceritakan dengan sopan, setidaknya itulah yang bisa kulakukan untuk menghormati kaum Ibundaku.

“Sialan, kamu cantik banget, huahaha.” Iya, aku masih ingat kata-kata spontan yang keluar waktu pertama kali kenalan dengan Zefa-nya. Anya seorang model dan banyak prestasi di bidang yang berhubungan dengan kecantikan (no list okay). Tidak, tidak seperti bidadari, cuma teman abangku. Dan aku tidak macam-macam dengan teman abangku, kecuali mencoba untuk membuat suasana yang akrab dengan membuat sambutan yang menyenangkan. Amat disayangkan untuk penggemar fisikisme pasti amat tidak menyenangkan kalau aku tidak mampu menceritakan tentang fisik Anya sedetail-detailnya. Lagi pula aku bukan tukang jahit yang membawa meteran kemana-mana. Tapi Anya setinggi dahiku, dan tinggiku 179 cm. Aku akan buang waktu untuk menjelaskan kecantikannya. Sediakan saja syarat fisik wanita cantik idaman kamu, fisik Anya akan memenuhi syarat kamu di atas tiga perempatnya. Lupakan kalau berpikir langsung adegan ranjang, kalau langsung demikian, aku sudah berangkat ke Hollywood menggantikan Tom Cruise.

Untuk waktu yang panjang, aku sibuk dengan diriku sendiri, demikian juga dia. “Ih, hebat banget ada bunga yang bisa mencet bel,” kataku kepada anjingku, tapi sambil cuek kubukakan pintu untuk Anya. Iya, sore itu Anya muncul di rumahku, sambil berbicara imut sekali juga senyum-senyum dengan anjingku dari luar pagar. Dia suka sekali anjing, demikian ceritanya sambil berdiri di halaman. Satu hal yang menarik adalah anjing yang dia miliki adalah hanya seekor anjing kampung betina, biasa saja bukan. Yang penting adalah bagaimana merawatnya, bukan jenis apa anjing itu, demikian penjelasannya. Anya sebenarnya ingin mengembalikan beberapa barang yang dipinjamnya dari abangku, tapi kebetulan abangku tidak ada. Kami jadi tertawa-tawa dan membahas bunga-bunga mawar dan bunga matahari yang ada di tamanku. Aku memang kadang abdi rumah tangga, soalnya aku ‘kan cuma tinggal berdua satu rumah, jauh dari Ayahanda dan Ibunda.

Anya mengajakku untuk makan malam dan menemaninya undangan perkimpoian anak dari rekan bisnis ayahnya. Satu hal yang membuat kami tertawa sepanjang malam itu adalah kami mengenakan satu warna yang sama, yaitu merah maroon. Anya mengenakan gaun malam terusan yang menutup ketat tubuhnya, sementara aku mengenakan kemeja merah maroon juga. Seperti kembaran dan banyak orang-orang yang menyapanya menanyakan hal itu. Tidak ada cerita jorok, cuma menceritakan satu moment yang membuat kami dekat.

Oh yah, sebelum menuruniku dari mobilnya, dia mengucapkan terima kasih kepadaku untuk membuat dia tertawa dan tersenyum. Itu merupakan kombinasi make-up yang pas untuk wajahnya, katanya. Terus kujawab juga bahwa kalau aku ini ada keturunan super hero juga, sama-sama membasmi kesedihan dari muka bumi ini juga. Kuajak wanita yang sedih untuk makan siang dan membuatnya tertawa. Begitu deh kira-kira. Dan suatu kehormatan besar buatku, waktu dia tertarik untuk makan siang denganku. Kami akhirnya sering jalan bareng. Melakukan hal-hal bodoh yang kuajarkan kepadanya. Hal-hal tolol yang sebelumnya belum pernah ia lakukan dalam hidup. Keluar kota hanya untuk curhat kepada seekor kerbau, memandang awan, mengunjungi dan berdoa ke kuburan seseorang yang tidak kami kenal, berkebun bersama, iya itu termasuk mengajarinya mencangkul, mencuci mobilnya, mengajarinya melukis, berjalan kaki malam-malam bersama anjingnya, dia jago bernyanyi. Aku jago gitar, paskan.

Sampai suatu saat aku bertanya-tanya dengan diriku sendiri. Apa benar aku cowok yang paling tolol dan bodoh sedunia. Teman-temanku selalu mengatakan hal itu tiap kali aku menjelaskan bahwa aku tidak berbuat apa-apa dengan Anya. Bayangkan waktu itu, aku dengan Anya slow dance, tanpa musik, berdua di kamar kost mewahnya. Hanya suara dia menggumamkan lagu-lagu tidur. Mata indahnya terpejam damai, dan Anya seringkali menempelkan pipi putih halusnya ke dadaku, bernafas di leherku. Mulut halus dan hidungnya ditempelkan lembut menyuarakan lagunya dengan terkadang membisikkan khayalan-khayalan masa depannya.

Iya anda benar kalau bilang aku cowok tolol. Aku tidak mengambil tindakan apa-apa tuh, kecuali aku diamkan tanganku di pinggangnya, cuma seringkali aku menempelkan pipiku ke rambutnya untuk mencium aroma rambut Anya yang wangi itu. Itu saja. Herannya aku malah sibuk sendiri untuk mengatur langkah kakiku. Cowok aneh ‘kan. Aku terangsang sekali, aku tidak munafik. Tetapi selalu terpikirkan bahwa aku bukan binatang yang mengumbar nafsu kapan dia mau. Dan hanya karena aku terangsang, sungguh bukan suatu alasan yang pantas untuk tidak menghormati wanita yang di depanku.

Sampai suatu waktu aku dan Anya pergi ke perpustakaan besar bertingkat di kampusku. Semula tujuannya memang hanya untuk rileks sambil tertawa-tawa membahas orang lewat dari tempat duduk sofa di ruang tunggu perpustakaan itu. Namun aku sempat mempertanyakan hal kebodohanku sebagai pria pada Anya. Yang memang kadang mengganggu.

Tiba-tiba saja Anya bangkit dari bersandar santainya, “Mana cowok yang paling tolol sedunia itu?” Tanpa menunggu komentarku dengan ekspresi heran, Anya memegang pipiku dan mengecupku di bibir. “Alviii, emang kamu tolol banget, tapi kalau aku suka, terus kenapa?” tanya Anya sambil memiringkan kepalanya dengan ekspresi nakal menantang, sementara aku lebih sibuk untuk memperhatikan orang-orang yang melihat ke arahku dan Anya. Aku cuma cengar-cengir saja salah tingkah. Kemudian Anya menyuruhku diam dan menyuruhku untuk menyimak. Anya seakan bernafsu sekali untuk mengutarakan hal ini, sampai dia membalikkan tubuhnya menghadap ke arahku.
“Dengerin, aku tuh bosen tau diperlakukan seperti piala trophy. Aku bosan diperebutkan.”
“Cuma kamu yang terlalu bodoh untuk tahu bahwa yang ada di depan kamu bukan piala.”
“Orang bilang aku cantik, makasih. Tapi asal kamu tahu saja Vi, aku juga kehilangan banyak teman hanya karena kecantikan itu. Okay aku malu dan sebel untuk ngungkapinnya, tapi kalau pakai bahasa film, aku akan bilang jangan benci aku hanya karena aku cantik.”

Anya sedikit kembali tersenyum kemudian melanjutkan isi hatinya tetapi kini agak melembut. “Alvi, kamu masih inget waktu kita slow dance. Aku sebenernya cuma pengen ngetest kamu, apa sih yang sebenernya kamu mau dariku. Tapi yah karena kamu bodoh waktu itu, kamu tidak aku tampar.” Aku masih ingat jelas kata-kata Anya seperti ini, walaupun diucapkannya dalam bahasa Inggris. Sekilas mungkin berkesan sombong, tapi andaikata Anya yang bicara rentetan kata di atas, lalu membandingkan dengan kecantikannya, aku tidak menganggapnya sombong. Sepanjang sore itu Anya mengeluhkan banyak hal seputar masalahnya dengan pria, cinta dan tentang kehidupan. Aku sendiri hanya menyediakan kuping yang baik untuk mendengarkan.

Singkatnya, sepulang makan malam Anya ke rumahku yang kosong karena Abangku pergi ke luar kota. Setelah aku mandi, Anya berniat untuk mandi, karena memang ia selalu membawa pakaian cadangan dalam mobilnya. Aku menunggunya dalam kamarku, dengan celana pendek dan kaos tipis baju tidur. Tadinya aku pikir erotis sekali kalau mendengarkan suara-suara Anya mandi. Tapi berpikir soal ditampar, lebih baik aku menunggu di bantal-bantal besar kamarku sambil menatap bintang-bintang dari fosfor yang kutempel di atap langit-langit kamar. Bersender pada bantal di dinding, dengan lampu belajar yang kuredupkan segelap mungkin melihat pada bintang yang menyala itu. Bukan munafik, cuma aku lebih beranggapan kalau mencuri-curi kesempatan seperti itu sama saja mati kawan, atau seperti mencuri sesuatu dari teman sendiri. Itu saja.

“Al… Alvi…” panggil Anya lembut.
“Kamu ngapain?” tanya Anya lembut membuka pintu kamar.
Aku hanya membesarkan lampu, kemudian memberi isyarat untuk menyuruhnya duduk di karpet sebelahku. Aku berlaga acuh dengan rok mini yang dipakainya dengan baju satin putih ketat tanpa lengan. “Bagus khan!” kataku sambil melihat ke atas, sementara Anya lebih sibuk untuk mengatur bagaimana agar bantalku tidak basah dengan rambut lurusnya yang setengah basah. Lalu tanpa mempedulikanku, Anya menyandarkan punggungnya ke dadaku, sambil mengambil satu tanganku untuk dibawanya melingkar di perut kecilnya.

“Lucu,” katanya sederhana, sambil mengambil posisi santai untuk melihat ke atas dengan mengadahkan kepalanya di samping leherku. Terus lama deh sepertinya kita berdua bengong. Sambil cari bahan omongan, kucoba untuk meng-gombal iseng, biar buat lucu suasana.
“Nya, aku sering nanya loh kalau aku mau tidur. Kira-kira aku di bintang yang mana yah, kalau aku bisa pergi ke bintang-bintang itu.”
“Hmm… sepertinya sekarang aku bisa jawab deh, mau tahu dimana?” tanyaku tanpa menoleh.

Anya hanya tersenyum menggenggam erat jari jemariku, lalu sepertinya ia penasaran juga, “Dimana Viii…” aku cuma sok senyum imut cengar-cengir sendiri untuk meyakinkan bahwa jawabanku cukup norak tapi romantis. Hmm, kujawab, “Disitu!” Kini Anya menoleh keheranan dengan jawabanku. “Iya di situ Nya, si samping kamu di salah satu dari bintang itu.” Aku sih tertawa ngakak, merasa betapa noraknya aku. Tapi malah Anya hanya tersipu malu menunduk, lalu merubah posisinya untuk mengelus halus pipiku. Malah kini Anya memeluk badanku dan merebahkan kepalanya di atas bahuku.

Tanganku hanya bergerak spontan untuk menyambut jari-jari halus di pipiku itu. Menggenggamnya dan kutaruh lagi di pipiku. Anya hanya memejamkan matanya, dan aku yakin bahwa ia tidak tertidur karena jempolnya tetap bergerak lembut mengelus pipiku. “Hmm… kamu ngantuk?” tanyaku sok lembut, sambil mengambil rambut Anya dan menaruhnya kembali ke belakang telinganya. Anya hanya menjawab tidak dengan pelan. “Kamu santai saja yah Nya, kalau kamu mau tidur, ya tidur. Kamu dapet kunci kok. Terus kalau kamu nonton TV yah nonton. Pokoknya buat kamu sesantai mungkin,” kataku merayu. Jujur, aku mulai bawel untuk merocos tidak karuan. Dada lembut halus lembut Anya itu loh menempel hangat di dadaku. Paha putihnya ditumpuk di atas pahaku. Jempol tangan mengelus halus di bawah telingaku. Nah, aku sadar aku salah tingkah berat, merocos sok perhatian dan basa basi tidak karuan. Itu satu-satunya pertanda aku benar tidak konsentrasi sekali.

Sementara yang kulakukan hanya berulang kali menaruh rambut di telinganya dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku mengelus-elus rambutnya yang tepat di samping kiri pipiku. Kata-kata tidak jelas itu akhirnya berhenti, waktu Anya pelan memanggil namaku, “Alvi…” Yang kutebak sih sepertinya Anya juga tidak mendengarkan omonganku saat itu. “Vi, sebelum aku lupa. Anya cuma mau bilang, Anya seneng ketemu kamu. Anya sayang kamu Vi.” Aku tidak jelas rangkaiannya, tapi aku yakin kalimat itulah dan teman-temannya sejenis kalimat itu yang Anya ucapkan dengan lirih manja. Betapa dia tidak ingin kehilanganku, betapa dia ingin bersamaku terus dan tebak sendiri deh. “Nya… Anyaaa…” aku coba menyebut namanya makin keras, aku tiba-tiba saja jadi sebal sendiri. Aku mulai membetulkan dudukku, sambil membangunkan Anya dengan mendorong halus bahunya. Anya keheranan melihat sikapku seperti itu. Aku tahu itu pasti. “Ssst…” aku melipat jari jemariku dan menyatukan kedua telunjukku di depan mulut untuk membuatnya diam, aku diam. “Biar kubuat sederhana untuk kamu ngerti.” Aku jadi emosi. Kira-kira begini yang kubilang, “Anya, hmm… jangan bilang sayang atau cinta denganku deh, please,” kutatap memohon kepadanya.

Sebelum dia sempat bicara, kupotong dengan isyarat telunjukku untuk menahan protesnya. “Ssst…” Bagiku, kalimat itu artinya sama dengan kubakal kehilangan. Seseorang bakal pergi dari hidupku. Seperti tipuan menyenangkan dari kalimat selamat tinggal. Aku malas ah, capai, dibohongi. Aku sudah lama berhenti untuk percaya kata-kata itu.” Sensitif yah aku. Aku berlaga sok asyik saja menengok-nengok ke atas. Sementara Anya sepertinya juga jadi serba salah deh dengan menundukan kepalanya ke samping. Yah, jadi hening deh saat itu. “Hmm… okay, kalau kamu tidak pengen Anya ngomong gitu, Anya ngelakuin sesuatu saja deh,” kata Anya yakin. Anya merubah duduknya berhadapan di sampingku. Ia menunduk memainkan jemarinya sendiri sesaat, sebelum memajukan kepalanya untuk memelukku. Kepalanya direbahkan di samping leherku di sisi yang berlawanan dengan duduknya. Sementara aku hanya membuka lipatan tanganku, tanda orang pasrah. Melihat Anya yang terpenjam tersenyum halus. Yang bisa dilakukan adalah melipat kakiku untuk jadi sandaran tanganku untuk menopang kepala Anya yang dilemaskannya itu. Beneran deh, aku deg-degan. Entah bingung atau tidak jelas deh. Bayangkan, bibir Anya itu di bawah daguku sedikit. Kalau aku menunduk, pasti kejadian deh, pikirku takut-takut begitu.

“Yah, kalau Anya tidak boleh bilang sayang kamu, jadi Anya bilang saja, Alvi yang sayang Anya. Hihihii…” kata Anya merajuk pelan melucu. Sepertinya strateginya berhasil deh untuk memecahkan keheningan, buktinya aku tertawa tuh. Tapi suasananya jadi hening lagi. Aku tetap menyenderkan kepalaku ke atas. Tanganku, yang jadi senderan kepalanya, hanya mengelus-elus rambutnya. Dan yang satu lagi, cuma aku telungkupi saja di pinggang. Payah deh aku, kok aku mulai ngelantur lagi, tapi kali ini serius sih maksudku. Tapi beneran deh aku tidak konsen habis. Soalnya jemarinya Anya loh yang satu itu ada di belakang leherku, dan jempolnya itu mengelus-elus belakang kupingku juga.

Akhirnya aku mengucapkan rangkaian kalimat ini dengan campur baur antara gentle dan cengengesan sendiri, “Nya… sorry, aku minta maaf untuk kadang bohong ke kamu. Kadang aku tidak bisa jaga hormon. Hmm… maksudnya, jujur aku seringkali punya pikiran jorok ke kamu, hihihi. Aku cowok, dan seringkali aku tidak punya kuasa untuk nahan hormon-hormonku lewat di otakku. Maaf kalau aku tidak bener-bener bisa jadi sesuatu yang baik untuk kamu. Aku cuma pengen kamu tahu saja bahwa sebenarnya aku tidak pernah bermaksud demikian, sorry okay.” Anya cuma mengangguk dengan suara tersenyum kecil. Entah apa maksudnya, aku menurunkan kepalaku ke bawah. Karena takut kena bibir, aku saja yang langsung inisiatif mencium keningnya duluan. Anya membuka sayu matanya. Lalu dengan gerakan pelan juga ia merubah posisinya. Kedua jempolnya ditaruh di belakang telingaku, menatap langsung mataku tepat dari hadapannya. Semula aku kaget, tapi karena kulihat ada sekilas tarikan senyum kecil di ujung bibir tipisnya, aku cuma bengong, menunggu kejadian berikutnya.

Gila, gila, aku deg-degan banget. Aku sempat menundukan lirikan mata ke bawah, tanda aku kalah bertatapan dengan mata besarnya. Sorotannya itu loh. Dia melihat, malah memperhatikan bola mataku. Matanya bergerak ke kiri dan kanan. Kadang sesekali dia melihat ke bibirku. Dia balik lagi melihatiku. Bibir bawahnya itu kadang digigit, dibasahinya bibirnya atau malah dikatupkan keduanya dengan cepat. Aku mencoba menebak banyak hal dengan cepat, aku berpikir, tapi kalimat jujur yang coba kuungkapan adalah aku tidak tahan sekali untuk menahan gairah di perasaanku. Aku mungkin juga sama kacaunya dengan Anya, dalam detik-detik itu dalam jarak muka yang dekat sekali. Anya melihat ke bibirku, mungkin juga memiringkan kepalanya hanya sedikit juga memajukannya. Namun kembali cepat ke posisi kepalanya semula. Walaupun semua gerakan itu mungkin hanya dalam hitungan mili, tapi bagiku itu merupakan bahasa yang mengisyaratkan sesuatu. Namun sebesar gairahku itu, sebesar itu pula ketakutanku ditolak. Deg-degan, gerakan kepala, mata yang mulai sayu menutup, mulut yang diam terkatup lemas, hirupan-hirupan nafas, entah apalagi. Semua itu rasanya bagai sebuah okestra keras yang mengantarkan kecupan pertamaku ke bibir Anya.

Sekilas ia sempat menunduk, Anya kembali terpejam. Aku sepertinya telah melepaskan diriku pada naluri. Aku sudah jadi hamba naluri saat itu. Aku mengecupnya lagi dengan membiarkan bibirku lembut menempel di sana. Adalah hal yang indah untuk diterima menjadi bagian dari orang lain. Dan itu menyenangkan. Itu yang kurasakan waktu bibir Anya membuka. Aku senang untuk begitu besarnya rasa penerimaan itu. Lidahku ibarat anak kecil yang baru menyaksikan sebuah taman bermain baru yang indah. Untuk pertama ia diam di sana, dan kemudian ia menemukan teman bermain baru di sana. Berkomunikasi dengan bahasa sederhana yang jujur, dimana tidak perlu kuliah, ijazah dan uang untuk bisa melakukan berdansa gembira dengan lidah. Sepertinya lidah itu ingin saling berpelukan di dalam sana, saling menyambut dan ingin saling bicara. Berusaha menebak, melayani, menyambut. Berkomunikasi dengan cara yang baru yang menyenangkan, dan dalam. Sesekali saling tertunduk dan melanjutkannya lagi.

Anya mengusap-usap belakang kepalaku, dan tangan sesekali turun ke bawah untuk menelapakkannya di depan dadaku. Dia bicara dari tekanan-tekanan lembut telapaknya dan usapan-usapan jemarinya itu. Jemariku juga bicara lewat usapan-usapan lembut di belakang telinganya. Sementara tanganku berjalan lembut dengan punggung jari, membelai, mengusap lembut pada perutnya. Berjalan mengusap dengan ujung-ujung kuku, ke pinggang, menuju punggungnya. Berputar pada bagian bawah lengan atasnya, berbelok-belok pada ketiaknya, dan menuju jalan menurun di samping dadanya. Berjalan mundur ke ketiaknya dan menikung tajam ke lehernya bagian depan. Aku mengelusnya lama di sana, sekali-kali menukik ke bawah, ke tengah dadanya. Aku cuma ingin tanya sebenarnya apakah jemariku cukup berkenan untuk menyentuh dimensi pribadi kewanitaannya yang halus menempel di dadanya.

Tidak perlu orang jenius, untuk tahu Anya memberikan ijinnya kepadaku saat ia membusungkan dadanya. Tapi aku tidak mau jadi tamu yang menyelonong masuk dengan kasar. Sepertinya basa basi yang menyenangkan jika aku mengusap-usap lembut saja dari luar pakaiannya. Merasakan permukaannya pada keduanya dengan halus. Baru setelah itu satu jari telunjuk memimpin untuk mulai masuk ke balik bra berenda itu. Yah, kalian tahulah apa yang dicari jemariku di balik bra itu. Aku cuma bisa bilang bahwa merasakan putingnya yang besar, tapi lembut, tidak mengeras seperti permen kenyal. Cuma itu sih yang aku rasakan, soalnya dari tadi aku lebih sibuk untuk berciuman. Kissing-nya aku suka sekali, dan aku lebih menikmati konsentrasi ke situ daripada mengobok-ngobok liar. Bahkan kini, sekitar mulutku agak dingin dengan air liur yang menguap. Tapi sebagai cowok, kalau aku sih haus loh kalau ciuman kelamaan begitu, maksudnya yah kering saja. Kutarik tanganku keluar untuk mengecup kening Anya, sambil pamit sebentar mengambil minum.

Waktu aku kembali, Anya duduk di pinggir tempat tidurku dan lampu kamarku sudah diterangkan. Sambil duduk di sebelahnya, aku menuangkan air es untuknya. Sementara dia minum, aku mengambil bantal bersender di ranjang. Anya duduk merapatkan dadanya di depanku. Kajadian saling mencumbu yang hampir serupa dengan di atas terulang hampir mirip situasinya. Hanya bedanya kini Anya sudah mulai berani untuk menyelusupkan tangannya ke balik baju tipisku. Jari lembutnya bermain selancar di atas perutku. Dan aku senang sekali untuk dapat mainan baru. Sebuah gitar baru, yang aneh bentuknya. Gabungan saxophone dan gitar, dengan kemampuan sangat interactive sekali. Tapi ‘saxophone’-nya dikulum, sangat berdimensi manusiawi, tidak seperti polygon di komputer 3D. Itu makanya jariku menikmati sekali untuk menelusurinya. Walaupun Anya masih seperti kado yang belum dibuka. Aku senang untuk bersabar menikmati kemasan sebuah kado sebelum membukanya. Bahkan sampai pada telapak kaki Anya, kuraba-raba di sana, bermain di antara jemari kakinya, memijat dan menggaruk. Bagian yang terbagus dari dirinya adalah dia hidup. Hmm, bukan menyamakan Anya seperti barang, cuma berusaha untuk menggambarkan betapa ia begitu hidup dan begitu nyata di pelukanku.

Kini Anya mengatakan sesuatu lewat jari kelingkingnya yang sesekali masuk terselip ke bawah karet celanaku. Entah aku peka dengan bahasa kecil ini atau memang aku yang niat. Aku hanya mengangkat karet celanaku dan membiarkan jemari Anya untuk menentukan sikapnya sendiri. Jemari itu merambat halus untuk menuju sesuatu di sana. Sesuatu yang begitu pribadi untuk dibagi.

Teramat banyak indera peraba di bagian pribadiku itu, sampai-sampai aku terhenti mengulum bibir Anya, ketika jemari itu melewati bulu-bulu yang halus. Mata kami saling menatap, saat jarinya mengusap kejantananku. Tapi hanya diam tertelungkup di atasnya. Tanpa mengubah jemarinya, ia menunduk. Aku harus menetralisir keadaan yang cepat itu. Kuucapkan kalimat ini dengan nada berbisik menjelaskan, yakin, lembut dan rancu pasti deh sepertinya, “Anya, Alvi tidak bermaksud untuk ngelukain kamu, tidak. Santai saja. Ini punya kamu kok, kamu bisa tutup kapan saja kamu mau, yang pasti aku tidak bermaksud ngelukain kamu kok. Santai yah sayang yah.” Lalu dengan satu gerakan yang singkat, aku melepaskan celanaku melemparnya ke ujung ranjang, berikut celana dalamku. Kutahu Anya menatapku pasti dengan ketakutan. Tapi aku dengan cepat menebar selimut tebal yang memang ada di ranjangku, menutup dengkulku, setelah bersender kembali ke dinding ranjang di samping Anya. Aku benar-benar mendiamkan diriku, hanya tanganku yang kembali mengelus rambut Anya dari belakang. Aku membiarkan Anya untuk mengambil keputusan berikutnya.

Anya menundukkan kepalanya dan merebahkannya di leherku. Jemarinya membuat garis dari dada turun pelan dan berhenti di kejantananku yang kaku tertidur di perutku. Aku tidak tahu persis apa yang ada di otak Anya ketika meraba, mengusap, menekan, mencolek dan menggenggam kejantananku itu. Sesekali juga ia menggesek-gesekkan jempolnya ke lubang air seni, ya itu termasuk memainkan bagian biji zakar dan bulu-bulu halus yang mengitarinya. Aku hanya berkali-kali mengangkat pantatku, ketika sentuhan-sentuhan itu membawa paket-paket birahi ke otakku. “Itu punya kamu sayang.” Demikian kalimat yang bisa kulontarkan berulang-ulang. Aku merasa dia sudah begitu santai. Satu komentar yang dia ucapkan cuma satu, “Besar”. Beneran dia cuma bilang itu, aku tidak bermaksud menyombongkan kelamin. Aku sudah berhenti membanding-bandingkan kelamin sejak aku sadar bahwa otak dan perasaanlah yang bisa menaklukkan wanita, bukan dengan kelamin sebesar tugu Monas. Iya tidak sih? Walaupun aku tahu Anya menikmatinya, tapi aku ingin dia untuk tidak bosan.

Aku mengubah posisi untuk memeluk Anya dari belakang. Menata rambutnya ke samping, lalu aku melepas bajuku sebelum menaruh bibirku ke tengkuknya. Di sana banyak bulu halus yang berdiri. Yang perlu kulakukan hanya meraba bulu-bulu itu dengan lidah tanpa mengenai kulitnya. Namun sesekali aku menjilat panjang dengan seluruh lidah basahku, dari leher bawah sampai ke belakang telinganya. Nafas hidung di telinganya, jemari di perutnya, paha, pinggang belakang, bawah lengan dan ketiak. Anya menengadahkan kepalanya ke atas, sebuah tanda untuk memberikan seluruh bagian lehernya. Tangannya membelai-belai rambutku. Malah kadang kini kedua pahanya yang dibungkus rok mini itu, sesekali membuka lebar ketika jemariku meraba pahanya. Tapi aku tetap tidak menyentuh payudaranya apalagi selangkangannya, itu ada waktunya sendiri bukan?

Anya tidak menolak untuk memudahkanku melepas kaosnya. Ia seperti terkulai lemah. Tapi aku sempat untuk melihat kerisihannya. “Aku cuma pengen kamu santai. Kamu rileks yah. Tenang, aku tidak ngelukain kamu kok. Aku cuma pengen kita sama-sama nikmatin. Aku pengen kamu nikmatin dan kamu lega bareng denganku. Santai yah.” Sambil membisikkan itu, aku membelai-belai rambutnya, mengusap pipinya dan menciumi keningnya. Dan kulanjutkan dengan menciuminya secara halus di bibir tipisnya. Mungkin karena itu, Anya sama sekali tidak menolak untuk membuka penutup dadanya. Aku sendiri tidak yakin apa yang kulihat tentang payudara itu. Sesuatu yang menggelembung tergantung menempel di dada Anya. Aku kebingungan mendeskripsikannya. Bagiku sama saja seperti wanita normal. Cuma sesuatu hal yang menarik dari buah kelaminnya, adalah bulu-bulu halus yang tumbuh melebat di sekitar putingnya. Halus sekali. Titik pori-pori yang halus membesar itu tersebar di sekeliling putingnya. Anya menunduk malu, sesekali melihat dan menatap reaksi mukaku. aku cuma bilang di sela mengatup kedua bibirku, “Hmm, makasih yah untuk jaga dan ngerawat mereka buatku.” Aku tersenyum, dan Anya menunduk tertawa kecil sambil mengelus pipiku.

Kalian pasti tahulah, bagaimana sebagai pria, aku ingin langsung merawuk buah-buah itu. Untung sisi-sisi feminim dari maskulinku mengingatkan, bahwa dengan memperlakukan buah dada secara kasar bukan tindakan seorang gentleman, kali loh. Ya sudah, aku berusaha untuk mengalihkan perhatianku, sambil gombal. “Hmm, aku tahu sekarang Nya, darimana keindahan mereka berdua berasal,” kataku sambil meraba pakai ujung kuku pada lingkaran luar buah dadanya. “Hmm…” Anya sudah malas bicara sepertinya. Tapi dia menatapku. “Asalnya yah dari kamu,” jawabku polos. Anya tersenyum, “Kamu lucu.” Kami tertawa. Padahal dalam hati aku sempat ingin protes, “Memang Srimulat, lucu,” tapi aku batalkan, karena aku lebih penasaran dengan buah dada Anya. Kuputar-putarkan kukuku melingkari buar dada itu. Aku senang sekali untukn mengusap-usap di bagian bawah buah dada itu. Tanganku terus memainkannya, berganti kiri dan kanan, sementara aku terus mengelus rambut dan telinga Anya dari belakang. Mungkin Anya penasaran kenapa aku tidak menyentuh bagian putingnya. Dia sampai mengangkat-angkat dadanya, sesekali memutar dadanya kiri kanan, agar jariku tersentuh putingnya. Sedangkan tangannya hanya mengusap-usap satu lenganku, dan satu pahaku. Aku akhirnya tahu dia bertanya, karena dia 2 kali menatap bolak balik ke arahku terus ke arah dadanya tanpa ekspresi.

Waktu dia melihatku lagi, kugaruk pelan agak tajam dari arah perut, naik ke payudara bagian bawah dan langsung ke putingnya. Mau tahu reaksi Anya? Anya langsung merem, menengadahkan kepalanya ke atas, menarik nafas panjang di samping leherku, mengagetkan khan. Setelah bermain seperti itu, aku mau memuaskan Anya, pikirku. Tidak ada penolakan waktu membuka rok mini itu. Hanya karena Anya sudah agak malas berdiri, atau mungkin bersikap manja. Anya hanya berusaha mengangkat pinggulnya, dan aku menurunkan rok kecil itu. Celana dalam tipis putih itu masih ada pada tempatnya. Aku mengusap-usap perut Anya seperti ingin menghangatkan perutnya dengan kedua tanganku. Aku tahu Anya memperhatikan mukaku sambil mengusap-usap belakang telingaku. Anya duduk bersender di dadaku. Kupeluk dari belakang, tapi sambil bermain jemari di pusarnya. Sesekali meraba paha bawah dan samping juga tengah. Aku membisikan kata-kata ini, “Rileks sayang, rileks. Alvi pengen buat kamu lega. Alvi tidak ngelukain kamu sayang.” (Kalau dipikir-pikir lucu juga yah kalimatnya). Tapi hasilnya adalah otot paha Anya yang kini sudah rileks membuka. Satu kalimat yang jadi ide bagus buatku, untuk tema waktu itu adalah kalimat Anya yang meniruku, “Itu punya kamu sayang. Punya kamu,” katanya berbisik lemah menggugah. Maksudnya yah, kemaluan Anya adalah milikku. Aduh senangnya.

Mau tahu yang kulakukan? Satu tanganku memainkan puting Anya dari belakang, sedangkan jemariku turun ke atas celana dalam Anya. Mudah untuk mencari asal lendir-lendir halus itu berasal. Ada belahan halus lembut di pangkal paha yang membasah. Aku hanya mengusapnya halus dua arah. Tapi aku membisikkan terus menerus kata-kata ini ke telinga Anya. “Tolong Nya, buat punya Alvi basah. Tolong keluarin punya Alvi, sayang, please, tolong sayang. Tolong keluarin sayang, tolong. Keluarin punya Alvi.” Bisikan yang lembut tapi banyak artinya kan. Pertama-tama Anya hanya bereaksi, sesekali mengangkat pinggulnya, mengejangkan otot pantatnya. Namun lama kelamaan Anya mulai terpejam. Tangannya makin lama makin kasar membelai kedua pahaku yang ada di sampingnya. Dan Anya mulai menjawab berbisik pelan, “Iya, iya, Anya mau basahin punya kamu. Punya kamu Anya basahin.” Nafasnya mulai keras terdengar. Aku sempat membesarkan suara bisikanku, jadi suara normal kalau lagi bicara. Dan Anya juga makin cuek bereaksi. Dia jadi bervolume suara sekeras omongan biasa. Tapi saat-saat itu rasanya seperti suara teriakan. Mungkin Anya sudah susah mengontrol suaranya, kalau ia menengadah bersender pada lenganku. Anya agak kuat bergerak, sehingga aku harus meletakkannya pada pahaku dan tetap manahan kepalanya dengan lengan. Sehingga kini aku juga kesulitan untuk membisikkannya.

Ekspresi Anya, ekspresi itu benar-benar tidak kulupakan. Mulutnya terbuka. Seringkali otot-otot pipinya menarik mulut kecil itu seperti ingin tertawa, namun dengan ekspresi seperti hendak menangis. Matanya terpejam dengan kedua alis yang sepertinya ingin dipertemukan di antara kedua matanya. Beberapa rambut menempel pada pipinya yang kian membasah memerah. Menoleh ke kiri dan berbalik ke kanan. Sayang sekali, andaikata mataku adalah sebuah kamera, itu adalah ekspresi yang diincar-incar fotografer. Bukan untuk diedarkan loh. Aku cuma begitu terbawa sekali ke dalam gambaran ekspresi itu.

Aku benar-benar amat tidak berpikir untuk mengeluarkan satu kosa kata ini, “Please, mainkan kontol Alvi sayang.” Kupikir itu kasar sekali yah, ternyata Anya malah menjawab, “Anya mau mainin kontol Alvi.” Kemajuan yang baik bukan untuk nakal-nakal sedikit dalam sopan santun percakapan kami. Semuanya amat ekspresif. Sampai suatu saat Anya, begitu tampak bertingkah seperti orang yang menangis. Mengerang. Aku sampai terdiam kaget, herannya tanganku tetap mengikuti kemana arah pinggulnya mengejang. Diangkatnya tinggi. Menarik pinggul dengan mengangkat dadanya tinggi-tinggi. Cengkraman kuat pada pahaku juga tarikan erat di leherku. Ditambah dengan efek audio suara menangis sambil mengejang tertahan. Itu bisa membuatku terangsang, hanya dengan mengingatnya saja. Aku merasa saat-saat yang tinggi itu sudah lewat. Iya benar loh, tidak sampai muncrat-muncrat sih dari celana dalam, cuma lebih basah dari yang tadi.

Aku cuma bisa membenarkan rambut-rambut Anya yang basah menempel pada wajahnya. Anya sepertinya lelah sekali dan bagiku tampak Anya lebih mirip tertidur saat itu. Maka kuambil bantal dan menidurkannya, sambil sebelumnya mengecup-ngecupnya berkali-kali pada keningnya. Aku sendiri tiduran di sampingnya, mengamati wajah cantik itu. Mengelus-elus wajahnya. Memperhatikan tubuh telanjangnya. Aku lebih konsentrasi untuk merekam pemandangan itu, bukan memikirkan kemaluanku sendiri. “Makasih sayang, untuk banyak hal. Kamu sudah ngasih aku kesempatan untuk ngebantuin.” Anya hanya senyum, di tengah mata sayunya. Mencubit perutku.
“Kamu nakal,” katanya.
“Kamu jago sih,” kataku ngeles.
“Kamu tuh jago.” kata Anya sambil nmegambil posisi untuk memelukku dari rebahannya.
“Eh, kamu kemana?” tanya Anya, waktu aku tiba-tiba bangun berdiri.

“Aku mau nangis,” candaku, padahal sih aku cuma ingin mengambil minum, barangkali Anya haus.

Setelah minum basa basi, Anya kusuruh untuk terlentang lagi dan aku memandang tubuhnya yang masih berselimut kecil sebuah celana dalam. Aku hanya senyum-senyum menatap matanya, sambil senyum-senyum berdua. Aku memangku daguku di atas kedua payudaranya, menatap sambil tersenyum pada matanya dan kepada ujung-ujung putingnya. Lalu tiba-tiba aku punya ide iseng saja. Aku duduk di samping Anya yang terlentang. Jemari-jemari Anya kupegang dengan jemariku juga. Kuludahi perlahan satu putingnya dari atas. Perlahan jatuh air liurku, menjadi sekumpulan air liur di payudara lembut itu. Meludahi satu puting Anya yang lain. Air liur itu berjalan turun perlahan. Namun sebelum sempat air liur mengalir turun ke bawah, aku langsung dengan cepat menjilat kedua butir-butir liur itu dengan telapak lidahku, sehingga menjadi basah buah dadanya. Semula Anya agak keheranan menatapku. Tapi lama kelamaan Anya mengerti juga rupanya. Kami jadi sama-sama tahu bahwa memang air liur akan membuat risih jika terjatuh ke sprei ranjangku. Oleh karenanya Anya hanya menatap, tetapi jemarinya meremas erat ketika saat kritis, menyuruhku untuk cepat menjilatnya. Kadang ia juga memajukan dadanya untuk mempermudah aku.

Yang bikin nafsuku, kadang ia agak mendesih. Sedangkan aku memperhatikan kedua mata Anya, selain memperhatikan gumpalan-gumpalan air liur itu yang mulai mengalir. Anya memperhatikanku menjilati, sementara aku tetap memandangi saat menjilati air liurku. Sesekali kadang meniupi permukaan payudaranya yang kini sudah basah semua. Kini perlahan aku mulai meludahi perutnya juga bagian pusarnya. Kali ini aku sempat senyum-senyum, soalnya perut itu datar. Bahkan sempat aku keluarkan rayuan gombal spontan yang kalau dipikir-pikir norak juga sih, “Aku seneng banget kalau kamu sedang nyihir aku seperti sekarang ini. Mau terus dong disihir.” Anya sempat ingin bangun untuk meng-kiss aku tapi aku menahannya dengan menggenggam tangannya.
“Keberatan kalau aku buka?” tanyaku polos, sambil menunggu jawaban dengan kedua alis terangkat, dan senyum sok imut begitu di pipiku. Anya hanya menatap kosong kepadaku, tersenyum kecil dengan mengumpulkan kedua bibirnya di depan seperti hendak mengingatkanku.
“Iya, itu berarti… atau…?” tanyaku sambil memberi isyarat menggeleng atau mengangguk.
Anya mengerjai aku. Jawabannya cuma dia merem, terus senyum memiringkan kepalanya saja. Karena jelas aku tidak tahu jawabannya, dalam detik-detik itu juga aku membuka pelan celana dalam Anya, sambil menunggu reaksinya. Ternyata Anya tetap terpejam dan mengangkat pinggangnya. Tetapi selebihnya Anya hanya meletakkan lemas kaki-kakinya, sehingga aku sempat agak kesulitan.

Barulah kini pemandangan Anya tanpa material penutup tubuh, telah terlihat di depanku. Sejenak aku sampai bengong begitu melihatnya, di depanku ada seorang model, polos, dengan paha terbuka di depanku. Benaran pikiranku sampai sempat kosong, tidak tahu harus berbuat apa. Kewanitaannya benar-benar biasa saja. Bulu-bulu pada permukaannya hanya halus teratur rapih. Aku tidak pernah menanyakannya, tetapi jelas sebagai seorang model ia harus merapikan bulu-bulu itu, sok tahu aku sih. Belahannya tidak berbibir, hanya sebuah garis rapat tampaknya. Dengan kedua bukit pipi mungil yang mengapitnya.

Aku baru sadar waktu Anya membuka mata menatapku. Aku cuma bisa senyum lalu menunduk sedikit. Aku salah tingkah sekali. Tapi mungkin Anya menganggapnya berbeda. Dia bangun dari posisi tidurnya, mengambil daguku perlahan. Lalu ia terpejam, meraba pipiku sambil berbisik, “Vi, ini Anya.” Terus kami berciuman lembut, tidak menjadi buas. Memang dasarnya aku saja kali yah yang nakal, aku mulai menurunkan ciumanku ke arah leher dada, menjilati ke dua buah dadanya. Tanganku terus meraba punggung Anya. Anya hanya bersandar pada kedua tangannya, membiarkanku memberi banyak kecupan basah pada dada yang bulat mengacung ke atas itu. Mengindrai perut Anya dengan lidahku, juga menyenangkan untukku. Tapi lama kelamaan jadi ketebak deh arah dan tujuannya, ya ke situ-situ juga ujung-ujungnya.

Saat jilatan-jilatan lidahku sampai ke perut bawah, di bawah pusarnya, Anya mengelus halus pipiku. Saat aku menengadah mencari tahu, Anya hanya menggelengkan kepalanya sedikit. Suatu larangan bukan. Okay, dalam hatiku. Jujur, padahal waktu itu aku kepingin sekali merasakan cairan-cairan yang keluar dari kemaluan Anya. Pingin banget. Anya tetap menempelkan jemarinya di pipiku, sambil ia sendiri mencari posisi untuk tidur. Kutunggu Anya sebentar untuk sempat merapikan sebuah bantal dan rambutnya sebelum ia menarik pelan belakang kepalaku untuk bercumbu lagi dengan menidurinya. Ia menyambut dengan isyarat kedua tangan terbuka, dan kedua paha yang dibuka untuk menyambutku. Aku merangkak pelan dari bawah, saling menatap kosong pada kedua mata kami. Rambutku dielus, dan sejalan dengan itu, tubuhku perlahan-lahan turun menindihnya. Ada tempelan kedua payudara hangat di dadaku. Kemaluan kelakianku semakin terasa hangat memanas diapit oleh kedua perut kami.

Aku begitu menikmati suasana itu, entah sepertinya aku dan Anya hanya bertatapan kosong. Arah mata yang hanya saling bergerak ke kiri dan ke kanan melihat kepada mataku dan dia. Tatapan itu benar-benar dalam, dan aku juga benar-benar terbawa hanya karena tatapan itu. Dalam, iya itu kata yang tepat. Aku bisa merasakan dada Anya bergerak. Denyutan kemaluanku yang terapit itu juga bisa terasa pada perut kami. Aku mengecup bibirnya sekali, lalu kembali menatapnya lagi. Anya hanya menjalankan tangannya pada punggungku, berjalan-jalan pada titik keringat yang kian tersebar dimana-mana. Tangan kecilnya mencoba mencengkram bulatan pantatku. Menggaruknya sekali-kali. Kami terus bertatap seakan tidak peduli apa yang terjadi di bawah karena kami telah sama-sama mengetahuinya dari tatapan kami yang tanpa kata. Bahkan kini Anya, menyelipkan tangannya di antara perut, menggenggam kejantananku. Aku hanya mengangkat pantatku untuk memberikannya keputusan ke Anya, mau dibawa kemana punyaku itu. Anya membawanya mendekati kemaluannya. Kemaluanku sempat diraba-rabanya dahulu, bahkan sampai ke bagian biji yang menggelantung di sana. Kemudian batang kemaluanku diusap-usapkan pada ujung kemaluannya. Benaran aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku rasakan waktu itu, soalnya aku hanya terus berpandangan tanpa pernah melihat ke bawah.

Aku sempat memajukan pinggangku agar sedikit masuk di dalam bibir vertikal itu, namun Anya menahannya. Itu aku rasakan waktu tangan Anya yang berada di atas pantatku, tiba-tiba bergerak ke pinggangku. Jadi akhirnya ya, kubiarkan aku menahan pantatku, agar Anya bebas bermain dengan ujung kemaluanku yang memang besar pada bagian itu. Tak lama setelah itu, Anya yang kian melebarkan bukaan pahanya. Dan di atas pantatku terdapat dorongan kecil dari jemari Anya. Secara naluri aku memajukan sedikit pantatku. Anya mengangguk kecil, seakan menjawab pertanyaan mataku tentang keraguanku sendiri tentang kepastiannya untuk melakukan ini. Aku hanya mengikuti bahasa Anya dari jemarinya yang ada di pantatku dan satu lagi jemari yang memastikan posisi kelaminku pada liang kemaluannya.

Aku hanya merasakan kepala kemaluanku ditekan kuat pada seluruh permukaannya secara merata oleh kelamin Anya. Dan di ujung kelaminku, aku merasa agak dingin. Anya menekan pantatku terus perlahan, dan berhenti, kemudian mengisyaratkan menekan lagi. Aku hanya merasakan melalui tatapan mataku, benaran aku sama sekali tidak melihat kemana-mana. Aku bisa merasakan, Anya menarik nafas lewat mulutnya, walau kadang seperti orang kepedasan sedikit. Aku bisa melihat otot pipinya cepat tertarik seperti tertawa yang dibatalkan. Waktu sudah dapat dipastikan bahwa setengah kelamin kami saling menyatukan diri, Anya kini buru-buru menaruh kedua tangannya pada pantatku. Melebarkan jemarinya menelungkup pada bundaran pantatku. Lalu tangan itu mendorong pelan agak lama. Aku hanya mengikuti dorongan jemari itu, dan hasilnya perlahan pasti semua kelaminku telah masuk bersatu dalam liang kemaluan Anya. Dan dalam detik-detik itu, mata Anya memutih meredup, meskipun tidak berkedip. Bola mata hitamnya menghilang ke atas yang mungkin kenikmatan.

Anya kembali lagi menatapku dengan mulutnya yang terbuka tipis dan sesekali dijilat. Satu kalimat Anya yang aku tidak lupa adalah, “Anya ngerasa penuh dengan kamu.” Aku tidak menjawab, benaran aku tidak konsen habis. Aku ingin sekali langsung kugoyangi itu pantatku, wah pokoknya doktrin gaya film porno di otakku banget deh. Aku sendiri juga heran, kenapa akhirnya aku tetap diam saja yah. Tahu tidak apa yang membuat aku berhenti dari pikiranku yang tidak-tidak itu. Tiba-tiba batang kemaluanku dijepit tiga kali dengan Anya. Satu dua tiga. Masih saling bertatap, tapi jelas aku tahu apa yang dia lakukan barusan di bawah sana. Dari tatapanku seakan aku bilang, hayoo nakal yah kamu. Aku coba menarik batang kemaluanku, agak terasa geli sedikit sih, lalu pelan sekali aku masukan lagi. Sesuai tanda dari ibu guruku yaitu tangan Anya yang ada di pinggang dan pantatku. Anya menjepit lagi di bawah sana dua kali, lalu aku inisiatif saja menarik dan masukan pelan. Lama-lama jadi konstan sendiri deh. Punyaku dijepit dua kali, lalu keluarkan dan masukkan. Tapi kadang juga jadi ngaco juga sih. Anya juga jadi jarang menjepit-jepit lagi. Cuma tangannya saja yang konstan untuk memberi irama kapan aku harus menarik dan kapan aku harus memasukkan batang kemaluanku. Aku jadi suka berimprovisasi, aku sekali-kali memutar pinggangku, sehingga ber-efek seperti memutarkan kemaluanku waktu masuk ke liang kemaluan Anya.

Oh yah, seringkali pada saat melakukan ini, tiba-tiba pandanganku jadi hilang sama sekali. Tiba-tiba saja seperti aku tidak sadar, kadang seperti hilang melayang. Kembali lagi untuk menatap mata dan wajah Anya. Wajah Anya itu nafsuin banget deh, kadang dia memandang kosong ke seputaran wajahku. Kadang ya itu dia sampai seperti orang teler sayu matanya dan bola matanya menghilang ke atas. Mulutnya terbuka kalau sudah seperti itu. Dan saat-saat menatap, bibirnya terbuka kecil dan sering kali dibasahinya berulang-ulang. Atau malah kadang ia menggigit kedua bibirnya. Yang paling aku suka sekali adalah raut wajahnya yang tampak seringkali seperti menangis. Mulutnya terbuka tanpa satu katapun, alisnya demikian mengkerut, matanya sayu dan seringkali tertutup. Semula aku kaget melihat ekspresi ini loh. Tapi lama-lama aku tahu juga kalau itu ekspresi dia. Aku juga heran, padahal ini tidak seperti film porno loh iramanya. Bukan yang cepat-cepat begitu. Cuma pelan tapi konstan, malah kalau bisa kubilang lebih lambat dari alunan kursi goyang. Yah, aku kan cuma mengikuti perintah tangan yang ada di pinggangku itu.

Aku tidak sempat menghitung berapa lama, aku terlalu dalam permainan saling menatap itu. Lagi pula aku sepertinya tidak peduli waktu dalam hal seperti itu, aku lebih mempedulikan seberapa dalam perasaan yang dibagi dan saling memberi hati yang melayani. Bagiku dengan posisiku yang berada di atas bukan berarti superior tentang kesombongan pria menjajah wanita yang di bawahnya. Aku justru berpikir bahwa aku justru melayani wanita. Itu makanya aku tetap berusaha untuk selalu mempertahankan irama yang konstan. Walaupun jujur banget, bahuku sudah sakit sekali. Aku mengganti banyak posisi tangan untuk menopang tubuhku. Bahuku lama kelamaan pegal sekali. Tapi dengan melihat wajah Anya yang merupakan gambaran kenikmatan dalam menyatukan kelaminnya, aku jadi enggan berganti sikap. Aku juga ingin untuk menyudahi permainan ini. Aku tahu bagaimana harus memulai sebuah permainan, tetapi tanpa pengetahuan untuk kapan dan bagaimana berhenti, itu juga bisa jadi celaka. Seperti mobil yang mampu mencapai kecepatan maksimum, tapi tidak punya teknologi rem untuk berhenti, itu akan mencelakakan. Aku tidak ingin cepat-cepat berhenti, bukan seperti layaknya pria perkasa yang berpikir kalau bisa dua tahun yah dua tahun deh untuk tidak ejakulasi. Aku memberi semangat untuk pada diriku sendiri untukm mencapai ejakulasi. Tapi aku juga benar-benar kacau, bahuku pegel sekali. Semakin aku coba untuk ejakulasi semakin aku tidak merasa apa-apa.

Pada saat-saat aku berpikir seperti itu, tiba-tiba Anya berbisik rancu, “Vi, tolong lepasin punya Anya, Vi. Keluarin punya Anya, Vi.” Ya, Anya melakukannya lagi. Dia merasa seperti memiliki batang kemaluan yang ada di tubuhku. Entah kenapa aku merasa terangsang sekali. Erotis sekali dengar dan membayangkan maksudnya, bahwa aku terbayang saja memiliki batang kemaluan Anya. Aku sih nafsu saat itu, tidak tahu deh kalau yang lain. Sudah begitu, Anya terus mengulangi kalimat-kalimat seperti itu sambil menatap sayu mataku. Bagaimana tidak tambah hormonku naik ke kepala dengan kalimat-kalimat seperti, “Vi, kontolin Anya Vi. Tolong, please. Anya penuh dengan kontol kamu sayang.” Ih, baru dengar aku Anya ngomong jorok gitu. Tapi kalau dipikir-pikir ngomong jorok di tempat tidur tuh nafsuin loh.

Aku hanya bisa menjawab dengan mulut yang lebih bersuara ngos-ngosan, merapat dan menumpuk dada Anya, lalu memacu dengan irama yang cepat. Banyak sekali yang membikin aku terangsang berat. Selain Anya yang kini merem dan menengadah ke atas, juga bunyi penyatuan kelaminku bisa terdengar begitu. Lucu yah bunyinya. Lucu yah karena ada loh yang mirip suara buang angin, hihihi. Tapi waktu itu, aku benar-benar nafsu pokoknya. Tetap saja aku tidak mau kalah untuk terus menatapnya. Soalnya kosa kata dan wajah Anya benar-benar sudah tidak karuan sekarang. Antara bicara, desahan, desisan, raut wajah menangis yang diulang-ulang. Soalnya hal yang sama juga kulakukan. Gilaaa, enak yah bersetubuh, hihihihi. Bersenggama dengan saling menatap pasangan.

Ah, aku malu kasih lihat ekspresi mukaku. Aku menunduk di samping kuping Anya. Aku mendesah kenikmatan di samping telingannya terpotong-potong oleh desahan nafas yang memburu. “Alvi keluar sayang. Alvi sayang kamu.” Kenapa juga aku pilih kalimat itu di saat-saat seperti puncak birahiku. Detik-detik yang membuat kesadaranku melemah dan melayang. Aku cuma sempat dengar Anya berbisik pelan, “Keluarin Vi, iya basahin Anya dengan punya kamu. Keluarin Vi, keluarin.” Terus yang bersisa hanya desahan nafas yang mulai tertib. Anya masih ingin tubuhku di atasnya dan menikmati suasana ketelanjangan yang hening itu. Di keheningan itu, aku masih sempat-sempatnya saja ingat, anjingku belum aku kasih makan. Eh, kalau hamil bagaimana yah. Malas banget ‘kan.

Aku mulai menidurkan diri di sampingnya, sebelum menarik selimut untuk mengusir dingin. Anya seperti meringkuk ngantuk tersenyum. Aku mulai melantur saja ah, pikirku, “Hmm… Nya, makasih, aku hutang banyak perasaan untuk kebaikan budi kamu.” Kukecup keningnya, tapi sebelum aku sempat bicara lagi, Anya menutup bibirku, “Anya sayang kamu tau,” sambil memelukku tersenyum dan terpejam. Setelah bengong lama tentang bahuku yang bena-benar pegal sekali, aku juga sempat memikirkan kebodohanku. Kebodohanku yang berbeda dengan pria lain dalam memandang bagaimana memperlakukan seorang wanita. Bahkan aku sendiri juga tidak tahu kalau ditanya Anya masih perawan atau tidak. Jawabanku adalah, aku tidak peduli. Kadang kupikir lucu juga, aku jarang berpikir jorok untuk mendapat kehormatan meniduri Anya, tetapi Anya kini di sampingku tertidur.

Mungkin ini hadiah atau justru malah sebuah karma. Aku tidak pernah menemukan di pasar tentang kalung keberuntungan dalam hal bercinta. Nasib cintaku dengan Anya bubar juga karena di luar faktor kami berdua. Cerita cinta sederhana dari sebuah titik kehidupan, dan tidak berakhir dengan happy ending. Tapi siapa juga yang butuh happy ending, karena aku tahu kisahku tidak berakhir hanya karena kami tidak pacaran lagi. Walau kadang aku ingin berhenti untuk percaya bahwa kata-kata “Aku sayang kamu” adalah lebih tampak sebuah kalimat perpisahan yang tertunda. Aku realistis dengan tidak bilang aku masih mencintainya, tidak. Aku cuma bilang, aku sering memikirkannya di saat-saat tertentu. Bukan karena aku meniduri dia, bukan juga karena dia model. Cuma dia yang menyakinkanku dengan rentetan kalimat-kalimatnya, yang aku terjemahkan. Kira-kira begini, “Kamu tuh nyenengin tau kalau lagi bodoh,” atau “Alvi, sudah terlalu banyak pria pintar di dunia ini, sampai mereka semua kadang tidak tahu lagi bagaimana harus membodohkan dirinya.” Atau kadang dia senyum-senyum sok antusias berfilosofis, “Aku buat logika sederhana (dengan mulut dimonyongkan, kesan angkuh sambil mengangkat telunjuknya ke atas serasa dapat inspirasi surgawi). Untuk pintar kita harus bodoh dulu, dan untuk menjadi bodoh kita yah harus pintar dulu. Berarti kamu tuh…” katanya tersenyum menunggu komentarku. Aku teriak, “Tidaakkk…” lalu berhambur lari menghilang bercanda. Aku mengenang hal-hal bodoh seperti itu. Bahkan sampai sekarang, aku sering tersenyum dalam hati bahwa menyenangkan juga jadi pria bodoh. Yang pasti itu melepaskan segala beban tentang idealisme bagaimana menjadi seorang pria.

Bayangkan, saat di mall, ada wanita cantik dan aku ingin tahu saja namanya. Aku bisa dengan bodohnya berkata, “Mbak, sorry saya ganggu, saya tahu waktunya amat tidak tepat juga tidak sopan. Saya hanya ingin berkenalan dengan cewek tapi tidak tahu caranya, punya ide? saya merasa. (Aku jelaskan segala ketakutanku). Memang sebenarnya bagaimana sih cara yang gentle untuk itu?” (Sempatkanlah tanya namanya). (Kuperhatikan sekali kalau ada tanda-tanda penolakan, lebih baik lepaskanlah permainannya). Lalu setelah selesai, kupuji-puji ide dia itu seburuk apapun jawabannya, lalu aku bilang aku mau pulang. “Loh katanya mau kenalan, kok pulang?” tanyanya. “Khan saya sudah tahu nama kamu,” kataku ngeluyur pergi sok manis. Memang cuma itu saja sih mauku, bukan mau tidur dengan itu perempuan. Kalaupun tujuan kamu untuk itu yah aku punyalah kesempatan lebih besar. Kelak aku ketemu lagi, nilai kesan pertamaku itu sudah punya rating tinggi. Tebakanku saja sih. Kalau ketemu lagi syukur, tidak ketemu ya sudah.

cerita seks sex Akibat Hujan Dan Angin

cerita seks sex Akibat Hujan Dan Angin

Sebelumnya saya akan memberitahu bahwa cerita ini terjadi sebelum saya mengenal lebih dalam soal internet. Hanya luarnya saja. Ketika itu saya masih kursus di sebuah lembaga sebut saja ITK (bukan universitas). Saat itu saya masih belum begitu kenal dengan internet, dan saya masih dalam taraf pemula dan baru sampai dalam soal hardware. Sejak berkenalan dengan seorang teman di ITK saya mulai mengenal apa itu internet. Dan saya suka sekali pergi ke warnet dan hampir tiap hari saya berada di sana. Semakin lama saya suka sekali ber-chatting ria sampai suka lupa waktu dan pulang malam hari.

Pada hari sabtu, saya seperti biasa suka nongkrong di warnet mulai jam 18:00, dan saya langsung mengecek e-mail. Setelah selesai saya suka browsing sambil chat. Pada saat itu hujan deras mengguyur seisi kota disertai angin. Pada saat saya membeli minuman (di dalam warnet), saya melihat dua orang gadis yang memasuki warnet. Mereka terlihat basah kuyup karena kehujanan, dan ketika itu mereka mengenakan kaos warna putih dan biru (cewek yang satunya), dan celana pendek. Dari balik kaos putih basah itu saya bisa melihat sebuah BH warna merah muda, juga sepasang payudara montok agak besar. Saya kembali ke meja dan melihat mereka berdua menempati meja di depan saya. Sambil menunggu jawaban dari chat, saya mencuri pandang pada dua gadis itu. Semakin lama saya lihat saya tidak bisa konsentrasi, mungkin karena cara duduk mereka yang hanya mengenakan celana pendek itu, sehingga terlihat paha putih mulus dan juga sepasang buah dada dalam BH yang tercetak jelas akibat baju yang basah.

Pada jam 20:00, listrik di warnet itu padam. Para penjaga warnet terlihat sibuk memberitahu bahwa listrik akan segera menyala dan meminta agar netter sabar. Tetapi 30 menit berlalu dan tidak ada tanda-tanda bahwa listrik akan menyala sehingga sebagian netter merasa tidak sabar dan pulang. Sedangkan saya masih di dalam warnet dan ingin ikut pulang, tapi saya tidak bisa karena di luar hujan masih deras dan saya hanya membawa motor. Begitu juga dengan 2 gadis di depan saya, mereka sudah membayar uang sewa dan tidak bisa pulang karena hujan masih deras. Mereka hanya bisa duduk di sofa yang disediakan pihak warnet (sofa yang digunakan untuk netter apabila warnet sudah penuh dan netter bersedia menunggu), wajah mereka tampak gelisah terlihat samar-samar akibat emergency light yang terlampau kecil, mungkin karena sudah malam dan takut tidak bisa pulang.

Melihat kejadian itu saya tidak tega juga, apalagi hawa menjadi dingin akibat angin yang masuk dari lubang angin di atas pintu. Saya pun mendekati mereka dan duduk di sofa. Ternyata mereka enak juga diajak ngobrol, dari situ saya mengetahui nama mereka adalah, Tuti (baju putih) dan Erni (baju biru). Lagi enak-enaknya ngobrol kami dikejutkan oleh seorang cewek yang masuk ke dalam sambil tergesa-gesa. Dari para penjaga yang saya kenal, cewek tadi adalah pemilik warnet. Saya agak terkejut karena pemilik warnet ini ternyata masih muda sekitar 25 tahun, cantik dan sexy. Cewek tadi menyuruh para penjaga pulang karena listrik tidak akan nyala sampai besok pagi.

Setelah semua penjaga pulang, cewek tadi menghampiri kami.
“Dik, Adik bertiga di sini dulu aja, kan di luar masih hujan, sekalian nemenin Mbak ya..” kata cewek yang punya nama Riyas ini. Kemudian berjalan ke depan dan menurunkan rolling door.
“Saya bantu Mbak,” kataku.
“Oh, nggak usah repot-repot..” jawabnya. Tapi aku tetap membantunya, kan sudah di beri tempat berteduh. Setelah selesai aku menyisakan satu pintu kecil agar kalau hujan reda aku bisa lihat.
“Ditutup saja Dik, dingin di sini..” kata Riyas, dan aku menutup pintu itu. Entah setan mana yang lewat di depanku, otak ini langsung berpikir apa yang akan terjadi jika ada tiga cewek dan satu pria dalam sebuah ruangan yang tertutup tanpa orang lain yang dapat melihat apa yang sedang terjadi di dalam. Aku kembali duduk di sofa sambil berbincang dengan mereka bertiga jadi sekarang ada empat orang yang tidak tahu akan berbuat apa dalam keremangan selain berbicara.
“Sebentar ya Dik, saya ke atas dulu, ganti baju..” kata Riyas.
Aku bertanya dengan nada menyelidik, “Mbak tinggal di sini ya?”
“Iya, eh kalian di atas aja yuk supaya lebih santai, lagian baterai lampu sudah mau habis, ya..” katanya.

Kami bertiga mengikuti Mbak Riyas ke atas. Warnet itu terdapat di sebuah ruko berlantai tiga, lantai satu dipakai untuk warnet, lantai dua dipakai untuk gudang dan tempat istirahat penjaga, lantai tiga inilah rumah Riyas. Menaiki tangga ke lantai tiga, terdapat sebuah pintu yang akan menghentikan kita apabila pintu tidak dibuka, setelah masuk kami tidak merasa berada di sebuah ruko tapi di rumah mewah yang besar, kami disuruh duduk di ruang tamu. Riyas bilang dia akan mandi dan menyalakan sebuah notebook agar kami bertiga tidak bosan menunggu dia mandi.

Ternyata notebook itu tidak memiliki game yang bisa membuat kami senang. Tapi aku sempat melihat shortcut bertuliskan 17Thn (ketika itu masih 17tahun.zip), aku menduga ini adalah permainan, ketika kubuka ternyata isinya adalah cerita yang membuat adikku berdiri. Tuti dan Erni pun agak malu melihat cerita-cerita itu. Tapi yang membuat aku tidak tahan adalah mereka tidak memperbolehkan aku menutup program itu dan mereka tetap membaca cerita itu sampai habis. Aku pun hanya bisa terbengong melihat mereka berada di kiri dan kananku. Setelah selesai membaca, Tuti merapatkan duduknya dan aku bisa merasakan benda kenyal menempel di lengan kananku. Erni pun mulai menggosokkan telapak tangannya ke paha kiriku. Sambil mereka melihat cerita yang lain, aku merasakan sakit di dalam celanaku. Aku sudah tidak bisa konsentrasi pada cerita itu, mereka semakin menjadi-jadi, bahkan Tuti membuka kaosnya dengan alasan merasa panas, sedangkan Erni membuka kaosnya dengan alasan kaosnya basah dan takut masuk angin. Aku merasa panas juga melihat tubuh mereka, sambil membetulkan posisi adik, aku mengatakan kalau hawanya memang panas dan aku membuka baju juga.

Kini tangan mereka berdua dirangkulkan di tengkukku, aku semakin panas karena lenganku merasa ada dua benda kenyal yang menghimpit tubuhku dari kiri dan kanan. Akhirnya jebol juga iman ini, aku menaruh notebook itu di meja di depanku dan aku menciumi Tuti dengan nafsu yang sudah memuncak, Tuti pun tak mau kalah sama seranganku, dia membalas dengan liar. Sedangkan Erni sibuk menciumi dan menjilati dadaku. Tangan kiriku kulingkarkan pada Erni dan mulai meremas buah dada yang masih tertutup BH itu, sedangkan tangan kananku kulingkarkan di tubuh Tuti dan memasukkan ke dalam BH dan meremas buah dadanya. Erni mulai membuka celanaku dan menghisap penis yang sudah tegang itu.

“Ouhh.. mmmhh.. yahhh..” aku mulai menikmati jilatan Erni pada kepala penisku. Tuti pun jongkok di depanku dan menjilat telurku. Aku hanya bisa pasrah melihat dan menikmati permainan mereka berdua. Kemudian Riyas keluar dari kamar dengan selembar handuk menutupi tubuh, dia menarik meja di depanku supaya ada cukup tempat untuk bermain. Riyas berlutut sambil membuka celana Tuti. Setelah celana Tuti lepas, dia mulai menghisap vagina Tuti. “Ooohh.. Ssshh.. ahh..” Tuti mendesah. Tak lama kemudian Tuti membalikkan tubuhnya dan sekarang posisi Riyas dan Tuti menjadi “69”. Aku pun sudah tak tahan lagi, segera kuangkat Erni dan membaringkannya di lantai dan membuka celananya. Setelah terbuka aku langsung menghisap vagina yang sedang merah itu. “Auuhh.. Ooohh.. Sayang..” desahan Erni semakin membuatku bernafsu.

Dengan segera aku mengarahkan penisku ke vagina Erni, dan mulai menusukkan secara perlahan. Erni merasa kesakitan dan mendorong dadaku, aku menghentikan penisku yang baru masuk kepalanya itu. Selang agak lama Erni mulai menarik pinggangku agar memasukkan penis ke vaginanya, setelah masuk semua aku menarik perlahan-lahan dan memasukkannya kembali secara perlahan-lahan. “Ahhh.. ayo Sayang.. ohhh.. cepat..” Aku pun mulai mempercepat gerakanku. Dari tempatku terlihat Tuti dan Riyas saling menggesek-gesekkan vagina mereka. “Auuhhh.. ooouuhh.. iyahhh.. yahh.. ssshh.. hhh..” desahan Erni berubah menjadi teriakan histeris penuh nafsu.

Tak lama kemudian Erni mencapai orgasme, tapi aku terus menusukkan penis ke arah vagina Erni. “Gantian donk, aku juga pingin nih..” kata Tuti sambil menciumi bibir Erni. Aku pun menarik penisku dan mengarahkan ke vagina Tuti setelah dia telentang. Ketika penisku masuk, vaginanya terasa licin sekali dan mudah sekali untuk masuk, rupanya dia telah mengalami orgasme bersama Riyas. Tampaklah Erni dan Riyas tertidur di lantai sambil berpelukan. Sedangkan aku terus menggenjot tubuh Tuti sampai akhirnya Tuti sudah mencapai puncak dan aku merasakan akan ada sesuatu yang akan keluar. “Aahhh..” suara yang keluar dari mulutku dan Tuti. Akhirnya kami berempat tertidur dan pulang pada esok paginya. Setelah kejadian itu aku tidak pernah bertemu dengan Tuti dan Erni. Riyas sekarang sudah menikah dan tetap tinggal di ruko itu. Sedangkan aku masih sibuk dengan urusan kerja dan tidak pernah ke warnet itu lagi karena sudah ada sambungan internet di rumahku.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.